Oleh: Irfandi R. Hi Mustafa – Dosen Pendidikan IPS Unutara
ADA yang keliru dari persepsi publik tentang etos kerja. Selama ini kita terlalu terpesona pada etos kerja etnis Jawa yang halus dan ulet, atau etos kerja etnis Minang yang gigih merantau. Padahal, di sudut timur Indonesia, tepatnya di Pulau Makian Maluku Utara, tersimpan sebuah etos ketabahan yang tak kalah hebat: etos Orang Taba.
Ya, Orang Taba sebutan bagi masyarakat yang mendiami sisi timur Pulau Makian yang memiliki filosofi hidup melekat pada nama mereka sendiri. “Taba” berarti “di dalam” atau “orang darat”, namun lebih dari sekadar identitas geografis, kata itu merekam jejak panjang ketabahan menghadapi kerasnya hidup di kampung halaman yang ternyata menyimpan ancaman di perutnya .
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tabah di Atas Puing
Bayangkan hidup di pulau yang tidak pernah benar-benar aman. Pulau Makian dikenal sebagai salah satu daerah dengan aktivitas vulkanik tinggi di Maluku Utara. Letusan demi letusan telah berkali-kali memaksa Orang Taba mengungsi, meninggalkan kebun, rumah, dan kubur leluhur. Namun mereka selalu kembali. Atau jika tak kembali, mereka membawa “Taba“nya ke tempat rantau, ke Halmahera, ke Kayoa, Obi, hingga ke pelosok negeri.
Ketabahan inilah yang luput dari riset Karjo Nalu tentang “Transformasi Etos Kerja Etnis Jawa Terhadap Etnis Makian” di Desa Koli . Riset itu memang hendak menggambarkan bagaimana etos kerja etnis Makian bertransformasi setelah bertemu etnis Jawa di permukiman transmigrasi. Namun pertanyaannya, apakah etos kerja Orang Taba memang perlu ditransformasi? Atau justru kita yang gagal membaca etos mereka karena terlalu sibuk mengukur dengan kacamata etos kerja modern ala Jawa atau Barat?
Coba lihat ritual “Palpolas” dalam upacara kematian Orang Taba. Dalam ritual ini, keluarga pewaris ritual berjudi simbolik dengan masyarakat umum saat “Palpolas“—semacam arena taruhan simbolis di mana pemilik ritual berusaha menunjukkan prestise sosial dengan meminimalkan utang publik yang harus dilunasi, sementara masyarakat ingin menunjukkan simbol dominasi dengan menyetorkan uang Palpolas lebih dari sekali . Ini bukan sekadar soal uang. Ini adalah mekanisme sosial yang rumit, di mana ketabahan diuji melalui solidaritas dan prestise komunal.
Sementara ritual “Arwah Nimaliling” yang dipusatkan di mesjid pada malam ke-27 Ramadan, dengan obor dinyalakan di kubur, rumah, dan jalan desa, memperlihatkan bagaimana ketabahan spiritual Orang Taba menyatukan penghormatan pada leluhur dengan keyakinan Islam . Mereka tidak gamang di tengarai dua kutub spiritual. Justru di situ letak ketabahan: mampu merajut benang tradisi dan iman menjadi tenunan yang utuh.
Etos yang Tak Kasatmata
Sayangnya, jenis etos semacam ini sulit diukur dalam kuantifikasi modern. Kita lebih mudah menghitung berapa jam kerja, berapa hektare sawah digarap, berapa ton hasil panen, sebagaimana riset transformasi etos kerja di Desa Koli mencoba memotong realitas sosial dengan pisau ukur yang mungkin tak tepat.
Ketika etos kerja didefinisikan sempit sebagai kemampuan berproduksi ala kapitalisme, maka ketabahan Orang Taba akan selalu kalah. Mereka bukan tipe manusia yang tergopoh-gopoh mengejar akumulasi materi. Mereka adalah manusia yang memilih bertahan di kampung leluhur meski bumi di bawah kaki bisa berguncang kapan saja. Mereka adalah manusia yang merantau tapi tak putus menghidupkan ritual sebagai simpul pengikat kampung.
Bahkan di arena “Palpolas” yang oleh Santri Sahar dan Dewi Anggariani disebut sebagai arena taruhan simbolik, tersirat sebuah pesan: bahwa Orang Taba membangun relasi sosial di atas prinsip timbal balik yang justru memperkuat kohesi, bukan sekadar akumulasi modal dalam pengertian Bourdieu-an . Mereka bertaruh untuk harga diri kolektif, bukan untuk kekayaan personal.
Menimbang Ulang Etos Ketimuran
Sudah saatnya kita merebut kembali kata “etos” dari cengkeraman definisi sempit. Orang Taba mengajarkan bahwa etos bukan sekadar kerja keras yang menghasilkan produk kasatmata. Etos juga tentang keberanian bertahan di tengah ancaman, tentang kemampuan merawat tradisi di tengah gempuran modernitas, dan tentang kekuatan membangun solidaritas di atas simbol-simbol yang mungkin tak dipahami orang luar.
Di Desa Koli, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan, pertemuan etnis Jawa dan etnis Makian di unit permukiman transmigrasi memang melahirkan transformasi—itu wajar . Namun transformasi tak harus dimaknai sebagai perbaikan dari yang kurang menjadi lebih. Mungkin transformasi itu justru terjadi dua arah: etnis Jawa belajar ketabahan dari Orang Taba, sementara Orang Taba menyerap kegigihan bekerja ala Jawa.
Tapi sampai kapan kita terus memposisikan etos lokal sebagai objek yang perlu ditransformasi oleh etos Jawa atau etos modern? Bukankah Indonesia terlalu kaya untuk terus dipaksa masuk ke dalam satu ukuran etos kerja?
Orang Taba mungkin tak akan pernah tercatat dalam buku-buku manajemen sebagai etos kerja unggulan. Mereka tak akan diundang ke seminar-seminar motivasi untuk membagi rahasia sukses. Namun ketika gempa mengguncang, ketika gunung meletus, ketika abu vulkanik menutupi seluruh pulau, mereka yang pertama bangkit, membersihkan puing, dan kembali menanam. Lalu kita masih berani bilang mereka kurang etos kerja?
“Taba” adalah etos ketabahan yang tak lekang oleh letusan, tak luntur oleh rantau, dan tak silau oleh modernitas. Sudah saatnya kita belajar tabah dari Orang Taba, bukan mengajari mereka cara kerja ala kita.(*)











