Absensi Negara dan Dominasi Oligarki sebagai Reinkarnasi Politik Dinasti

- Penulis Berita

Selasa, 8 Juli 2025 - 16:35 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Arfandi latifAnggota Forum Insan Cendikia (FIC) Maluku Utara dan Mahasiswa Hukum Unkhair Ternate

DALAM lanskap politik Indonesia hari ini, kita menyaksikan gejala yang cukup mencemaskan negara hadir tanpa daya di hadapan oligarki, dan arus kekuasaan politik mengalir dalam darah-darah keluarga sehingga membentuk apa yang disebut sebagai reinkarnasi politik dinasti. Negara tampak absen bukan dalam arti tidak ada secara fisik, tetapi kehilangan fungsinya sebagai pelindung kepentingan rakyat, dan justru melayani kepentingan elite terbatas.

Oligarki bukan sekadar penguasa ekonomi yang mempengaruhi politik, tetapi juga aktor utama master main yang mengendalikan sumber daya negara demi kepentingan golongan tertentu. Mereka menjalin patronase dengan elit partai, mendanai kampanye politik, dan mengatur kebijakan melalui jejaring kekuasaan. Ini adalah bentuk nyata dari apa yang disebut Jeffrey Winters sebagai predatory oligarchy ketika kekuasaan digunakan untuk melanggengkan kekayaan, dan kekayaan digunakan untuk memperkuat kekuasaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih berbahaya lagi, oligarki hari ini menjelma dalam format yang semakin diterima: politik dinasti. Anak pejabat menjadi pejabat, ipar menjadi kepala daerah, menantu menjadi anggota DPR. Praktik ini dilegitimasi oleh regulasi yang longgar dan budaya yang permisif. Alih-alih mencegah konsentrasi kekuasaan, sistem justru membuka ruang selebar-lebarnya bagi politik kekerabatan.

Absennya negara juga terlihat dari kegagalannya membangun sistem meritokrasi yang adil. Dalam negara demokratis, kekuasaan seharusnya lahir dari kapasitas dan kepercayaan publik, bukan dari silsilah keluarga. Namun kenyataannya, mesin partai lebih memilih loyalitas keluarga ketimbang kompetensi. Akibatnya, regenerasi politik tersumbat dan rakyat kehilangan alternatif politik yang sejati.

Bahaya utama dari reinkarnasi politik dinasti melalui oligarki adalah pudarnya harapan terhadap demokrasi itu sendiri. Demokrasi, yang sejatinya membuka ruang partisipasi luas, kini menyempit dalam lingkaran eksklusif. Ini bukan hanya pengkhianatan terhadap prinsip kedaulatan rakyat, tapi juga bentuk pengambilalihan negara oleh segelintir orang.

Dominasi dalam demokrasi Indonesia memang secara formal menjunjung tinggi prinsip kedaulatan rakyat, namun pada praktiknya, proses politik sering dikendalikan oleh oligarki sekelompok kecil pemilik modal yang mendanai partai politik dan mempengaruhi segala kebijakan. Contohnya dalam kontestasi pemilu, atau “hajatan demokrasi” yang sering ditunggu-tunggu, partai politik menggantungkan diri pada donasi besar dari korporasi atau elite bisnis. Setelah terpilih, banyak pejabat publik “membalas” investasi itu lewat kebijakan yang pro-pasar dan pro-investor, namun seringkali mengabaikan lingkungan, petani, dan masyarakat adat.

Di tengah situasi ini, pentingnya kesadaran kelas menjadi mendesak. Bukan ilusi representasi belaka. Salah satu tantangan utama adalah false consciousness kesadaran palsu yang membuat rakyat tetap percaya bahwa mereka diwakili oleh elite politik, padahal yang sejatinya terjadi adalah pelayanan terhadap kelas pemilik modal. Tanpa kesadaran akan struktur penindasan ini, perubahan hanya akan menjadi ilusi.

Perjuangan kelas dalam bentuk gerakan rakyat, advokasi hak-hak minoritas, dan kontrol terhadap kekuasaan adalah jalan terakhir untuk mengakhiri dominasi ini. Sudah saatnya publik lebih peka dan kritis terhadap praktik politik yang mengabdi pada dinasti dan oligarki. Regulasi harus lebih ketat terhadap politik dinasti. Partai politik harus dikembalikan pada fungsinya sebagai ruang kaderisasi bukan klub keluarga elite.

Negara harus kembali hadir, bukan sebagai alat pemuas oligarki, tetapi sebagai pelindung demokrasi yang sejati. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Post-Truth dan Matinya Nalar Kritis Publik
Paradoks Program IMS-ADIL Antara Pendidikan Gratis vs Umroh Gratis
Dari Cangkul ke Ekskavator: Krisis Identitas dan Ekologi di Balik Ekspansi Tambang di Maluku Utara
Geothermal dalam Masyarakat Risiko: Kritik Political Ecology atas Ilusi Energi Hijau
“Taba”: Etos Ketabahan Orang Makian
Pendidikan di Era Modern: Menyelaraskan Inovasi Teknologi dengan Nilai Kemanusiaan
Agar Tak Bingung Saat Di Tanya, Mahasiswa Paham Arah Kampusnya
Kampus Tumbuh Dari Dialog, Bukan Dari Ketakutan.
Berita ini 56 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 3 April 2026 - 16:13 WIT

Untuk Menjaga Stabilitas, Rampai Nusantara Malut Dorong Pembentukan Pos Keamanan

Jumat, 3 April 2026 - 11:59 WIT

Terbongkar! 7 Hektare Lahan Diduga Dijual Tanpa Sepengetahuan Pemilik, GMNI dan BARAH Ungkap Fakta Lapangan

Kamis, 2 April 2026 - 07:45 WIT

Warga Halsel Keluhkan Pelayanan Tiket KM Satria 99 Expres, Diduga Tidak Transparan

Kamis, 2 April 2026 - 06:24 WIT

Israel Sahkan UU Hukuman Mati bagi Tahanan Palestina, Ketua Umum PB PII: Indonesia Harus Serukan Penolakan

Senin, 30 Maret 2026 - 01:39 WIT

Tes Kemampuan Akademik di Ponpes Salafi’iyah Al Khairaat Maffa Berjalan Lancar

Rabu, 25 Maret 2026 - 14:45 WIT

Alimusu Polisikan PT TBP (Harita Group) dan Kades Kawasi, Barah–GMNI Turun Gunung Kawal Dugaan Mafia Lahan

Rabu, 25 Maret 2026 - 09:52 WIT

Alimus Tempuh Jalur Hukum, Dugaan Penyerobotan Lahan dan Penipuan Dilaporkan ke Polres Halsel

Selasa, 24 Maret 2026 - 09:47 WIT

BKM Masjid Nur Insani Gelar Sholat Idul Fitri 1447 H, Angkat Tema Kemenangan dan Kebaikan

Berita Terbaru