Lahan Belum Dibayar, Warga Palang Bendung Harita Group di Obi, Dugaan Permainan LA Bikin Konflik Berlarut

- Penulis Berita

Rabu, 28 Januari 2026 - 12:42 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OBI, Nalarsatu.com – Sejumlah ahli waris lahan memalang lokasi pembangunan bendung milik Harita Group di Desa Kawasi, Kilo 4 Sungai Akelamo, Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Selasa (28/1/2026). Aksi tersebut membuat seluruh aktivitas perusahaan lumpuh total, termasuk pekerjaan para karyawan yang sedang berlangsung di lokasi.

Pantauan Nalarsatu.com di lapangan menunjukkan, aksi pemalangan berlangsung selama kurang lebih dua jam, sejak pukul 14.00 WIT hingga 16.15 WIT. Setelah menyampaikan tuntutan secara terbuka, para ahli waris kembali ke Desa Kawasi.

Dalam aksi tersebut, massa berteriak menyuarakan tuntutan keadilan dan memasang papan pemalangan di akses masuk bendung bertuliskan:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Dilarang Beraktivitas Sebelum Ada Penyelesaian atau Pembayaran dengan Pemilik Lahan.”

Pemilik Lahan

Para ahli waris menegaskan, pemalangan dilakukan karena persoalan ganti rugi lahan yang sejak 2022 tidak pernah diselesaikan, meski pembangunan bendung terus berjalan. Seluruh karyawan yang berada di lokasi diminta menghentikan pekerjaan dan meninggalkan area proyek.

Berdasarkan keterangan para ahli waris, lahan seluas sekitar 7,5 hektare yang kini digunakan sebagai lokasi bendung merupakan lahan milik warga Obi di Kilo 4 Sungai Akelamo. Lahan tersebut telah dikelola turun-temurun oleh keluarga mereka jauh sebelum aktivitas industri masuk ke Pulau Obi.

Sebelum adanya proyek bendung, lahan tersebut merupakan kebun kelapa produktif yang menjadi sumber utama penghidupan keluarga, dengan hasil panen mencapai 3 hingga 4 ton per musim. Kepemilikan lahan tersebut diwariskan kepada 12 orang ahli waris.

Karyawan

Persoalan mulai mencuat pada tahun 2022, saat aktivitas pengeboran, pembangunan bendung, serta pengalihan aliran sungai dilakukan. Namun, menurut ahli waris, tidak pernah ada penyelesaian ganti rugi yang tuntas, meski lahan sudah digunakan dan mengalami kerusakan.

Dalam setiap pertemuan, pihak perusahaan melalui tim LA disebut selalu menjanjikan penyelesaian, namun tidak pernah direalisasikan hingga kini.

Yamin Hasan, salah satu ahli waris, menilai persoalan lahan sengaja dibiarkan berlarut-larut oleh pihak LA. Ia menduga ada kepentingan tertentu yang membuat penyelesaian tidak kunjung dilakukan.

“Kami sudah tidak toleransi lagi. Semakin kami diam, semakin kami dianggap remeh. Janji penyelesaian dari pihak LA ini sudah diulang berkali-kali, tapi tidak pernah ada realisasi,” tegas Yamin di lokasi.

Menurutnya, pendekatan yang dilakukan pihak LA terkesan hanya untuk menenangkan warga, sembari proyek tetap berjalan. Bahkan, harga ganti rugi yang ditawarkan dinilai tidak masuk akal dan jauh dari nilai ekonomis lahan.

Sementara itu, Ilham Hasan, ahli waris lainnya, menyebut pihak LA Harita menawarkan harga ganti rugi sebesar Rp6.000 per meter persegi, nilai yang dianggap tidak manusiawi dan tidak sebanding dengan luas serta produktivitas lahan.

“Harga Rp6.000 per meter itu mau dipakai untuk apa? Ini lahan 7,5 hektare, 12 ahli waris, kebun kelapa produktif. Kami menduga ada permainan di level LA,” ujar Ilham Rabu (28/1).

Ilham menambahkan, sejak 2022 hingga 2026, keluarga telah 11 kali mendatangi lokasi dan pihak perusahaan. Namun setiap kali itu pula, mereka hanya mendapat alasan klasik bahwa penyelesaian masih menunggu keputusan manajemen pusat di Jakarta.

“Kalau kami terus menunggu, lahan dan tanaman kami habis. Bendung jalan terus, lahan kami rusak, tapi hak kami digantung,” katanya.

Selain belum dibayar, pembangunan bendung juga menyebabkan kerusakan serius pada lahan warga. Pengalihan aliran sungai membuat kebun kelapa tergerus banjir dan sebagian besar tanaman tumbang.

Ironisnya, saat warga menuntut hak mereka, kehadiran aparat keamanan justru lebih sering dirasakan sebagai bentuk tekanan terhadap pemilik lahan.

“Lahan kami dipakai, bendung dibangun, lingkungan rusak. Tapi ketika kami menuntut hak, yang datang aparat. Kami diperlakukan seolah-olah penjahat atau teroris,” ungkap Ilham.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Harita Group, khususnya tim Land Acquisition, belum memberikan keterangan resmi terkait tudingan ahli waris mengenai dugaan permainan ganti rugi lahan dan mandeknya penyelesaian sejak 2022.

Redaksi Nalarsatu.com masih berupaya mengonfirmasi pihak perusahaan untuk mendapatkan penjelasan berimbang. (red)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Warga Halsel Keluhkan Pelayanan Tiket KM Satria 99 Expres, Diduga Tidak Transparan
Israel Sahkan UU Hukuman Mati bagi Tahanan Palestina, Ketua Umum PB PII: Indonesia Harus Serukan Penolakan
Tes Kemampuan Akademik di Ponpes Salafi’iyah Al Khairaat Maffa Berjalan Lancar
Datangi Bupati dan DPRD Halsel Senin Besok, Keluarga Alimusu Mencari Keadilan
Alimusu Polisikan PT TBP (Harita Group) dan Kades Kawasi, Barah–GMNI Turun Gunung Kawal Dugaan Mafia Lahan
Alimus Tempuh Jalur Hukum, Dugaan Penyerobotan Lahan dan Penipuan Dilaporkan ke Polres Halsel
BKM Masjid Nur Insani Gelar Sholat Idul Fitri 1447 H, Angkat Tema Kemenangan dan Kebaikan
Lebaran Beda Tanggal, Warga Moloku Rayakan 20 Maret, Pemerintah dan NU 21 Maret
Berita ini 139 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 07:45 WIT

Warga Halsel Keluhkan Pelayanan Tiket KM Satria 99 Expres, Diduga Tidak Transparan

Kamis, 2 April 2026 - 06:24 WIT

Israel Sahkan UU Hukuman Mati bagi Tahanan Palestina, Ketua Umum PB PII: Indonesia Harus Serukan Penolakan

Senin, 30 Maret 2026 - 01:39 WIT

Tes Kemampuan Akademik di Ponpes Salafi’iyah Al Khairaat Maffa Berjalan Lancar

Minggu, 29 Maret 2026 - 11:56 WIT

Datangi Bupati dan DPRD Halsel Senin Besok, Keluarga Alimusu Mencari Keadilan

Rabu, 25 Maret 2026 - 09:52 WIT

Alimus Tempuh Jalur Hukum, Dugaan Penyerobotan Lahan dan Penipuan Dilaporkan ke Polres Halsel

Selasa, 24 Maret 2026 - 09:47 WIT

BKM Masjid Nur Insani Gelar Sholat Idul Fitri 1447 H, Angkat Tema Kemenangan dan Kebaikan

Kamis, 19 Maret 2026 - 22:56 WIT

Lebaran Beda Tanggal, Warga Moloku Rayakan 20 Maret, Pemerintah dan NU 21 Maret

Rabu, 18 Maret 2026 - 13:02 WIT

KB PII Halsel Gandeng FIC, Warkop, dan OSIS Se-Bacan Berbagi Takjil dan Buka Puasa Bersama

Berita Terbaru

Opini

Post-Truth dan Matinya Nalar Kritis Publik

Kamis, 26 Mar 2026 - 04:27 WIT