Praktisi Hukum Desak Usut Tuntas Dugaan Korupsi Bansos, Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) Halsel

- Penulis Berita

Senin, 26 Mei 2025 - 06:22 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HALSEL,Nalarsatu.com – Dugaan penyalahgunaan bantuan sosial (bansos) berupa Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) oleh oknum pendamping di Kabupaten Halmahera Selatan menuai sorotan tajam dari berbagai pihak, termasuk praktisi hukum.

Selama enam bulan, terhitung dari Juli hingga Desember 2024, warga tidak menerima hak mereka senilai Rp1.200.000 per Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Padahal, nama-nama mereka tercantum jelas dalam daftar resmi dari Kementerian Sosial RI. Namun, dana bantuan itu tak pernah sampai ke tangan penerima.

Sejumlah warga yang merasa dirugikan, seperti Musa Tukang, Alwia La Singga, Sania Jainal, Salwia Yusuf, Edy A. Karamaha, dan Nahor Palaudi, mengaku tidak mendapat kejelasan dari siapa pun. Saat dimintai penjelasan, Felista Kokiroba, pendamping bansos di wilayah tersebut, memilih bungkam. Sementara itu, PT Pos Indonesia di Laiwui juga tidak mampu memberikan jawaban pasti terkait penyaluran dana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Praktisi hukum Bambang Joisangadji, S.H yang dimintai tanggapannya melalui sambungan WhatsApp menilai bahwa kasus ini tidak bisa dianggap sepele. Menurutnya, tindakan pendamping yang tidak menyalurkan bantuan kepada penerima adalah bentuk pelanggaran serius yang merugikan masyarakat dan negara.

“Pendamping yang menyalahgunakan dana BPNT untuk kepentingan pribadi hingga menghilangkan hak penerima, dapat dijerat dengan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi,” ujar Bambang Senin (26/5).

Bambang merujuk pada Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999. Ia juga menekankan bahwa pelaku dapat dijerat Pasal 8 UU Tipikor yang mengatur tentang penggelapan dalam jabatan, dengan ancaman pidana minimal tiga tahun dan maksimal 15 tahun serta denda antara Rp150 juta hingga Rp750 juta.

“Ini bukan kesalahan administratif biasa. Ini kejahatan yang merampas hak warga miskin,” tegasnya.

Lebih lanjut, kata dia, pihak-pihak lain yang terlibat, termasuk oknum penyalur atau instansi yang bekerja sama, juga bisa dijerat dengan Pasal 55 KUHP sebagai pihak yang turut serta melakukan tindak pidana.

Bambang mendorong Dinas Sosial Halsel untuk segera mengambil tindakan korektif dan represif dengan melibatkan aparat penegak hukum seperti Polres, Kejari, dan Inspektorat Halsel.

“Siapa pun yang melakukan pemotongan dana atau tidak menyalurkan bantuan, harus diproses sampai ke pengadilan,” ucapnya lagi.

Ia menambahkan bahwa Menteri Sosial RI Tri Rismaharini telah secara terbuka menyatakan komitmen Kemensos dalam membongkar penyimpangan bantuan sosial, termasuk menjalin kerja sama dengan aparat penegak hukum.

“Kalau pelanggaran ini terjadi di Halsel, maka Polres dan Kejaksaan sudah seharusnya mengusut tuntas dan membongkarnya sampai ke akarnya,” tutup Bambang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Ko Lok Gelar Tasyakuran dan Aqiqah Cucu, Ratusan Warga Hadir Panjatkan Doa
FAKI Desak KPK Usut Empat Proyek Jembatan Rp15,5 Miliar di Haltim, Minta Eks Kadis PUPR Diperiksa
LPP Tipikor Halteng Desak Polda Malut Selidiki Dugaan Perdagangan Skrap Ilegal
BARAH Desak Pemda Halsel Percepat Penetapan WPR, Ratusan Penambang Masih Bergantung pada Aktivitas PETI
PEROK Ultimatum PT Harita Group: Hentikan Mobilisasi Karyawan atau Hadapi Blokade
Respon Aksi Warga, Fraksi PKB Mendesak Pemda Halsel Segera Ambil Langkah Cepat Selesaikan Masalah Lahan di Pulau Obi
Aksi di DPRD Halsel, Sardi Hongi Desak 30 Legislator Bertindak: Jangan Tutup Mata terhadap Gambaru
Polres Halsel Klarifikasi Dugaan Penganiayaan Warga oleh Oknum Polisi, Kasi Humas: Semua Laporan Akan Diproses Secara Objektif
Berita ini 220 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 15:00 WIT

Ko Lok Gelar Tasyakuran dan Aqiqah Cucu, Ratusan Warga Hadir Panjatkan Doa

Rabu, 29 Juli 2026 - 01:13 WIT

FAKI Desak KPK Usut Empat Proyek Jembatan Rp15,5 Miliar di Haltim, Minta Eks Kadis PUPR Diperiksa

Minggu, 26 Juli 2026 - 22:47 WIT

LPP Tipikor Halteng Desak Polda Malut Selidiki Dugaan Perdagangan Skrap Ilegal

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:21 WIT

BARAH Desak Pemda Halsel Percepat Penetapan WPR, Ratusan Penambang Masih Bergantung pada Aktivitas PETI

Kamis, 23 Juli 2026 - 11:50 WIT

Respon Aksi Warga, Fraksi PKB Mendesak Pemda Halsel Segera Ambil Langkah Cepat Selesaikan Masalah Lahan di Pulau Obi

Kamis, 23 Juli 2026 - 09:19 WIT

Aksi di DPRD Halsel, Sardi Hongi Desak 30 Legislator Bertindak: Jangan Tutup Mata terhadap Gambaru

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:40 WIT

Polres Halsel Klarifikasi Dugaan Penganiayaan Warga oleh Oknum Polisi, Kasi Humas: Semua Laporan Akan Diproses Secara Objektif

Selasa, 16 Juni 2026 - 09:55 WIT

BARAH Desak Polres Halsel Usut Dugaan Praktik Togel di Pulau Bacan

Berita Terbaru