Misteri Kematian Siswi Berprestasi 13 Tahun di Obi Selatan, Ditemukan Gantung Diri, Polisi Dalami Motif

- Penulis Berita

Kamis, 13 Agustus 2026 - 14:17 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

Halmahera Selatan, Nalarsatu.com – Kematian Asriyani Ardiansyah, siswi SMP berusia 13 tahun 3 bulan di Desa Ocimaloleo, Kecamatan Obi Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, menyisakan duka sekaligus pertanyaan yang belum terjawab.

Asriyani, putri dari Adriansyah Smid dan Asri Teba, dilaporkan ditemukan meninggal dunia di dalam rumah pada Minggu sekitar pukul 16.00 WIT. Berdasarkan keterangan keluarga, korban ditemukan dalam kondisi tergantung di bagian dapur rumah.

Peristiwa itu sontak mengejutkan masyarakat. Sebab, dari penelusuran Nalarsatu.com bersama Timur Aktual pada Selasa sore hingga malam, sejumlah pihak yang mengenal korban memberikan gambaran serupa: Asriyani dikenal sebagai anak yang baik, pendiam, ramah, tidak nakal dan berprestasi di sekolah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti apa yang terjadi sebelum korban ditemukan meninggal dunia.

Sekitar pukul 16.15 WIT, tim wartawan tiba di Desa Ocimaloleo dan menemui Kepala Desa Samuel Jefris Beo di kediamannya.

Samuel membenarkan peristiwa tersebut. Namun, ia mengaku pemerintah desa belum mengetahui secara pasti persoalan yang mungkin melatarbelakangi kematian korban.

“Yang kami tahu, ada salah satu warga kami yang meninggal karena gantung diri. Masalah pokoknya torang juga tidak tahu, karena orang tuanya tidak terlalu terbuka kepada kami,” ujar Samuel Selasa (11/8).

Menurutnya, korban selama ini dikenal sebagai anak yang baik dan tidak pernah membuat masalah di lingkungan masyarakat.

“Padahal torang tau dia itu baik, ramah. Anak itu memang pendiam, tapi anaknya tidak pernah manakal. Yang torang tahu, dia siswa berprestasi,” katanya.

Dari kediaman kepala desa, tim kemudian bergerak menemui Kepala Sekolah Sofyan Soisa untuk menggali informasi mengenai keseharian korban di sekolah.

Sofyan mengaku terkejut dan sulit memahami peristiwa tersebut. Ia menyebut Asriyani sebagai salah satu siswi yang dikenal baik dan memiliki prestasi.

“Dia itu siswa yang baik dan berprestasi. Kenapa bisa seperti ini, sangat tidak mungkin menurut akal sehat. Ini anak paling baik dan sering juara di sekolah,” ungkap Sofyan Selasa (11/8).

Sofyan mengaku tidak pernah menerima informasi mengenai persoalan serius yang sedang dihadapi korban.

“Kalau saya cuma rasa heran saja. Dia sampai bunuh diri, ini pasti ada yang janggal. Mungkin ada masalah yang dia pendam, tapi tidak pernah disampaikan kepada kami,” ujarnya.

Pernyataan tersebut, kata Sofyan, merupakan bentuk keheranan dan kekhawatiran terhadap kondisi korban, bukan kesimpulan mengenai penyebab kematiannya.

Guru: “Torang Tara Sangka-Sangka”

Keterangan serupa disampaikan Marta P., salah satu guru korban.

Menurut Marta, Asriyani dikenal sebagai siswi yang baik, tidak nakal dan memiliki prestasi di sekolah.

“Prestasinya bagus. Kesehariannya di sekolah baik, tidak nakal. Torang heran kalau sampai kejadian begini. Torang tara sangka-sangka, anak pe baik, pintar lagi,” ungkap Marta.

Keterangan tersebut juga diperkuat warga Desa Ocimoleo, Yan Soisa.

Sementara Joni Totononi, warga setempat, mengaku masih sulit menerima kabar mengenai kematian korban.

“Kami juga ragu, kalau anak seperti dia lalu bunuh diri. Ini aneh,” katanya.

Ia berharap aparat kepolisian tidak hanya menerima informasi awal, tetapi melakukan pemeriksaan dan pendalaman secara menyeluruh.

“Kalau saya, polisi seharusnya datang dan periksa dulu, selidiki dulu. Apa motifnya sampai dia bunuh diri. Itu yang kami harapkan,” ujarnya.

Setelah menggali keterangan dari pemerintah desa, pihak sekolah dan warga, tim Nalarsatu.com dan Timur Aktual kemudian mendatangi rumah keluarga korban.

Ibu korban, Asri Teba, menceritakan kondisi sebelum anaknya ditemukan meninggal dunia.

Menurut Asri, pada Minggu pagi anaknya pulang dari ibadah sekitar pukul 09.00 WIT. Setelah itu, keluarga makan siang sekitar pukul 12.00 WIT.

“Torang bertiga, saya, papa dan Asriyani. Setelah makan siang, torang pigi kebun, tapi suami saya duluan saya menyusul dari belakang,” tutur Asri.

Sekitar pukul 15.00 WIT, Asri mengaku sempat mengajak Asriyani pergi ke kebun. Namun saat itu korban masih tidur.

Ketika kedua orang tuanya berada di kebun, anak bungsu keluarga yang berusia sekitar enam tahun sempat kembali ke rumah dan memanggil ibunya.

“Dia datang panggil, ‘Mama, mama, pulang dulu.’ Saya dengar, tapi tara terlalu hiraukan,” ungkap Asri.

Tak lama kemudian, ayah korban pulang lebih dahulu. Setelah kembali mendapat panggilan dari anak bungsunya, kedua orang tua korban akhirnya memutuskan pulang.

“Kami langsung pulang, tapi jalan santai karena kami pikir anak-anak mungkin sedang bermain,” katanya.

Namun sesampainya di rumah, suasana berubah menjadi kepanikan. Asri melihat suaminya dalam keadaan menangis.

“Saya langsung lari. Saya panggil tetangga, lalu kaka di rumah sebelah. Kami langsung ke tempat dia ditemukan,” tutur Asri Selasa (11/8) malam.

Menurut keterangan keluarga, korban ditemukan telah meninggal dunia di bagian dapur rumah.

Ayah korban, Adriansyah, kemudian berupaya menurunkan anaknya. Keluarga yang berdatangan setelah mendengar kabar tersebut langsung panik.

“Papa langsung bilang bagaimana dia temukan anaknya dalam posisi gantung diri dan sudah tidak bernyawa. Torang langsung panik. Di situ saya menangis,” ungkap Asri.

Kakak Adriansyah, Boni, yang saat kejadian sedang mengerjakan fondasi, turut mendatangi rumah korban setelah mendengar kabar tersebut.

Bersama Tante Nurjan, ia kemudian melihat kondisi Asriyani.

“Begitu datang, kami lihat anak sudah tidak bernyawa. Torang juga heran, kenapa bisa dia sampai begini,” ujar keluarga.

Di tengah munculnya pertanyaan mengenai motif dan latar belakang kematian korban, pihak kepolisian memastikan kasus tersebut sedang didalami.

Kapolsek Obi Selatan IPDA Syamsuddin Upara membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia mengatakan pihaknya telah melakukan konfirmasi kepada Pemerintah Desa Ocimaloleo terkait informasi kejadian.

“Iya betul. Wangkep saya konfir ke Pemdes, ada info kejadian itu,” ujar Syamsuddin saat dikonfirmasi melalui WhatsApp Kamis (13/8).

Menurutnya, penyidik juga telah menemui orang tua korban untuk menggali keterangan awal.

“Penyidik sudah ketemu orang tua korban,” katanya.

Syamsuddin menegaskan bahwa kepolisian tidak berhenti pada informasi awal mengenai peristiwa tersebut. Penyidik akan mendalami motif serta rangkaian kejadian yang melatarbelakangi kematian korban.

“Penyidik su turun TKP dan akan dalami motifnya,” tegasnya.

Keterangan Kapolsek tersebut menjadi penting karena hingga kini motif kematian Asriyani belum diketahui secara pasti. Pendalaman penyidik di lokasi kejadian dan pemeriksaan terhadap keluarga maupun pihak terkait diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai apa yang terjadi sebelum korban ditemukan meninggal dunia.

Dari penelusuran lapangan Nalarsatu.com dan Timur Aktual, terdapat sejumlah fakta yang konsisten dari keterangan kepala desa, kepala sekolah, guru, warga dan keluarga.

Pertama, korban masih berusia 13 tahun 3 bulan. Kedua, korban dikenal sebagai siswi SMP yang baik dan berprestasi. Ketiga, keluarga menyatakan korban ditemukan meninggal dunia di dalam rumah. Keempat, hingga penelusuran ini dilakukan, latar belakang dan motif kematian korban belum diketahui secara pasti.

Jika korban dikenal baik, berprestasi dan tidak pernah menunjukkan perilaku bermasalah di sekolah, apakah ada persoalan yang tidak diketahui lingkungan sekitar?

Pernyataan Kepala Sekolah Sofyan mengenai kemungkinan adanya masalah yang dipendam korban menjadi salah satu informasi yang perlu didalami, tetapi tidak dapat dijadikan kesimpulan tanpa bukti.

Begitu pula pernyataan warga yang menilai peristiwa tersebut “aneh” merupakan bentuk keheranan masyarakat dan bukan bukti telah terjadi tindak pidana.

Kematian seorang anak tentu membutuhkan penanganan yang jauh lebih hati-hati. Karena itu, keluarga dan masyarakat berharap aparat berwenang melakukan pemeriksaan secara profesional untuk memastikan seluruh rangkaian peristiwa sebelum, saat, dan setelah korban ditemukan.

Dengan adanya langkah penyidik yang telah turun ke tempat kejadian perkara (TKP), menemui orang tua korban dan berencana mendalami motif, publik kini menunggu hasil pemeriksaan resmi kepolisian.

Pertanyaan mendasarnya adalah: apa yang sebenarnya terjadi sebelum Asriyani ditemukan meninggal dunia?

Apakah benar tidak ada persoalan yang diketahui oleh lingkungan terdekat korban, atau terdapat sesuatu yang selama ini tidak pernah terungkap?

Semua pertanyaan tersebut membutuhkan fakta, pemeriksaan dan pembuktian, bukan spekulasi.

Nalarsatu.com dan Timur Aktual menempatkan temuan lapangan ini sebagai bagian dari penelusuran jurnalistik dan tidak menyimpulkan adanya tindak pidana maupun pihak tertentu sebagai penyebab kematian korban.

Hingga berita ini diterbitkan, motif dan latar belakang kematian Asriyani belum diketahui secara pasti. Pihak kepolisian melalui Kapolsek Obi Selatan IPDA Syamsuddin Upara menyatakan penyidik masih melakukan pendalaman.

Nalarsatu.com dan Timur Aktual akan terus mengikuti perkembangan informasi serta memberikan ruang yang berimbang bagi pihak kepolisian, keluarga maupun pihak terkait untuk menyampaikan keterangan resmi. (red)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Pemuda Merah Putih Minta Polisi Terapkan Pasal Berlapis dalam Kasus Dugaan Pelecehan di Kafe Bungalow 2
Ketua GPM Tantang Polres Halsel: Berani Tetapkan Kades Kawasi Tersangka Tanpa Intervensi?
Kuasa Hukum Bambang Joisangadji, S.H. Desak Polres Halsel Segera Gelar Perkara Dugaan Perusakan 400 Pohon Cengkeh Warga Soligi
Pengakuan Nafis di Hearing Aksi: Lahan Milik Alimusu, GMNI Soroti Kejanggalan Pembayaran ke Kades Kawasi oleh Harita Group
Protes Sengketa Lahan 6,5 Hektare, Aksi Warga Berujung Bentrok
Kapolda Malut Pertanyakan Keberadaan Bupati Bassam dan Ketua DPRD: Buat Apa Jika Tak Mampu Selesaikan Masalah Rakyat?
Bupati Halsel Angkat Bicara Soal Dugaan Jual Beli Lahan 6,5 Hektare oleh Kades Kawasi ke Trimegah Bangun Persada (Harita Group)
Diduga Tanah Kebun Dijual Sepihak ke Perusahaan, Kepala Desa Kawasi Diberi Somasi 7 Hari
Berita ini 100 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 7 Juni 2026 - 01:34 WIT

DPD GPM Maluku Utara Tolak Hasil Kongres XI di Bali, Pertanyakan Keabsahan Pemilihan Ketua Umum

Sabtu, 30 Mei 2026 - 04:26 WIT

Tebarkan Kepedulian, Ciptakan Kebersamaan, IARMI Maharuyung Jabodetabek Gelar Bakti Sosial di Momentum Iduladha

Sabtu, 23 Mei 2026 - 16:45 WIT

Bawa Nama Halsel ke Tingkat Nasional, Soleman Bobote Raih Penghargaan Bergengsi

Rabu, 8 April 2026 - 15:42 WIT

GMNI Desak Kapolri Evaluasi Wadir Intelkam Polda Malut, Diduga Lecehkan Marwah Organisasi

Jumat, 3 April 2026 - 11:59 WIT

Terbongkar! 7 Hektare Lahan Diduga Dijual Tanpa Sepengetahuan Pemilik, GMNI dan BARAH Ungkap Fakta Lapangan

Rabu, 11 Maret 2026 - 09:42 WIT

Rabu, 11 Februari 2026 - 03:25 WIT

Bupati Bassam Kasuba: Pers Garda Terdepan Lawan Hoaks dan Jembatan Suara Rakyat

Minggu, 8 Februari 2026 - 05:27 WIT

Munawir Resmi Nahkodai GMNI Halsel, Tegaskan Soliditas dengan DPP GMNI RI

Berita Terbaru