Putra Obi Dr. Arwan Bantah Pernyataan Kadis PUPR Malut: “Stop Berdalil ala Korporat!”

- Penulis Berita

Selasa, 11 November 2025 - 09:02 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HALSEL, Nalarsatu.com – Pernyataan Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Maluku Utara, Syukri M. Nur, yang sebelumnya diberitakan oleh sejumlah media online lainnya terkait izin pembangunan pompa air di dalam danau, memicu bantahan keras dari masyarakat Obi. Salah satu suara paling tegas datang dari akademisi sekaligus putra daerah Obi, Dr. Arwan M. Said.

Dalam pemberitaan media lain itu, Syukri menyatakan bahwa izin pembangunan pompa air sudah tercakup dalam Izin Penggunaan Air Permukaan (IPAP), termasuk gambar bangunan dan titik koordinat yang diajukan perusahaan. Ia juga menyebut rekomendasi teknis IPAP menjadi dasar pengambilan air dan perhitungan pajak daerah.

Menurut Arwan, penjelasan PUPR Malut tidak relevan dan menyesatkan karena IPAP hanya mengatur izin pengambilan air, bukan izin mendirikan bangunan di dalam danau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ini kan izin pengambilan air. Terus alasan izin mendirikan bangunan di tengah danau pakai dasar apa? Bukan soal pajak. Ini soal kerusakan ekosistem danau,” tegasnya.

Arwan menegaskan, larangan mendirikan bangunan di dalam atau di sempadan danau sudah diatur secara eksplisit dalam berbagai regulasi nasional, antara lain:

UU No. 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air

PP No. 38 Tahun 2011 tentang Sungai (berlaku mutatis mutandis untuk danau)

Permen PUPR No. 28 Tahun 2015 tentang Garis Sempadan Sungai dan Danau

Perpres No. 60 Tahun 2021 tentang Penyelamatan Danau Prioritas Nasional

Dalam regulasi tersebut ditegaskan bahwa:

1. Garis sempadan danau minimal 50 meter dari muka air maksimum.

2. Area sempadan merupakan zona penyangga ekosistem, dilarang dipakai untuk bangunan permanen.

3. Bangunan yang terlanjur ada pun wajib ditertibkan, terlebih yang masih baru.

“Permen PUPR No. 28 itu sudah sangat jelas: tidak boleh ada bangunan di dalam danau. Jadi bagaimana mungkin PUPR Provinsi berdalih semuanya sah hanya karena perusahaan bayar pajak?” ujar Arwan Selasa (11/11).

Masyarakat Obi Menilai Pemerintah dan Korporasi Hanya Mengejar Keuntungan Sesaat.

Arwan menilai pernyataan PUPR Malut justru menunjukkan pola pikir yang lebih mementingkan penerimaan pajak ketimbang keselamatan lingkungan jangka panjang.

“Pernyataan PUPR Provinsi seenaknya. Berpikir sama seperti korporasi: perusahaan dapat untung dari hasil bumi Obi, pemerintah dapat untung dari pajak. Lalu masyarakat yang menanggung dampaknya,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa masyarakat Obi sepakat untuk mendukung aturan yang berlaku secara nasional, yakni melarang pembangunan apapun di dalam danau karena dapat merusak ekosistem yang menjadi penopang hidup masyarakat.

“Kami masyarakat Obi sepakat. Tidak boleh membangun di dalam danau. Ini bukan soal menolak investasi, tapi menjaga lingkungan agar kami tidak jadi korban saat perusahaan sudah selesai dan pergi,” ujarnya.

Sebelumnya, Kabid SDA PUPR Malut, Syukri M. Nur, menjelaskan bahwa pihaknya memiliki peran dalam menerbitkan rekomendasi teknis IPAP, yang memuat batasan pengambilan air oleh perusahaan.

Menurutnya, rekomendasi itu mencakup penggunaan pompa dan perhitungan kapasitas air berdasarkan data curah hujan serta fluktuasi muka air danau.

Namun  penjelasan tersebut tidak menjawab inti persoalan, legalitas bangunan fisik yang didirikan di dalam danau sesuatu yang menurut mereka justru melanggar aturan yang lebih tinggi,tambahnya.

 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Aktivitas Galian C PT Pentangon Terang Asli di Obi Disorot, Diduga Beroperasi Tanpa Izin
Kades Gambaru Siap Turun Ukur Lahan Warga, Nasrudin M. Kasuba: Jika LA Tak Bersedia, Saya Bertanggung Jawab
Warga Hantam Sikap Kades Gambaru Nasrudin M. Kasuba : Jangan Jadi Budak Korporasi, Anda Harus Belajar dari Kades Fluk Utamakan Warga
Saat Tambang Belum Berproduksi, PT KTS Menyalakan Harapan Lewat Program “KTS Bersinar”
Ko Lok Gelar Tasyakuran dan Aqiqah Cucu, Ratusan Warga Hadir Panjatkan Doa
FAKI Desak KPK Usut Empat Proyek Jembatan Rp15,5 Miliar di Haltim, Minta Eks Kadis PUPR Diperiksa
LPP Tipikor Halteng Desak Polda Malut Selidiki Dugaan Perdagangan Skrap Ilegal
PEROK Ultimatum PT Harita Group: Hentikan Mobilisasi Karyawan atau Hadapi Blokade
Berita ini 225 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:01 WIT

Aktivitas Galian C PT Pentangon Terang Asli di Obi Disorot, Diduga Beroperasi Tanpa Izin

Minggu, 16 Agustus 2026 - 03:26 WIT

Kades Gambaru Siap Turun Ukur Lahan Warga, Nasrudin M. Kasuba: Jika LA Tak Bersedia, Saya Bertanggung Jawab

Minggu, 16 Agustus 2026 - 00:41 WIT

Warga Hantam Sikap Kades Gambaru Nasrudin M. Kasuba : Jangan Jadi Budak Korporasi, Anda Harus Belajar dari Kades Fluk Utamakan Warga

Jumat, 14 Agustus 2026 - 00:32 WIT

Saat Tambang Belum Berproduksi, PT KTS Menyalakan Harapan Lewat Program “KTS Bersinar”

Rabu, 29 Juli 2026 - 01:13 WIT

FAKI Desak KPK Usut Empat Proyek Jembatan Rp15,5 Miliar di Haltim, Minta Eks Kadis PUPR Diperiksa

Minggu, 26 Juli 2026 - 22:47 WIT

LPP Tipikor Halteng Desak Polda Malut Selidiki Dugaan Perdagangan Skrap Ilegal

Jumat, 24 Juli 2026 - 15:44 WIT

PEROK Ultimatum PT Harita Group: Hentikan Mobilisasi Karyawan atau Hadapi Blokade

Kamis, 23 Juli 2026 - 11:50 WIT

Respon Aksi Warga, Fraksi PKB Mendesak Pemda Halsel Segera Ambil Langkah Cepat Selesaikan Masalah Lahan di Pulau Obi

Berita Terbaru