- Penulis Berita

Sabtu, 23 Mei 2026 - 17:09 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Halmahera Selatan, Nalarsatu.com – Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Halmahera Selatan, Munawir Mandar, menyoroti dugaan pengkaburan sejarah dan identitas budaya masyarakat adat di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, di tengah masifnya aktivitas pertambangan nikel di wilayah tersebut.

Munawir menilai perubahan sejumlah nama lokasi di kawasan tambang bukan sekadar pergantian administratif biasa, melainkan berpotensi menghapus jejak sejarah masyarakat lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Praktik penggantian nama ini harus dihentikan dan dikembalikan seperti semula. Kalau dibiarkan terus, sejarah panjang Pulau Obi perlahan akan hilang dari ingatan generasi mendatang,” tegas Munawir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kekhawatiran itu, kata dia, semakin menguat setelah muncul pernyataan seorang investor tambang yang dikenal melalui akun TikTok bernama Benix. Dalam pernyataan yang sempat beredar di media sosial, Benix disebut mengatakan bahwa “Pulau Obi ini tidak bertuan.”

Menurut Munawir, pernyataan tersebut sangat melukai masyarakat adat karena terkesan mengabaikan fakta sejarah bahwa Pulau Obi telah dihuni, dijaga, dan diwarisi oleh masyarakat lokal sejak ratusan tahun lalu.

“Pulau Obi punya tuan, punya sejarah, dan punya masyarakat adat yang hidup turun-temurun di tanah itu. Pernyataan seperti itu tidak boleh dianggap biasa,” ujarnya.

Ia juga menyoroti munculnya sejumlah nama baru di kawasan Desa Kawasi yang dinilai tidak memiliki keterkaitan dengan sejarah lokal Obi. Beberapa nama lokasi bahkan disebut menggunakan nama yang identik dengan daerah di Sumatera Utara seperti “Karo” dan “Toba”.

Salah satu contoh yang paling disoroti adalah perubahan nama danau alami yang sejak dahulu dikenal masyarakat adat sebagai Talaga Diki-Diki atau Talaga Ma Hilo, yang dalam bahasa Tobelo berarti “Danau Damar”.

Munawir menjelaskan, nama tersebut lahir dari sejarah leluhur karena kawasan sekitar danau dahulu dipenuhi pohon damar yang menjadi sumber penghidupan masyarakat sekaligus memiliki nilai spiritual dan historis bagi warga setempat.

“Sekarang nama itu berubah menjadi Danau Karo. Ini bukan soal nama semata, tetapi soal identitas dan penghormatan terhadap sejarah masyarakat adat,” katanya.

Menurutnya, nama wilayah bagi masyarakat adat bukan hanya penanda geografis, melainkan bagian dari identitas budaya dan hubungan spiritual dengan tanah leluhur.

“Mengubah nama berarti berpotensi mengaburkan sejarah masyarakat asli di tanah kelahirannya sendiri,” tambahnya.

Munawir pun meminta pemerintah daerah, tokoh adat, serta seluruh pihak terkait untuk serius memperhatikan persoalan tersebut agar identitas budaya dan sejarah Pulau Obi tetap terjaga di tengah derasnya arus investasi dan industrialisasi tambang di wilayah itu. (red)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Kades Gambaru Siap Turun Ukur Lahan Warga, Nasrudin M. Kasuba: Jika LA Tak Bersedia, Saya Bertanggung Jawab
Warga Hantam Sikap Kades Gambaru Nasrudin M. Kasuba : Jangan Jadi Budak Korporasi, Anda Harus Belajar dari Kades Fluk Utamakan Warga
Saat Tambang Belum Berproduksi, PT KTS Menyalakan Harapan Lewat Program “KTS Bersinar”
Ko Lok Gelar Tasyakuran dan Aqiqah Cucu, Ratusan Warga Hadir Panjatkan Doa
FAKI Desak KPK Usut Empat Proyek Jembatan Rp15,5 Miliar di Haltim, Minta Eks Kadis PUPR Diperiksa
LPP Tipikor Halteng Desak Polda Malut Selidiki Dugaan Perdagangan Skrap Ilegal
BARAH Desak Pemda Halsel Percepat Penetapan WPR, Ratusan Penambang Masih Bergantung pada Aktivitas PETI
PEROK Ultimatum PT Harita Group: Hentikan Mobilisasi Karyawan atau Hadapi Blokade
Berita ini 61 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 03:26 WIT

Kades Gambaru Siap Turun Ukur Lahan Warga, Nasrudin M. Kasuba: Jika LA Tak Bersedia, Saya Bertanggung Jawab

Minggu, 16 Agustus 2026 - 00:41 WIT

Warga Hantam Sikap Kades Gambaru Nasrudin M. Kasuba : Jangan Jadi Budak Korporasi, Anda Harus Belajar dari Kades Fluk Utamakan Warga

Jumat, 14 Agustus 2026 - 00:32 WIT

Saat Tambang Belum Berproduksi, PT KTS Menyalakan Harapan Lewat Program “KTS Bersinar”

Minggu, 2 Agustus 2026 - 15:00 WIT

Ko Lok Gelar Tasyakuran dan Aqiqah Cucu, Ratusan Warga Hadir Panjatkan Doa

Minggu, 26 Juli 2026 - 22:47 WIT

LPP Tipikor Halteng Desak Polda Malut Selidiki Dugaan Perdagangan Skrap Ilegal

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:21 WIT

BARAH Desak Pemda Halsel Percepat Penetapan WPR, Ratusan Penambang Masih Bergantung pada Aktivitas PETI

Jumat, 24 Juli 2026 - 15:44 WIT

PEROK Ultimatum PT Harita Group: Hentikan Mobilisasi Karyawan atau Hadapi Blokade

Kamis, 23 Juli 2026 - 11:50 WIT

Respon Aksi Warga, Fraksi PKB Mendesak Pemda Halsel Segera Ambil Langkah Cepat Selesaikan Masalah Lahan di Pulau Obi

Berita Terbaru