Ternate, Nalarsatu.com — Forum Insan Cendikia (FIC) Maluku Utara sukses menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film Pesta Babi yang berlangsung di Kantor Pusat Forum Insan Cendikia (FIC) Maluku Utara, Kota Ternate, Sabtu (23/05/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi bagi generasi muda dalam membedah makna serta pesan yang terkandung dalam film Pesta Babi. Selain menjadi ajang menonton bersama, kegiatan ini juga diarahkan sebagai ruang dialektika untuk membangun cara pandang kritis terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Founder Saloi Halmahera, Djulfikram Isra, hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa film tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media refleksi terhadap berbagai realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Film Pesta Babi bukan hanya hadir sebagai tontonan, tetapi juga menjadi ruang refleksi terhadap realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Setiap karya memiliki pesan yang ingin disampaikan, dan tugas kita bukan hanya menonton, tetapi juga membaca makna yang ada di balik cerita,” ujar Djulfikram Isra.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan nonton bareng dan diskusi seperti ini memiliki peran penting dalam membangun budaya berpikir kritis, khususnya di kalangan generasi muda.
“Melalui ruang-ruang diskusi seperti ini, anak muda bisa belajar melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang. Sebab film bukan hanya soal adegan dan cerita, tetapi juga tentang nilai, kritik sosial, dan pelajaran yang dapat diambil untuk kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Sementara itu, Presidium Forum Insan Cendikia Maluku Utara, Bachtiar S. Malawat, menilai film Pesta Babi tidak hanya menghadirkan cerita di layar, tetapi juga menyimpan kritik yang dapat dibaca dalam konteks kehidupan sosial masyarakat hari ini.
Menurutnya, film tersebut dapat menjadi cermin terhadap berbagai persoalan yang sedang terjadi, terutama mengenai relasi manusia dengan kekuasaan, kepentingan, dan lingkungan hidup.
“Film Pesta Babi bukan hanya berbicara tentang sebuah konflik dalam cerita, tetapi ada makna yang lebih luas mengenai bagaimana manusia sering kali larut dalam kepentingan dan ambisi hingga melupakan keseimbangan kehidupan. Jika dikontekstualisasikan dengan Maluku Utara, kita sedang menyaksikan berbagai persoalan, mulai dari eksploitasi sumber daya alam, kerusakan lingkungan, ketimpangan pembangunan, hingga suara masyarakat kecil yang terkadang kurang mendapat ruang,” ujar Bachtiar.
Ia menambahkan bahwa generasi muda harus mulai membangun tradisi membaca realitas sosial secara kritis, bukan sekadar menjadi penonton atas berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya.
“Tugas anak muda hari ini bukan hanya menjadi penonton keadaan. Kita harus belajar menjadi pembaca realitas, sebab terkadang yang ditampilkan di layar hanyalah cerita, tetapi di luar layar terdapat kenyataan yang sedang dihadapi masyarakat,” lanjutnya.
Melalui kegiatan tersebut, Forum Insan Cendikia berharap dapat terus menghadirkan ruang literasi dan dialektika yang produktif bagi masyarakat, khususnya generasi muda di Maluku Utara. Kegiatan nobar dan diskusi film ini juga diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya berpikir kritis, memperkuat kesadaran sosial, serta mendorong lahirnya generasi yang lebih peka terhadap persoalan-persoalan di sekitarnya. (Bisma)








