OBI, Nalarsatu.com – Upaya meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan terus dilakukan. Kali ini, sosialisasi dan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) digelar di Desa Obi Madapolo, Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, pada Sabtu, 14 Juni 2025.
Kegiatan yang diprakarsai oleh dr. Nurmala Dewi, MHPE ini bertujuan membekali warga dengan pengetahuan dan keterampilan dasar dalam memberikan pertolongan pertama pada kondisi henti napas maupun henti jantung sebelum pasien mendapatkan penanganan medis lanjutan.
Dalam pemaparannya, dr. Nurmala Dewi menjelaskan bahwa kemampuan melakukan Bantuan Hidup Dasar sangat penting, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan kepulauan seperti Pulau Obi, yang akses layanan kesehatannya masih membutuhkan waktu tempuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“BHD adalah tindakan awal yang sangat menentukan keselamatan korban. Dalam situasi darurat, pertolongan pertama oleh orang terdekat bisa menjadi penentu antara hidup dan meninggal,” jelas dr. Mala Sabtu (14/6).
Pelatihan tersebut mencakup pengenalan tanda-tanda henti jantung, teknik resusitasi jantung paru (RJP), hingga simulasi praktik langsung yang melibatkan peserta. Warga tampak antusias mengikuti setiap sesi, terutama saat praktik teknik kompresi dada dan penanganan korban tidak sadar.
Menurut dr. Nurmala, edukasi semacam ini penting dilakukan secara berkelanjutan, mengingat risiko kecelakaan laut, tenggelam, maupun kondisi darurat kesehatan lainnya cukup tinggi di kawasan pesisir.
“Harapannya, setelah pelatihan ini masyarakat tidak panik saat menghadapi situasi darurat, tetapi mampu bertindak cepat dan tepat,” tambahnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen untuk memperkuat literasi kesehatan masyarakat sekaligus membangun kesiapsiagaan komunitas dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan di wilayah kepulauan.
Dengan adanya sosialisasi dan pelatihan BHD ini, diharapkan masyarakat pesisir Pulau Obi semakin tangguh dan responsif dalam memberikan pertolongan pertama, sehingga angka fatalitas akibat keterlambatan penanganan dapat ditekan.











