Tenggelam Bersama Senja

- Penulis Berita

Rabu, 19 November 2025 - 15:27 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : M. Raizul Zikri Faudu

SORE itu, 23 April 2025, saat semuanya dimulai. Berawal dari sebuah pertemuan singkat yang mengesankan. Saat itu lembayung senja sedang menggagalkan bumi. Matahari mulai melenyapkan eksistensinya. Seakan mengerti ini adalah waktu untuk membiarkan bulan bersama dengan bumi.

Aku terpana olehnya. Bukan, bukan kamu. Aku sama sekali tidak terpesona oleh keindahanmu. Langit yang berwarna merah itu lebih menarik perhatianku. Bukan kamu!

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sudah hampir satu tahun lamanya, seperti orang bodoh, saya masih kembali ke tempat ini. Tempat yang selalu membawaku ke masa lalu. Tempat yang selalu membawa kenanganku tentangmu. Ini lucu dan mungkin kau akan tertawa jika aku berkata bahwa aku mendambakanmu hadir di tempat ini lagi. Mendambakanmu untuk kembali dan kita bisa membuat lebih banyak kenangan di sini. Lucu bukan? Bagaimana kalau aku mengenalkan diriku? Hai, aku adalah matahari yang sedang memamerkan cahaya indah di sore hari.

Jadi aku pergi meninggalkan rumahku untuk menuju tempat favoritku. Aku sangat menyukai pemandangan pantai kastela di sore hari. Langit berwarna merah seperti obat untukku, mampu memberikan sedikit ketenangan untuk semua masalah. Ya.. meskipun sementara.

Perjalanan ke pantai kastela dari tempat tinggal ku tidak terlalu jauh, setibanya aku di pantai kastela aku langsung beranjak menuju ke pohon paling ujung tempat favoritku. Sayangnya, tempat itu sudah ditempati oleh seseorang.

Itu tempat terbaik untuk melihat senja dengan jelas.

Aku sudah sampai disini, jadi apapun ceritanya, aku tetap harus melihat senja. Bagaimanapun, ini tempat umum. Setiap orang bebas untuk duduk di tempat favoritnya, bukan? Aku melangkahkan kakiku kesana.

“Misi, bolehkah saya duduk disini?” tanya ku pelan

“Silahkan” jawabannya spontan

“Terimakasih” aku berterimakasih dan menutup pembahasan singkat itu

Dia tidak menunjukkan reaksi apapun, sangat dingin. Perilakunya berbeda 360 derajat dengan keindahan yang ada di dalam mataku saat ini. Aku sedikit melirik kearahnya. dia tidak terganggu dengan kehadiranku. Dia terlihat sangat dingin. Tapi, cara dia menatap kososng ke depan sungguh menyadari sesuatu.

sepertinya dia sedang mengalami tekanan yang cukup berat. Mungkin, alasan dia untuk mengunjungi tempat ini sama dengan alasanku. Biarlah, pemandangan langit lebih menarik daripada menebak informasi tentang dia.

Tiba-tiba saja saat aku sedang menikmati senja, ia menghampiriku dengan menyodorkan tangan kanannya untuk berkenalan.

“namaku Anala, nama kamu siapa?” ucapnya dengan memberikan sedikit senyum tipis yang sempat ia sembunyikan sedari tadi

“Namaku Batara” jawabku singkat

“Nama yang indah” Anala sedang memuji sembari membersihkan dedaunan yang berserakan di atas kursi tempat ia mau duduk di sampingku.

aku melihat rona merah menjalar di sekitar pipinya. Entah kenapa ada seulas senyum dibibirku, merasakan sesuatu yang berbeda dari dalam dirinya.

Setelah hari itu berlalu, aku dan Anala selalu mengunjungi tempat itu. Duduk bersebelahan dan mempunyai banyak bahan diskusi. Ya… kita semakin dekat dan aku merasa semakin nyaman jika berada disisinya.

Aku mengingat semua kata-kata manisnya. Senyumannya, dan semua hal yang berkaitan tentangnya menjadi kenangan indah yang terekam jelas dikepalaku. Tapi satu hal yang membuatku membencinya. Selayaknya senja pada hakikatnya, dia datang membawa keindahan, membuat seluruh dunia memujanya. namun keindahannya hanya berlangsung sementara. Saat malam tiba, semuanya berubah menjadi gelap.

“ Tolong jangan mencintaiku terlalu dalam, hal itu akan menyakitimu. ” Aku sekarang paham makna dari kata-katamu Merujuk pada kenyataan ini, kenyataan bahwa kau dan keindahanmu meninggalkanku lebih dulu, untuk selamanya, bukan senja.

Disini, dipantai kastela tempat pertama kali kita berjumpa, aku masih setia menunggumu hadir. Saat matahari sore memamerkan cahayanya, aku berharap kau juga ada disana. Tersenyum merenung dan menceritakan banyak cerita. Namun, kenyataannya bayanganmu saja tak terlihat oleh kasat mata.

Aku masih disini dengan cerita yang sama dan aku merindukanmu dengan sangat setia, Anala. Aku selalu berdoa setiap langit melukiskan senjanya. Doaku adalah agar aku bisa bahagia disini, tanpamu. Dan dengan begitu, dirimu juga bisa tersenyum bahagia dari tempat kamu berada. Aku harap senja bisa menenggelamkan kerinduanku padamu.

Dan sekarang, senja sudah terlelap, bersama dengan semua tentang kita. Terimakasih telah memberiku satu pelajaran berharga. Berkatmu, aku menjadi lebih bersyukur dan menikmati momen berharga dalam hidupku. Karena aku tahu, terkadang Tuhan menciptakan sesuatu yang sangat indah, tetapi hanya berlangsung sementara. Seperti mu, bukan senja.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Taruna Akpol TK I dan TK III Maluku Utara Gelar Jumat Berkah dan Bakti Sosial
Masa-masa di Pesantren
Keheningan dan Kesunyian Menyudutkanku di Sela-sela Kesendirian Kosan
Milenial Indonesia Soroti Rangkap Jabatan Wakil Menteri sebagai Komisaris BUMN
Nurdiana, Penderita Hidrosefalus Sejak Bayi, Kini Butuh Bantuan
Berita ini 114 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 07:45 WIT

Warga Halsel Keluhkan Pelayanan Tiket KM Satria 99 Expres, Diduga Tidak Transparan

Kamis, 2 April 2026 - 06:24 WIT

Israel Sahkan UU Hukuman Mati bagi Tahanan Palestina, Ketua Umum PB PII: Indonesia Harus Serukan Penolakan

Senin, 30 Maret 2026 - 01:39 WIT

Tes Kemampuan Akademik di Ponpes Salafi’iyah Al Khairaat Maffa Berjalan Lancar

Minggu, 29 Maret 2026 - 11:56 WIT

Datangi Bupati dan DPRD Halsel Senin Besok, Keluarga Alimusu Mencari Keadilan

Rabu, 25 Maret 2026 - 09:52 WIT

Alimus Tempuh Jalur Hukum, Dugaan Penyerobotan Lahan dan Penipuan Dilaporkan ke Polres Halsel

Selasa, 24 Maret 2026 - 09:47 WIT

BKM Masjid Nur Insani Gelar Sholat Idul Fitri 1447 H, Angkat Tema Kemenangan dan Kebaikan

Kamis, 19 Maret 2026 - 22:56 WIT

Lebaran Beda Tanggal, Warga Moloku Rayakan 20 Maret, Pemerintah dan NU 21 Maret

Rabu, 18 Maret 2026 - 13:02 WIT

KB PII Halsel Gandeng FIC, Warkop, dan OSIS Se-Bacan Berbagi Takjil dan Buka Puasa Bersama

Berita Terbaru

Opini

Post-Truth dan Matinya Nalar Kritis Publik

Kamis, 26 Mar 2026 - 04:27 WIT