TERNATE, Nalarsatu.com – Musyawarah Daerah (Musda) IV BPD HIPMI Maluku Utara kembali mencatatkan dinamika panas yang memuncak menjadi kericuhan. Agenda yang digelar di Hotel Sahid Bela Ternate itu bukan hanya diwarnai adu mulut, tetapi juga gangguan komunikasi yang berujung pada kekacauan di dalam arena Musda.
Kronologis kejadian dimulai ketika lima BPC pendukung Firdaus Amir (FA) mendesak Menteri Dalam Negeri (Mendagri) atau Ketua OKK yang hadir secara virtual untuk membuka forum mediasi. Desakan ini muncul karena mereka menilai hak-hak organisasi mereka telah “dikebiri” oleh Tim Steering Committee (SC) yang dianggap tidak transparan dan berpihak.
Kelima BPC tersebut berupaya melakukan komunikasi langsung dengan Mendagri untuk meminta pemulihan hak mereka sebagai peserta Musda yang sah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun situasi tiba-tiba memanas ketika Ketua Tim 01, Fitrah, mendekat ke kelompok lima BPC tersebut saat proses negosiasi masih berlangsung. Menurut sejumlah peserta, Fitrah dianggap sengaja mengintervensi dan mengganggu komunikasi para ketua BPC dengan Mendagri.
“Fitrah datang dan langsung mengangkat suara, memotong pembicaraan, seakan ingin menggagalkan komunikasi kami dengan Mendagri,” ujar salah satu ketua BPC pendukung FA yang berada di lokasi.
Kehadiran Fitrah di tengah diskusi krusial itu memicu respons keras dari para ketua BPC, sehingga situasi musyawarah berubah kacau. Adu mulut terjadi di depan para peserta Musda dan panitia.
Beberapa peserta menilai tindakan tersebut sebagai provokasi yang memicu kekos, karena setelah insiden itu suasana ruangan tak lagi kondusif. Ketegangan merembet ke kubu pendukung kedua kandidat yang bersaing, membuat jalannya sidang semakin sulit dikendalikan.
Petugas kepolisian yang berjaga kemudian masuk untuk menenangkan keadaan dan mengurai kerumunan peserta yang mulai terpancing emosi.
Meski situasi berhasil diredam, suasana Musda tetap panas hingga memasuki agenda berikutnya.











