“Jangan Bicara Ngawur”: Sarka Elajow Kecam Klaim Ikbal Ruray Soal Kesejahteraan Warga Obi

- Penulis Berita

Rabu, 31 Desember 2025 - 06:17 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Barisan Muda Tobelo Galela (BMT) Provinsi Maluku Utara, Sarka Elajow (Foto/Sarana)

Ketua Barisan Muda Tobelo Galela (BMT) Provinsi Maluku Utara, Sarka Elajow (Foto/Sarana)

HALMAHERA SELATAN, Nalarsatu.com- Klaim bahwa aktivitas tambang Harita Nickel telah menyejahterakan masyarakat Kepulauan Obi kembali menuai kritik tajam. Di balik narasi kesejahteraan yang kerap disampaikan ke publik, warga justru dihadapkan pada persoalan mendasar yang tak kunjung diselesaikan: relokasi sepihak, pembayaran lahan yang tidak transparan, serta pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan lokal tanpa pesangon.

Ketua Barisan Muda Tobelo Galela (BMT) Provinsi Maluku Utara, Sarka Elajow, yang juga merupakan Putra Obi, menilai persoalan-persoalan tersebut sejatinya bukan masalah besar jika perusahaan memiliki itikad baik dan pemerintah menjalankan fungsi pengawasan secara serius. Namun realitas di lapangan justru menunjukkan banyak persoalan dibiarkan berlarut dan diputuskan sepihak oleh perusahaan.

“Relokasi warga dilakukan tanpa musyawarah yang adil. Lahan kami diambil, tapi pembayaran tidak jelas, bahkan ada yang belum dibayar sama sekali. Ini bukan kesejahteraan, ini pemaksaan,” tegas Sarka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menyebut, dalam proses relokasi, warga selalu ditempatkan pada posisi lemah. Pilihannya hanya dua: menerima keputusan perusahaan atau kehilangan ruang hidupnya sendiri.

Tak hanya itu, Sarka juga mengungkap peristiwa intimidasi terhadap warga Obi yang terjadi beberapa minggu lalu, terkait pengambilan lahan untuk pembangunan bendung oleh pihak perusahaan.

“Beberapa minggu lalu, lahan warga diambil untuk pembuatan bendung tanpa persetujuan pemilik. Ketika warga mencoba menghalangi, justru diancam dan diintimidasi. Ini fakta di lapangan,” ungkapnya.

Menurut Sarka, peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana warga diperlakukan bukan sebagai subjek hukum, melainkan sebagai penghalang kepentingan korporasi.

“Pertanyaannya sederhana: di mana posisi lembaga wakil rakyat saat warga diintimidasi karena mempertahankan tanahnya sendiri?” sindirnya.

Selain persoalan lahan, karyawan lokal pun mengalami tekanan serupa. Sarka menyebut sejumlah pekerja justru didesak untuk mengundurkan diri, bukan di-PHK secara resmi, meski persoalan internal masih bisa diselesaikan secara baik-baik.

“Masalah sepele yang bisa dibicarakan, malah karyawan ditekan tanda tangan pengunduran diri. Akibatnya mereka kehilangan hak pesangon. Ini pola yang berulang dan disengaja,” ujarnya.

Praktik tersebut dinilai sebagai cara perusahaan menghindari kewajiban hukum, sekaligus memutus tanggung jawab sosial terhadap keluarga pekerja lokal.

Lebih jauh, Sarka mengaku kesal dengan pernyataan Ketua DPRD Maluku Utara, Ikbal Ruray, yang menurutnya justru menyeret nama lembaga DPRD ke dalam narasi pembenaran korporasi.

“DPRD itu lembaga rakyat, bukan humas perusahaan. Ketika Ketua DPRD bicara seolah Obi baik-baik saja dan perusahaan sudah menyejahterakan warga, itu menyakitkan,” kata Sarka.

Ia menilai pernyataan tersebut berbahaya, karena menempatkan lembaga legislatif di posisi yang berseberangan dengan kepentingan rakyat Obi.

“Kalau sudah duduk di kursi lembaga, seharusnya berdiri di pihak rakyat. Bukan mengutamakan kepentingan korporasi dan menutup mata atas penderitaan warga,” tegasnya.

Menurut Sarka, membawa nama lembaga DPRD untuk memuji perusahaan tanpa menyelesaikan persoalan lahan, relokasi, intimidasi warga, dan nasib buruh merupakan bentuk pengingkaran terhadap mandat rakyat.

“Kalau lembaga rakyat lebih sibuk membela korporasi, lalu ke mana warga harus mengadu? Ini bukan soal politik, ini soal keadilan dan hak hidup masyarakat Obi,” ujarnya.

Ia menegaskan, lapangan kerja dan program sosial tidak bisa dijadikan pembenaran, selama hak-hak dasar warga dan buruh terus diabaikan.

“Selama lahan warga belum dibayar tuntas, relokasi dilakukan sepihak, warga diintimidasi, dan karyawan dipaksa mundur tanpa pesangon, maka narasi kesejahteraan itu omong kosong,” katanya.

Sarka juga mengingatkan agar pejabat daerah berhenti berbicara berdasarkan laporan sepihak perusahaan tanpa turun langsung melihat kondisi lapangan.

“Pejabat bicara kesejahteraan dari balik meja, sementara warga kehilangan tanah dan pekerja dipulangkan tanpa hak. Ini ironi dan bentuk pengkhianatan terhadap rakyat,” ujarnya.

Menurutnya, selama persoalan lahan, relokasi, intimidasi warga, dan ketenagakerjaan terus diselesaikan secara sepihak, klaim kesejahteraan hanyalah narasi kosong yang jauh dari realitas hidup masyarakat Obi.

“Obi tidak butuh pencitraan. Yang kami butuhkan keadilan. Selama itu tidak ada, jangan bicara soal kesejahteraan,” pungkas Sarka.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Terbongkar! 7 Hektare Lahan Diduga Dijual Tanpa Sepengetahuan Pemilik, GMNI dan BARAH Ungkap Fakta Lapangan
Warga Halsel Keluhkan Pelayanan Tiket KM Satria 99 Expres, Diduga Tidak Transparan
Israel Sahkan UU Hukuman Mati bagi Tahanan Palestina, Ketua Umum PB PII: Indonesia Harus Serukan Penolakan
Tes Kemampuan Akademik di Ponpes Salafi’iyah Al Khairaat Maffa Berjalan Lancar
Datangi Bupati dan DPRD Halsel Senin Besok, Keluarga Alimusu Mencari Keadilan
Alimusu Polisikan PT TBP (Harita Group) dan Kades Kawasi, Barah–GMNI Turun Gunung Kawal Dugaan Mafia Lahan
Alimus Tempuh Jalur Hukum, Dugaan Penyerobotan Lahan dan Penipuan Dilaporkan ke Polres Halsel
BKM Masjid Nur Insani Gelar Sholat Idul Fitri 1447 H, Angkat Tema Kemenangan dan Kebaikan
Berita ini 79 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 19 Maret 2026 - 14:46 WIT

Paradoks Program IMS-ADIL Antara Pendidikan Gratis vs Umroh Gratis

Rabu, 18 Maret 2026 - 01:36 WIT

Dari Cangkul ke Ekskavator: Krisis Identitas dan Ekologi di Balik Ekspansi Tambang di Maluku Utara

Jumat, 27 Februari 2026 - 08:08 WIT

Geothermal dalam Masyarakat Risiko: Kritik Political Ecology atas Ilusi Energi Hijau

Rabu, 25 Februari 2026 - 19:27 WIT

“Taba”: Etos Ketabahan Orang Makian

Kamis, 15 Januari 2026 - 16:53 WIT

Pendidikan di Era Modern: Menyelaraskan Inovasi Teknologi dengan Nilai Kemanusiaan

Kamis, 15 Januari 2026 - 10:37 WIT

Agar Tak Bingung Saat Di Tanya, Mahasiswa Paham Arah Kampusnya

Kamis, 15 Januari 2026 - 04:03 WIT

Kampus Tumbuh Dari Dialog, Bukan Dari Ketakutan.

Kamis, 8 Januari 2026 - 19:53 WIT

Satu Napas Perubahan : Manifesto Satu Tahun Forum Insan Cendikia

Berita Terbaru