Dialog Publik KB PII Halsel, Dr. Arwan Tegaskan Tambang Picu Krisis Ekologis dan Ancaman Hidup Warga

- Penulis Berita

Selasa, 27 Januari 2026 - 15:15 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LABUHA, Nalarsatu.com – Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) Kabupaten Halmahera Selatan menggelar Dialog Publik bertema “Membangun Kepemimpinan Berbasis Nilai Agama, Kepedulian Sosial, dan Etika Lingkungan”, Sabtu (24/1/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Dr. Arwan M. Said, pemerhati lingkungan, sebagai pemateri dengan subtema “Tambang dan Krisis Ekologis: Ancaman Nyata bagi Lingkungan dan Kehidupan Rakyat Halmahera Selatan”.

Dalam pemaparannya, Dr. Arwan menegaskan bahwa ekspansi pertambangan di Halmahera Selatan telah memicu krisis ekologis yang serius dan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama di wilayah pesisir dan kepulauan. Kerusakan hutan, pencemaran perairan, serta terganggunya sumber pangan disebutnya sebagai konsekuensi nyata dari aktivitas tambang yang tidak dikelola secara berkelanjutan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tambang tidak hanya berbicara soal ekonomi dan investasi, tetapi juga tentang ruang hidup rakyat. Ketika hutan rusak, pesisir tercemar, dan air bersih terancam, maka masyarakatlah yang pertama kali menanggung dampaknya,” ujar Dr. Arwan di hadapan peserta dialog.

Namun demikian, Dr. Arwan menegaskan bahwa sikap kritis terhadap tambang tidak dimaknai sebagai penolakan terhadap aktivitas pertambangan itu sendiri. Menurutnya, pertambangan dapat diterima sepanjang dikelola secara bertanggung jawab, berkeadilan, dan tidak mengorbankan lingkungan serta keselamatan hidup masyarakat.

“Kami tidak menolak tambang. Yang kami tolak adalah praktik tambang yang merusak, abai terhadap lingkungan, dan mengorbankan rakyat. Tambang harus tunduk pada etika ekologis, hukum, dan keadilan sosial,” tegas Arwan Sabtu (24/1)

Ia juga menyoroti narasi tanggung jawab sosial perusahaan yang kerap dijadikan legitimasi keberadaan industri ekstraktif. Salah satunya melalui program beasiswa pendidikan yang sering dibanggakan perusahaan tambang, termasuk Harita.

Namun menurutnya, klaim tersebut tidak sebanding dengan kerugian ekologis dan sosial yang dialami masyarakat Halmahera Selatan.

“Beasiswa untuk beberapa orang memang terlihat baik, tetapi kerusakan alam dan penderitaan warga Halsel jauh lebih besar dan tidak sebanding dengan apa yang dibanggakan sebagai kontribusi sosial perusahaan,” ujarnya.

Dr. Arwan menjelaskan, degradasi lingkungan akibat pertambangan memiliki korelasi langsung dengan krisis sosial, mulai dari menurunnya kualitas kesehatan masyarakat, konflik lahan, hingga kemiskinan struktural. Ketimpangan dalam pengelolaan sumber daya alam, kata dia, terus menempatkan masyarakat lokal sebagai pihak yang paling dirugikan.

Pandangan tersebut diperkuat oleh analisis akademik Dr. Arwan, yang menyebut bahwa perubahan fungsi dan luas lahan akibat aktivitas industri, termasuk pertambangan, berdampak langsung terhadap stabilitas ekologi. Konversi hutan dan lahan alami menjadi kawasan industri memperparah gangguan siklus hidrologi, meningkatkan risiko banjir dan kekeringan, mempercepat degradasi tanah, serta menghilangkan keanekaragaman hayati.

“Semakin besar skala perubahan fungsi lahan, maka semakin signifikan dampak negatifnya terhadap keseimbangan lingkungan dan keselamatan manusia,” ungkap Dr. Arwan.

Selain itu, aktivitas pertambangan juga dinilai berpotensi menimbulkan pencemaran air, sedimentasi pesisir, hingga gangguan kesehatan masyarakat akibat paparan debu dan logam berat. Kondisi ini diperparah oleh lemahnya pengawasan terhadap AMDAL dan kewajiban reklamasi pascatambang.

Dr. Arwan menegaskan, tanpa pengawasan ketat dan keberpihakan negara kepada rakyat, yang terjadi adalah ketimpangan keadilan ekologis.

“Lingkungan rusak, rakyat menderita, sementara keuntungan hanya dinikmati segelintir pihak,” katanya.

Dalam perspektif keberlanjutan, Dr. Arwan mendorong perubahan paradigma pembangunan yang tidak semata mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjamin keadilan ekologis dan keberlangsungan hidup generasi mendatang. Ia menekankan pentingnya peran masyarakat sipil, organisasi kepemudaan, dan tokoh agama dalam mengawal isu lingkungan.

Dialog publik yang digagas KB PII Halmahera Selatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus konsolidasi gagasan kritis terkait masa depan lingkungan di Bumi Saruma. KB PII menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kesadaran publik serta peran generasi muda dalam menjaga lingkungan sebagai amanah moral, sosial, dan keagamaan. (red)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Warga Halsel Keluhkan Pelayanan Tiket KM Satria 99 Expres, Diduga Tidak Transparan
Israel Sahkan UU Hukuman Mati bagi Tahanan Palestina, Ketua Umum PB PII: Indonesia Harus Serukan Penolakan
Tes Kemampuan Akademik di Ponpes Salafi’iyah Al Khairaat Maffa Berjalan Lancar
Datangi Bupati dan DPRD Halsel Senin Besok, Keluarga Alimusu Mencari Keadilan
Alimusu Polisikan PT TBP (Harita Group) dan Kades Kawasi, Barah–GMNI Turun Gunung Kawal Dugaan Mafia Lahan
Alimus Tempuh Jalur Hukum, Dugaan Penyerobotan Lahan dan Penipuan Dilaporkan ke Polres Halsel
BKM Masjid Nur Insani Gelar Sholat Idul Fitri 1447 H, Angkat Tema Kemenangan dan Kebaikan
Lebaran Beda Tanggal, Warga Moloku Rayakan 20 Maret, Pemerintah dan NU 21 Maret
Berita ini 52 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 07:45 WIT

Warga Halsel Keluhkan Pelayanan Tiket KM Satria 99 Expres, Diduga Tidak Transparan

Kamis, 2 April 2026 - 06:24 WIT

Israel Sahkan UU Hukuman Mati bagi Tahanan Palestina, Ketua Umum PB PII: Indonesia Harus Serukan Penolakan

Senin, 30 Maret 2026 - 01:39 WIT

Tes Kemampuan Akademik di Ponpes Salafi’iyah Al Khairaat Maffa Berjalan Lancar

Minggu, 29 Maret 2026 - 11:56 WIT

Datangi Bupati dan DPRD Halsel Senin Besok, Keluarga Alimusu Mencari Keadilan

Rabu, 25 Maret 2026 - 09:52 WIT

Alimus Tempuh Jalur Hukum, Dugaan Penyerobotan Lahan dan Penipuan Dilaporkan ke Polres Halsel

Selasa, 24 Maret 2026 - 09:47 WIT

BKM Masjid Nur Insani Gelar Sholat Idul Fitri 1447 H, Angkat Tema Kemenangan dan Kebaikan

Kamis, 19 Maret 2026 - 22:56 WIT

Lebaran Beda Tanggal, Warga Moloku Rayakan 20 Maret, Pemerintah dan NU 21 Maret

Rabu, 18 Maret 2026 - 13:02 WIT

KB PII Halsel Gandeng FIC, Warkop, dan OSIS Se-Bacan Berbagi Takjil dan Buka Puasa Bersama

Berita Terbaru

Opini

Post-Truth dan Matinya Nalar Kritis Publik

Kamis, 26 Mar 2026 - 04:27 WIT