OBI, Nalarsatu.com – Seorang warga sipil asal Desa Madapolo, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, diduga menjadi korban pengeroyokan oleh dua oknum anggota TNI, pada Selasa pagi sekitar pukul 10.00 WIT, di wilayah Desa Kawasi.
Korban bernama La Fahmi mengalami luka lebam serta pembengkakan pada bagian wajah akibat tindakan kekerasan tersebut. Peristiwa itu terjadi di sekitar pantai Kawasi, sesaat setelah speedboat rute Kupal–Kawasi tiba dan menurunkan penumpang.
Berdasarkan keterangan korban, dua oknum anggota TNI yang diduga terlibat masing-masing berinisial G alias Gipsa dan N alias Natus. Keduanya diketahui sedang bertugas di luar daerah dan berada di Pulau Obi dalam rangka liburan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Insiden bermula dari persoalan sepele terkait sebuah toples milik salah satu oknum TNI yang diduga kehilangan penutup saat proses bongkar muat barang dari speedboat.
“Awalnya mereka turun dari speed. Saat saya membantu mengangkat barang ke pantai, salah satu dari mereka marah karena toples miliknya penutupnya sudah tidak ada,” ujar La Fahmi saat ditemui wartawan Kamis (29/1).
Korban mengaku telah berupaya meredakan situasi dengan menyampaikan permohonan maaf serta menyarankan agar persoalan tersebut disampaikan kepada pihak speedboat untuk diganti.
“Saya sampaikan baik-baik, kalau barangnya hilang nanti bisa disampaikan ke pihak speed untuk diganti. Tapi justru saya dimaki dengan kata-kata kasar. Saya disebut ‘anjing’ dan ‘babi’,” ungkapnya.
Merasa tidak pantas diperlakukan demikian, La Fahmi mengaku sempat menegur secara lisan agar kedua oknum tersebut menjaga ucapan. Namun, teguran tersebut justru memicu tindakan kekerasan.
“Saya hanya bilang jangan bicara seperti itu. Setelah itu, mereka langsung memukul saya dan mengeroyok saya berdua,” kata La Fahmi.
Aksi pengeroyokan tersebut akhirnya terhenti setelah orang tua mertua korban dan sejumlah warga setempat datang ke lokasi dan melerai kejadian. Korban mengaku, tanpa kehadiran warga, situasi bisa berujung lebih buruk.
“Kalau tidak ada papa mantu dan warga yang datang, mungkin saya sudah mati,” ujarnya dengan nada trauma.
Atas kejadian itu, La Fahmi menyatakan tidak menerima perlakuan kekerasan yang dialaminya dan meminta agar kedua oknum anggota TNI tersebut diproses secara hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
“Saya heran, hanya karena merasa sebagai anggota, lalu main pukul warga sipil. Saya minta kasus ini diproses secara hukum,” tegasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI terkait dugaan pengeroyokan tersebut. Redaksi Nalarsatu.com masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak berwenang guna memperoleh penjelasan resmi. (red)







