Enam Orang Pemerkosaan Siswa SMK, Ayah Korban Menangis:Tiga Anggota Polsek Bantu Mediasi

- Penulis Berita

Kamis, 10 Juli 2025 - 11:13 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OBI, Nalarsatu.com – Kasus pemerkosaan terhadap seorang siswa SMK Teknologi di Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, menyisakan luka mendalam bagi keluarga korban. Nasri Ode Sinta, ayah dari korban, mengecam keras upaya mediasi yang dilakukan aparat kepolisian dan keluarga pelaku. Ia menyebut permintaan damai tersebut sebagai bentuk pelecehan terhadap rasa keadilan dan penderitaan anaknya.

“Anak saya diperkosa enam orang. Ini kejahatan berat, bukan urusan keluarga yang bisa diselesaikan di ruang mediasi. Kok masih ada yang ajak damai-damai?” kata Nasri dengan meneteskan air mata saat diwawancarai Nalarsatu.com, Kamis (10/7).

Nasri mengisahkan, ia dihubungi oleh seorang anggota Polsek Obi bernama Juned sekitar pukul 11.00 WIT dan diminta datang ke kantor polisi. Namun setibanya di sana, Juned belum tampak dan Nasri hanya bertemu dengan anggota lain bernama Riki, yang memberitahu bahwa keluarga pelaku sedang berada di rumah salah seorang warga. Nasri pun menunggu sekitar setengah jam sebelum memutuskan pulang ke rumah untuk makan siang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sekitar pukul 12.37 WIT, Juned kembali mengirim pesan WhatsApp, memberitahu bahwa keluarga pelaku sudah berada di Polsek. Nasri segera kembali ke kantor polisi mengendarai motornya. Di ruang mediasi lebih dari 10 orang, ia kenal tiga anggota polisi Rahman, Juned, dan Riki, dua orang yang dikenalnya sebagai orang tua terduga pelaku, yakni Lapudi dan La Amba.

La Amba langsung berbicara dalam bahasa daerah Buton Cia-Cia, meminta agar persoalan ini “diatur baik-baik.” Mendengar itu, Nasri langsung emosi.

“Saya jawab langsung, ini bukan masalah kecil. Anak saya masih trauma, dan sekarang kalian mau ajak ketemu? Istri saya dan anak saya bahkan masih jalani pemeriksaan di Polres Bacan. Keputusan harus kami ambil bersama,” ujarnya.

Pertemuan pun berakhir tanpa kesepakatan. Keluarga pelaku memilih meninggalkan Polsek lebih dulu. Saat Nasri masih duduk bersama Rahman dan Juned, sempat muncul usulan dari Rahman agar kasus ini tidak diproses hukum karena akan menguras biaya besar. Bahkan, ia menyarankan agar Nasri meminta denda yang tinggi kepada pihak pelaku.

“Saya bilang, kita jalani saja proses hukum. Kalau soal denda, ada aturannya. Tapi saya tidak akan jadikan ini sebagai bahan tawar-menawar. Ini soal kehormatan keluarga dan masa depan anak saya,” katanya dengan tegas Kamis (10/7).

Nasri memastikan bahwa dirinya dan keluarga besar tidak akan menerima upaya damai dalam bentuk apa pun. Ia menuntut agar keenam pelaku diadili sesuai hukum yang berlaku dan diproses hingga ke meja hijau.

“Jangan ada lagi mediasi. Hukum harus ditegakkan. Biar semua orang tahu bahwa kejahatan terhadap anak tak bisa dibeli dengan uang,” pungkasnya.

Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, anggota Polsek Obi bernama Rahman membantah tudingan bahwa pihaknya berupaya menutupi kasus. Ia menyebut informasi yang beredar tidak sesuai fakta dan meminta agar konfirmasi lebih lanjut dilakukan kepada atasannya.

Rahman juga menampik bahwa dokumentasi pertemuan dengan keluarga pelaku dilakukan pada tanggal 15 Juni, seperti disebutkan sebelumnya. Menurutnya, pertemuan tersebut kemungkinan terjadi pada 14 Juni, ketika korban telah bergeser ke Polres Halmahera Selatan untuk menjalani pemeriksaan di Unit PPA.

“Itu bukan dokumentasi tanggal 15, kaapa. Itu mungkin tanggal 14 Juni. Saat itu korban sudah bergeser ke Bacan untuk diperiksa di PPA Polres,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dirinya tidak memiliki wewenang untuk memberikan keterangan resmi dan menyerahkan sepenuhnya kepada pimpinan Polsek.

“Nanti sudara konfirmasi dengan Pak Kapolsek, karena saya tidak dapat menyampaikan ini secara resmi. Itu ranahnya pimpinan,” tegas Rahman.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Aktivitas Galian C PT Pentangon Terang Asli di Obi Disorot, Diduga Beroperasi Tanpa Izin
Kades Gambaru Siap Turun Ukur Lahan Warga, Nasrudin M. Kasuba: Jika LA Tak Bersedia, Saya Bertanggung Jawab
Warga Hantam Sikap Kades Gambaru Nasrudin M. Kasuba : Jangan Jadi Budak Korporasi, Anda Harus Belajar dari Kades Fluk Utamakan Warga
Saat Tambang Belum Berproduksi, PT KTS Menyalakan Harapan Lewat Program “KTS Bersinar”
Ko Lok Gelar Tasyakuran dan Aqiqah Cucu, Ratusan Warga Hadir Panjatkan Doa
FAKI Desak KPK Usut Empat Proyek Jembatan Rp15,5 Miliar di Haltim, Minta Eks Kadis PUPR Diperiksa
LPP Tipikor Halteng Desak Polda Malut Selidiki Dugaan Perdagangan Skrap Ilegal
PEROK Ultimatum PT Harita Group: Hentikan Mobilisasi Karyawan atau Hadapi Blokade
Berita ini 190 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:01 WIT

Aktivitas Galian C PT Pentangon Terang Asli di Obi Disorot, Diduga Beroperasi Tanpa Izin

Minggu, 16 Agustus 2026 - 03:26 WIT

Kades Gambaru Siap Turun Ukur Lahan Warga, Nasrudin M. Kasuba: Jika LA Tak Bersedia, Saya Bertanggung Jawab

Minggu, 16 Agustus 2026 - 00:41 WIT

Warga Hantam Sikap Kades Gambaru Nasrudin M. Kasuba : Jangan Jadi Budak Korporasi, Anda Harus Belajar dari Kades Fluk Utamakan Warga

Jumat, 14 Agustus 2026 - 00:32 WIT

Saat Tambang Belum Berproduksi, PT KTS Menyalakan Harapan Lewat Program “KTS Bersinar”

Rabu, 29 Juli 2026 - 01:13 WIT

FAKI Desak KPK Usut Empat Proyek Jembatan Rp15,5 Miliar di Haltim, Minta Eks Kadis PUPR Diperiksa

Minggu, 26 Juli 2026 - 22:47 WIT

LPP Tipikor Halteng Desak Polda Malut Selidiki Dugaan Perdagangan Skrap Ilegal

Jumat, 24 Juli 2026 - 15:44 WIT

PEROK Ultimatum PT Harita Group: Hentikan Mobilisasi Karyawan atau Hadapi Blokade

Kamis, 23 Juli 2026 - 11:50 WIT

Respon Aksi Warga, Fraksi PKB Mendesak Pemda Halsel Segera Ambil Langkah Cepat Selesaikan Masalah Lahan di Pulau Obi

Berita Terbaru