Manusia Digital: Dekat Secara Sinyal, Jauh Secara Sosial

- Penulis Berita

Rabu, 9 Juli 2025 - 15:54 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Alfakhdi R. BailusyAnggota Forum Insan Cendikia (FIC) dan Mahasiswa PWK UNUTARA

SUATU malam di sebuah kafe, lima orang duduk mengelilingi satu meja. Diantara mereka tidak ada percakapan yang hidup, hanya cahaya dari layar ponsel yang memantul diwajah masing-masing. Jari mereka sibuk mengusap layar, senyum kadang muncul bukan karena lawan bicara yang didepanya, melainkan dari pesan yang muncul dilayar. Pemandangan seperti ini bukanlah hal lasing. Kita hidup ditengah masyarakat yang konon terkoneksi, namun semakin kehilangan keintiman.

Teknologi digital telah menjanjikan keterhubungan tanpa batas, tapi nyatanya banyak dari kita justru merasa semakin sendiri. Inilaha wajah wajah baru dari manusia digital: dekat secara sinyal, jauh secara social.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fenomena keterasingan social di tengah maraknya teknologi bukan sekedar kesan personal, melainkan gejala kolektif yang kini menjadi perhatian sosiologi, psikologi, hingga pendidik. Sebuah studi oleh Harvard pada tahun 2021 menemukan bahwa kesepian telah menjadi epidemi tersendiri, bahkan dika[langan muda yang secara teknologi paling terhubung. Ironisnya, platform yang awalnya dirancang untuk mempererat hubungan justru menciptakan interaksi instan yang menggerus kedalaman komunikasi. Percakapan yang dulunya terjadi didalam ruangan nyata kini tergantikan oleh notifikasi dan balasan singkat yang takselalu hadirkan makna. Interaksi digital telah melahirkan ilusi kebersamaan, sementara ruang social yang sejati kian memudar.

Kecanduan layar tidak hanya mempengaruhi durasi waktu yang kita habiskan didunia digital, tetapi juga membentuk cara kita berinteraksi dengan dunia nyata. Dalam jangka panjang, keterpapaan berlebihan pada teknologi telah menumpulkan sensitivitas social. Kemampuan untuk membaca ekspresi wajah, memahami emosi, dan merespon secara empatik perlahan memudar dan tergantikan oleh emoji dan stiker. Diruang keluarga, kehadiran fisik tidak lagi menjadi keintiman, banyak orang tua dan anak hidup berdampingan dalam diam. Masing-masing tenggelam dalam layar masing-masing. Di ruang kelas, siswa yang terbiasa dengan distraksi digital cendrung kehilangan fokus, dan guru menghadapi tantangan baru untuk menciptakan perhatianyang dulu hadir secara alami. Dampak ini bersifat struktural menyenth ranah psikologis, budaya, hingga insitusi pendidikan dan social.

Fenomena ini tidak lagi abstark; ia nyata di depan mata kita. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah sekolah di Indonesia mulai melaporkan penurunan kemampuan komunikasi lisan dan kerja kelompok di kalangan siswa. Dilingkungan perkotaan, anak-anak lebih akrab dengan layat ponsel ketimbang permainan tradisional atau obrolan dengan teman sebaya. Tak jarang pula kita menyaksikan pasangan mudayang sibuk dengan media sosialnya masing-masing saat berkencan di kafe, seolah layar menjadi perantara yang tidak lagi bias dilepas.dinegara negara seperti jepang dan Korea selatan, muncul istilah seperi hikikomori dan digital detox retreat yang menandakan perlunya menyembuhkan manusia dari keterasingan ekstrim akibat paparan digital yang ekstrim. Semua ini menggambarkan bagaimana konektivitas digital, jika tidak diiringi kesadaran sosial, bisa menjauhkan manusia dari esensi kemanusiaan sendiri: relasi yang hangat, langsung, dan bermakna.

Untuk mengatasi paradoks “Manusia digital: dekat secara sinyal, jauh secara social”. Kita perlu membangun kesadaran baru dalam menggunakan teknologi. Kesadaran digital atau digital mindfullnes mengajarkan ita untuk tidak sekedar online, tetapi benar-benar hadir dalam relasi. Membatasi waktu penggunaan handphone di momen penting sepertimakan bersama atau kumpul keluarga, bias menjadi langkah awal. Selain itu, penting untuk lebih memprioritaskan interaksi tatap muka daripada interaksi lewat pesan singkat. Jika jarak menjadi kendala video caal bias menjadi alternatif yang lebih mnusiawi dibandingkan teks. Dalam bersosial media kita juga perlu lebih reflektif: berbagi hal yang otentik dan membangun, bukan hanya untuk pencitraan. Menumbuhakn empati digital dapat mengidupkan kembali kehangatan dalam komunikasi daring.

Keterlibatan aktif dalam komunitas nyata serta pendidikan etika digital sejak dini akan membantu menyeimbangkan kehidupan virtual dam social. Dengan langkah kecil yang konsisten, kita bisa menjadikan teknologi sebagai jembatan yang memperkuat hubungan antaramanusia, bukan malah menjauhkan. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Kepemimpinan Bahlil Lahadalia dalam Dinamika Investasi dan Politik Nasional
Hilangnya Akses atas Tanah dalam Proyek Strategis Nasional: Analisis Kasus Bapak Alimusu di Obi, Halmahera Selatan
Miliaran Rupiah Menguap, Maidi Hanya Dapat Tumpangan Masalah
Kajian Sosiologi Terhadap Fenomena Belanja Online
Logika Akumulasi dan Ekologi yang Tersingkirkan
DOB Sofifi: Vonis Mati Atas Kegagalan Pemkot Tidore?
RSUD Tidore “Cuci Piring” di Balik Hutang Rp2,6 Miliar; Transparansi Dana atau Sekadar Topeng Ketidakadilan?
Post-Truth dan Matinya Nalar Kritis Publik
Berita ini 65 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 7 Juni 2026 - 01:43 WIT

HUT ke-23 Halmahera Selatan, Asosiasi Dump Truck Obi Siap Dukung Percepatan Pembangunan Daerah

Kamis, 4 Juni 2026 - 00:58 WIT

Nuansa Religius Warnai Pernikahan Eka Saputra dan Satrina Sukardi Dom di Gane Barat Utara

Selasa, 2 Juni 2026 - 13:12 WIT

Abdul Kadir Uswanas Terpilih Menjadi Ketua Umum BPD HIPMI Maluku Utara 2026–2029, Momentum Persatuan dan Kemajuan Pengusaha Muda

Selasa, 2 Juni 2026 - 00:24 WIT

Junaidi Abusama: Persoalan RSUD Labuha Tak Kunjung Tuntas, Fraksi PKB Siap Dorong Pembentukan Pansus DPRD

Minggu, 31 Mei 2026 - 14:53 WIT

PT Wijaya Kencana dan PT Poleko Yubarson Salurkan Pupuk Organik, Dukung Ketahanan Pangan Petani Obi

Sabtu, 30 Mei 2026 - 10:40 WIT

BARAH dan ASLAD Semprot Harita Group: Janji Pelabuhan Speed Boat Tak Kunjung Terwujud, Massa Siap Turun Besar-Besaran

Sabtu, 30 Mei 2026 - 07:26 WIT

Kepala ULP PLN Saketa Angkat Bicara Soal Beban Listrik dan Masa Depan Infrastruktur Energi

Sabtu, 30 Mei 2026 - 04:26 WIT

Tebarkan Kepedulian, Ciptakan Kebersamaan, IARMI Maharuyung Jabodetabek Gelar Bakti Sosial di Momentum Iduladha

Berita Terbaru