Kajian Sosiologi Terhadap Fenomena Belanja Online

- Penulis Berita

Minggu, 10 Mei 2026 - 06:18 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Gledis AnastasyaMahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiya Maluku Utara

Di era modern seperti sekarang, kehidupan masyarakat semakin erat dan tidak terpisahkan dari kehadiran teknologi digital. Kemajuan teknologi informasi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari cara bekerja, berkomunikasi, belajar, hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hampir semua aktivitas kini dapat diselesaikan hanya melalui telepon pintar/Hendpon, ini bukan sekadar teknologi melainkan juga salah satu fenomena yang paling terlihat dan banyak terjadi, khususnya di kalangan generasi muda dan mahasiswa, yang dimana meningkatnya kebiasaan belanja online melalui berbagai aplikasi digital.

Beberapa waktu lalu, penulis mencoba mengamati lingkungan sekitar, kampus, maupun tempat tinggal. Terlihat jelas bahwa teman-teman mahasiswa lebih sering memilih membeli kebutuhan sehari-hari melalui aplikasi belanja online dibandingkan harus pergi langsung ke pasar atau toko secara fisik. Hal ini bukan sekadar membeli barang, melainkan sudah menjadi gaya hidup. Mulai dari makanan, pakaian, perlengkapan kuliah, hingga kebutuhan kosmetik dan barang-barang hobi, semuanya dapat didapatkan hanya dengan mengakses satu aplikasi belanja saja. Fenomena ini begitu masif hingga hampir menjadi kebiasaan yang umum dan dianggap wajar oleh sebagian besar kalangan muda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika dilihat sekilas, hal ini mungkin hanya terlihat sebagai perubahan cara bertransaksi yang biasa-biasa saja. Namun, jika kita telaah lebih dalam menggunakan ilmu sosiologi, fenomena ini ternyata memiliki makna yang sangat luas dan kompleks. Sosiologi membantu kita memahami bahwa di balik aktivitas belanja tersebut, terdapat proses perubahan budaya, serta perubahan pola hubungan sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Sosiologi mengajarkan kita untuk tidak hanya melihat apa yang terlihat di permukaan, tetapi juga memahami hubungan sebab-akibat serta dampak jangka panjang dari perubahan perilaku manusia akibat adanya teknologi.
Mengapa Sosiologi Sangat Penting dalam Melihat Fenomena Ini?
Sosiologi pada dasarnya adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan sosial masyarakat, pola hubungan antarindividu, interaksi antar kelompok, serta perubahan yang terjadi dalam struktur dan budaya masyarakat. Dalam konteks masyarakat modern yang terus bergerak cepat, sosiologi menjadi sangat penting karena kehidupan manusia senantiasa berubah, didorong oleh faktor perkembangan teknologi, informasi, hingga arus globalisasi yang tak terbatas.

Melalui sudut pandang sosiologi, kita dapat memahami bahwa belanja online bukan sekadar aktivitas jual beli barang atau pertukaran uang dengan barang, melainkan bagian nyata dari proses perubahan sosial dan pergeseran budaya yang besar. Jika kita menengok ke belakang beberapa tahun yang lalu , kebiasaan masyarakat sangat berbeda. Dulu, orang harus meluangkan waktu, tenaga, dan biaya untuk datang langsung ke pasar tradisional atau pusat perbelanjaan untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Proses ini melibatkan interaksi tatap muka, tawar-menawar, dan kehadiran fisik.

Namun sekarang, segala proses tersebut berubah drastis. Semuanya dapat diselesaikan hanya dengan beberapa kali klik pada layar ponsel, lalu barang akan diantarkan langsung ke depan pintu rumah. Perubahan cara bertindak ini menunjukkan bahwa masyarakat modern cenderung mengutamakan nilai efisiensi, kecepatan, kepraktisan, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai sosial yang dulunya sangat mengutamakan interaksi dan hubungan langsung, kini perlahan bergeser menjadi nilai kepraktisan dan efektivitas waktu. Ini adalah bukti nyata dari teori perubahan sosial yang menyatakan bahwa kemajuan teknologi adalah salah satu pendorong utama perubahan kebudayaan dan pola hidup masyarakat.

Pengaruh Media Sosial dan Kelompok Acuan terhadap Perilaku Konsumen
Salah satu faktor yang membuat belanja online berkembang sangat pesat adalah keterkaitannya yang erat dengan media sosial. Media sosial memiliki kekuatan yang sangat besar dalam membentuk pola pikir dan perilaku para anak muda zaman sekarang. Pengaruh ini bekerja melalui mekanisme penyebaran informasi yang cepat serta pembentukan tren budaya populer.

Banyak mahasiswa atau generasi muda tertarik untuk membeli suatu barang tertentu bukan semata-mata karena kebutuhan mendesak, melainkan karena pengaruh apa yang mereka lihat di media sosial. Misalnya, ketika ada produk pakaian, atau barang elektronik yang sedang viral di TikTok, Instagram, atau YouTube, maka akan muncul keinginan yang kuat untuk membelinya. Dari sudut pandang sosiologi, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep Kelompok Acuan (Reference Group). Kelompok acuan adalah kelompok sosial yang dijadikan tolak ukur atau standar oleh seseorang dalam menilai dirinya sendiri, membentuk sikap, dan menentukan perilakunya. Dalam hal ini, influencer, teman sebaya, atau tren yang ada di media sosial menjadi kelompok acuan bagi individu.

Individu merasa harus mengikuti apa yang sedang tren agar diterima dalam lingkungan pergaulannya, dan tidak dianggap ketinggalan zaman, atau agar memiliki status sosial yang sama dengan kelompoknya. Di sinilah muncul apa yang disebut sebagai Gaya Hidup Konsumtif. Sebagian masyarakat, khususnya kalangan muda, membeli barang bukan lagi didasarkan pada prinsip kebutuhan, melainkan didasarkan pada prinsip keinginan, gengsi, atau sekadar ingin mengikuti arus tren yang sedang berlangsung. Tindakan konsumsi di sini berubah makna menjadi simbol status sosial, identitas diri, dan bentuk pengakuan sosial.

Adapun dampak positif dan negatif dari berbelanja online. Dari sisi positifnya, kemajuan ini memberikan kemudahan akses bagi masyarakat. Orang-orang kini dapat mendapatkan barang dari berbagai daerah bahkan luar negeri tanpa harus berpergian jauh, menghemat waktu, dan tenaga. Bagi sektor ekonomi, hal ini membuka peluang usaha yang sangat luas. Pelaku usaha kecil, pedagang rumahan, hingga pengrajin lokal kini memiliki kesempatan yang sama untuk memasarkan produknya secara luas tanpa harus memiliki toko fisik yang besar dan mahal. Hal ini menciptakan lapangan kerja baru dan mengubah struktur ekonomi masyarakat menjadi lebih dinamis dan terbuka.

Namun di sisi lain, terdapat juga dampak negatif yang cukup mendasar dan berpengaruh pada struktur sosial masyarakat. Kebiasaan belanja online yang sangat mudah dan cepat dapat memicu perilaku konsumtif yang berlebihan dan sulit untuk dikendalikan. Kemudahan akses pembayaran dan beragam promosi seringkali membuat seseorang menghabiskan uangnya untuk barang yang sebenarnya tidak diperlukan, yang pada akhirnya menimbulkan masalah ekonomi pribadi, atau pemborosan.

Lebih jauh lagi, dampak yang paling terasa dalam kajian sosiologi adalah terjadinya penurunan kualitas interaksi sosial. Dulu, kegiatan belanja di pasar atau toko adalah ruang terjadinya interaksi sosial, komunikasi, dan hubungan antarmanusia yang membangun keakraban. Kini, dengan belanja online, transaksi menjadi transaksi antarmesin atau antaraplikasi. Pertemuan tatap muka berkurang drastis, hubungan sosial menjadi lebih dangkal, dan jarak emosional antarindividu perlahan terasa semakin menjauh. Hal ini sesuai dengan teori modernisasi yang menyatakan bahwa masyarakat modern cenderung menjadi lebih individualis dan rasional, namun seringkali mengorbankan nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas sosial yang erat.

Selain itu, fenomena ini juga mempertegas adanya kesenjangan sosial baru yang disebut Kesenjangan Digital. Tidak semua lapisan masyarakat mampu mengikuti perkembangan teknologi ini dengan mudah. Masih ada sebagian masyarakat, terutama mereka yang berusia lanjut, tinggal di daerah terpencil, atau yang memiliki keterbatasan ekonomi dan pengetahuan, yang merasa tertinggal dan sulit beradaptasi. Di sinilah terlihat bahwa kemajuan teknologi belum tentu dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat, sehingga berpotensi memperlebar jurang pemisah antara kelompok masyarakat yang melek teknologi dengan yang belum.

Kesimpulan dan Refleksi

Secara keseluruhan, fenomena belanja online adalah bukti nyata bahwa masyarakat modern senantiasa mengalami perubahan sosial yang sangat dinamis akibat adanya kemajuan teknologi. Melalui kacamata sosiologi, kita memahami bahwa perubahan ini bukan hanya soal perubahan cara berbelanja, tetapi menyangkut perubahan pola pikir, budaya, nilai sosial, dan struktur hubungan antarmanusia. Teknologi berperan sebagai kekuatan besar yang mengubah cara kita hidup, berinteraksi, dan memandang dunia sekitar.

Sebagai generasi muda yang tumbuh di tengah kemajuan ini, kita memiliki tanggung jawab besar untuk memanfaatkan teknologi secara bijak dan arif. Kemudahan yang ditawarkan oleh dunia digital seharusnya menjadi alat yang membantu meringankan beban kehidupan manusia, bukan malah menjadi alat yang membuat kita kehilangan kendali atas diri sendiri, terjebak dalam gaya hidup boros, atau melupakan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan yang penting.

Perubahan sosial memang tidak bisa dihindari, namun kita yang menentukan arah perubahan tersebut. Kita harus mampu menyeimbangkan antara kemajuan teknologi dengan kelestarian nilai sosial, agar kemajuan teknologi dan modernitas tetap berjalan selaras dengan nilai sosial dan kemanusiaan. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Kepemimpinan Bahlil Lahadalia dalam Dinamika Investasi dan Politik Nasional
Hilangnya Akses atas Tanah dalam Proyek Strategis Nasional: Analisis Kasus Bapak Alimusu di Obi, Halmahera Selatan
Miliaran Rupiah Menguap, Maidi Hanya Dapat Tumpangan Masalah
Logika Akumulasi dan Ekologi yang Tersingkirkan
DOB Sofifi: Vonis Mati Atas Kegagalan Pemkot Tidore?
RSUD Tidore “Cuci Piring” di Balik Hutang Rp2,6 Miliar; Transparansi Dana atau Sekadar Topeng Ketidakadilan?
Post-Truth dan Matinya Nalar Kritis Publik
Paradoks Program IMS-ADIL Antara Pendidikan Gratis vs Umroh Gratis
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 04:26 WIT

Tebarkan Kepedulian, Ciptakan Kebersamaan, IARMI Maharuyung Jabodetabek Gelar Bakti Sosial di Momentum Iduladha

Sabtu, 23 Mei 2026 - 16:45 WIT

Bawa Nama Halsel ke Tingkat Nasional, Soleman Bobote Raih Penghargaan Bergengsi

Rabu, 8 April 2026 - 15:42 WIT

GMNI Desak Kapolri Evaluasi Wadir Intelkam Polda Malut, Diduga Lecehkan Marwah Organisasi

Jumat, 3 April 2026 - 11:59 WIT

Terbongkar! 7 Hektare Lahan Diduga Dijual Tanpa Sepengetahuan Pemilik, GMNI dan BARAH Ungkap Fakta Lapangan

Rabu, 11 Maret 2026 - 09:42 WIT

Rabu, 11 Februari 2026 - 03:25 WIT

Bupati Bassam Kasuba: Pers Garda Terdepan Lawan Hoaks dan Jembatan Suara Rakyat

Minggu, 8 Februari 2026 - 05:27 WIT

Munawir Resmi Nahkodai GMNI Halsel, Tegaskan Soliditas dengan DPP GMNI RI

Jumat, 6 Februari 2026 - 13:46 WIT

Ancaman Jutaan Ton Limbah Slag Nikel PT.Harita Group, Kesiapan Pengelolaan Dipertanyakan

Berita Terbaru