Oleh: Afrid Idham – Literacy Activist Forum Insan Cendikia Sektor Unutara & Mahasiswa Pendidikan IPS Unutara
MENJADI mahasiswa Pendidikan IPS di Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara adalah langkah sadar saya untuk menjemput profesi guru. Namun, di pundak profesi ini, terpikul pertanyaan besar, Apa makna sejati pendidikan di tengah kepungan era modern?
Pendidikan sejatinya adalah usaha terencana untuk memanusiakan manusia mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara moral. Saat ini, kita berdiri di persimpangan jalan. Di satu sisi, digitalisasi menawarkan akses sumber belajar tanpa batas dan metode interaktif yang memukau. Namun di sisi lain, jika teknologi diadopsi tanpa ruh kemanusiaan, pendidikan berisiko terjebak menjadi sekadar sistem mekanis yang mengejar efisiensi dan hasil angka, sementara aspek akhlak, sopan santun, dan empati kian terpinggirkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kehadiran teknologi memungkinkan siswa belajar mandiri dengan ritme mereka sendiri serta memperkuat literasi digital. Namun, tantangan terbesarnya adalah menjaga agar inovasi ini tidak menggerus peran kemanusiaan.
Fenomena kekerasan di lingkungan sekolah yang kerap viral di media sosial baik dari guru maupun murid menjadi alarm keras bagi kita. Ini adalah bukti nyata bahwa ada retakan dalam aspek mental, emosional, dan relasi manusiawi di sekolah. Teknologi tidak boleh menggantikan kehangatan interaksi, ia harus menjadi jembatan, bukan dinding pemisah antara pendidik dan peserta didik.
Di era Society 5.0, teknologi dan masyarakat harus terintegrasi secara harmonis. Pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada keterampilan praktis-teknokratis semata. Jika kita hanya mengejar skill teknis dan mengabaikan nilai batiniah, kita sedang menciptakan robot, bukan manusia.
Pendidikan modern harus mendefinisikan ulang posisinya, Teknologi adalah alat sementara nilai kemanusiaan adalah kompas.
Empati, Etika, dan Tanggung Jawab Harus menjadi penggerak utama dalam pembentukan karakter. Generasi Z dan Alpha Harus kita arahkan agar tidak hanya “melek teknologi”, tetapi juga “melek moral”.
Masa depan pendidikan yang ideal bukanlah tentang seberapa canggih gawai di dalam kelas, melainkan seberapa mampu kita menyelaraskan kemajuan teknis dengan keluhuran budi pekerti secara seimbang. Sejalan dengan pemikiran tokoh bangsa, Tan Malaka bahwa ”Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan.” Jika salah satu dari ketiga hal tersebut hilang, maka pendidikan telah gagal dalam tugas sucinya. (*)











