OBI, Nalarsatu.com – Ketegangan terjadi di Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Halmahera Selatan, setelah Nanlessy bersama keluarganya mendatangi lokasi aktivitas proyek dan berupaya menghentikan pekerjaan yang tengah berlangsung di atas lahan yang mereka klaim sebagai tanah keluarga. Insiden ini terjadi menyusul dugaan perampasan lahan serta pengrusakan area yang berada tepat di atas sumber mata air utama warga Kawasi.
Di lokasi kejadian, Nanlessy dengan tegas menyatakan bahwa lahannya diambil tanpa pernah ada musyawarah atau pembicaraan terlebih dahulu dengan pihak keluarga. Ia menilai tindakan tersebut bukan hanya merugikan keluarganya, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup seluruh warga Kawasi.
“Lahan keluarga kami dirampas tanpa ada pembicaraan sama sekali. Yang lebih parah, pengrusakan dilakukan tepat di atas mata air minum Kawasi. Ini bukan sekadar soal tanah, tetapi soal hidup dan mati masyarakat di sini,” ujar Nanlessy Rabu (11/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, mata air tersebut merupakan satu-satunya sumber air bersih yang tersisa bagi warga Kawasi. Karena itu, setiap aktivitas yang berpotensi merusaknya dianggap sebagai ancaman serius terhadap keberlanjutan kehidupan masyarakat setempat.
“Warga tidak pernah setuju mata air ini dirusak. Ini satu-satunya mata air yang masih tersisa di Kawasi. Apa pun alasannya, mata air ini sangat berarti untuk kelanjutan hidup kami,” tegasnya.
Nanlessy menambahkan, pihaknya sebelumnya sudah berulang kali mengingatkan bahwa lahan tersebut tidak pernah diberikan, terlebih lagi karena berada di area sumber mata air yang menjadi kebutuhan vital warga. Namun, peringatan tersebut diabaikan dan aktivitas proyek tetap dilanjutkan.
“Kami sudah mengingatkan sejak awal bahwa lahan ini tidak kami serahkan, apalagi ini adalah lokasi mata air kami. Tapi mereka tetap saja melanjutkan pekerjaan seolah-olah peringatan kami tidak berarti apa-apa,” kata Nanlessy.

Ia juga mengungkapkan kecurigaannya bahwa pengrusakan di area mata air bukan sekadar insiden, melainkan bagian dari skema yang lebih besar.
“Pengrusakan dilakukan tepat di atas mata air. Ini membuat kami curiga ada upaya pemindahan paksa terhadap masyarakat Kawasi. Seolah-olah kalau mata air rusak, warga tidak punya pilihan selain pergi,” katanya.
Kedatangan Nanlessy dan keluarganya ke lokasi proyek sempat menghentikan sementara aktivitas di lapangan. Mereka berdiri di area pekerjaan sambil menyampaikan penolakan keras terhadap tindakan yang dinilai merampas hak-hak warga dan merusak lingkungan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak perusahaan maupun pemerintah setempat terkait tudingan tersebut. Warga Kawasi berharap ada langkah mediasi dan penyelesaian yang adil, serta perlindungan terhadap mata air yang menjadi sumber kehidupan mereka. (red)







