Dari Cangkul ke Ekskavator: Krisis Identitas dan Ekologi di Balik Ekspansi Tambang di Maluku Utara

- Penulis Berita

Rabu, 18 Maret 2026 - 01:36 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Adriano HusainPengurus HMI Cabang Ternate, Bidang Hukum Dan HAM

IDENTITAS masyarakat tidak pernah netral; ia selalu dibentuk oleh relasi kuasa dan kepentingan ekonomi yang dominan. Di Maluku Utara, pergeseran dari masyarakat tani dan nelayan menuju masyarakat tambang bukan sekadar perubahan sektor pekerjaan, melainkan gejala krisis identitas yang lahir dari penetrasi kapitalisme ekstraktif. Komoditas, dalam konteks ini, bukan hanya alat tukar ekonomi, tetapi instrumen yang membentuk ulang cara pandang manusia terhadap dirinya, lingkungannya, dan masa depannya.

Selama berabad-abad, masyarakat Maluku Utara hidup dalam struktur ekonomi yang relatif seimbang antara darat dan laut. Bertani dan melaut bukan hanya aktivitas produksi, tetapi juga praktik kebudayaan yang sarat makna. Relasi manusia dengan alam dibangun atas dasar keberlanjutan, bukan eksploitasi. Namun, masuknya industri tambang khususnya nikel telah merombak fondasi tersebut secara radikal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ekspansi tambang membawa logika baru: alam bukan lagi ruang hidup, melainkan objek ekstraksi. Dalam logika ini, tanah kehilangan makna kulturalnya dan direduksi menjadi nilai ekonomi. Laut tidak lagi dipandang sebagai sumber kehidupan jangka panjang, melainkan sebagai ruang yang dapat dikorbankan demi kepentingan industri. Pergeseran ini bukan hanya material, tetapi juga ideologis. Masyarakat dipaksa secara halus maupun struktural untuk menerima bahwa kemajuan hanya dapat dicapai melalui eksploitasi sumber daya.

Identitas sebagai petani dan nelayan yang sebelumnya melekat kuat kini perlahan mengalami delegitimasi. Profesi tersebut dianggap tidak lagi menjanjikan secara ekonomi. Sebaliknya, menjadi pekerja tambang dipromosikan sebagai simbol modernitas dan kesejahteraan. Namun, narasi ini problematik. Ia menutupi fakta bahwa industri tambang bersifat sementara, eksploitatif, dan sering kali meninggalkan kerusakan ekologis yang sulit dipulihkan.

Lebih jauh, transformasi ini menciptakan ketergantungan ekonomi yang berbahaya. Masyarakat tidak lagi memiliki kontrol penuh atas sumber penghidupannya. Mereka bergantung pada perusahaan tambang yang sewaktu-waktu dapat menghentikan operasi. Ketika itu terjadi, masyarakat tidak hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga telah kehilangan kemampuan untuk kembali ke identitas lamanya sebagai petani atau nelayan.
Dari sisi sosial, pergeseran ini juga melahirkan fragmentasi. Nilai-nilai kolektivitas yang dahulu menjadi ciri khas masyarakat agraris dan maritim mulai terkikis. Relasi sosial menjadi lebih transaksional dan kompetitif. Ketimpangan ekonomi semakin terlihat antara mereka yang terlibat langsung dalam industri tambang dan mereka yang terdampak tanpa memperoleh manfaat signifikan.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak ekologis yang sering diabaikan. Deforestasi, pencemaran air, dan kerusakan ekosistem laut bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga ancaman terhadap keberlangsungan identitas masyarakat itu sendiri. Ketika alam rusak, maka basis material dari identitas lama ikut hilang. Dalam kondisi ini, masyarakat tidak hanya mengalami perubahan identitas, tetapi juga kehilangan akar eksistensialnya.

Dengan demikian, pergeseran komoditas dari pertanian dan perikanan ke pertambangan di Maluku Utara harus dibaca secara kritis. Ini bukan sekadar cerita tentang pembangunan, tetapi juga tentang bagaimana identitas masyarakat dikonstruksi ulang melalui logika kapitalisme ekstraktif. Jika tidak ada upaya serius untuk mengontrol dan menyeimbangkan proses ini, maka yang terjadi bukanlah transformasi, melainkan penghapusan identitas secara perlahan.

Pertanyaannya bukan lagi apakah masyarakat Maluku Utara akan berubah, tetapi apakah perubahan itu akan membawa kemandirian atau justru memperdalam ketergantungan dan krisis yang lebih luas. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Post-Truth dan Matinya Nalar Kritis Publik
Paradoks Program IMS-ADIL Antara Pendidikan Gratis vs Umroh Gratis
Geothermal dalam Masyarakat Risiko: Kritik Political Ecology atas Ilusi Energi Hijau
“Taba”: Etos Ketabahan Orang Makian
Pendidikan di Era Modern: Menyelaraskan Inovasi Teknologi dengan Nilai Kemanusiaan
Agar Tak Bingung Saat Di Tanya, Mahasiswa Paham Arah Kampusnya
Kampus Tumbuh Dari Dialog, Bukan Dari Ketakutan.
Satu Napas Perubahan : Manifesto Satu Tahun Forum Insan Cendikia
Berita ini 68 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 07:45 WIT

Warga Halsel Keluhkan Pelayanan Tiket KM Satria 99 Expres, Diduga Tidak Transparan

Kamis, 2 April 2026 - 06:24 WIT

Israel Sahkan UU Hukuman Mati bagi Tahanan Palestina, Ketua Umum PB PII: Indonesia Harus Serukan Penolakan

Senin, 30 Maret 2026 - 01:39 WIT

Tes Kemampuan Akademik di Ponpes Salafi’iyah Al Khairaat Maffa Berjalan Lancar

Minggu, 29 Maret 2026 - 11:56 WIT

Datangi Bupati dan DPRD Halsel Senin Besok, Keluarga Alimusu Mencari Keadilan

Rabu, 25 Maret 2026 - 09:52 WIT

Alimus Tempuh Jalur Hukum, Dugaan Penyerobotan Lahan dan Penipuan Dilaporkan ke Polres Halsel

Selasa, 24 Maret 2026 - 09:47 WIT

BKM Masjid Nur Insani Gelar Sholat Idul Fitri 1447 H, Angkat Tema Kemenangan dan Kebaikan

Kamis, 19 Maret 2026 - 22:56 WIT

Lebaran Beda Tanggal, Warga Moloku Rayakan 20 Maret, Pemerintah dan NU 21 Maret

Rabu, 18 Maret 2026 - 13:02 WIT

KB PII Halsel Gandeng FIC, Warkop, dan OSIS Se-Bacan Berbagi Takjil dan Buka Puasa Bersama

Berita Terbaru

Opini

Post-Truth dan Matinya Nalar Kritis Publik

Kamis, 26 Mar 2026 - 04:27 WIT