Pendidikan yang Membebaskan

- Penulis Berita

Jumat, 31 Oktober 2025 - 19:36 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Afrid Idham (Anggota Forum Insan Cendikia Sektor Unutara)

 

PENDIDIKAN merupakan pondasi utama dalam membangun peradaban manusia. Ia bukan sekadar proses transfer ilmu dari guru kepada siswa, melainkan ruang pembentukan kesadaran, karakter, dan daya kritis individu terhadap realitas sosial di sekitarnya. Melalui pendidikan, seseorang dapat memahami dirinya, lingkungannya, serta mampu berperan aktif dalam perubahan sosial. Namun, dalam praktiknya, pendidikan sering kali hanya dipahami sebatas rutinitas formal di sekolah tanpa menyentuh esensi pembebasan yang sejatinya menjadi ruh pendidikan itu sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sepenting apa sih pendidikan. Pendidikan sangat penting dalam kehidupan, sebab dengan pendidikan kita tidak mudah didiskriminasi atau ditindas. Saya mengutip salah satu tokoh pendidikan dari Brasil, Paulo Freire, yang mengatakan bahwa pendidikan adalah bagian dari pembebasan, bukan perbudakan. Saya menganalisis pernyataan Paulo Freire dalam konteks pendidikan formal bahwa siswa harus diajak berdialektika bersama guru agar mampu memahami dan mengembangkan cara berpikir mereka secara kritis untuk memecahkan suatu masalah, bukan sekadar menjadikan guru sebagai penceramah.

Selain itu, pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang harus melekat pada setiap orang agar dapat mengetahui perkembangan zaman dan mampu merespons berbagai problem yang terjadi di lingkungan masyarakat. Melalui pendidikan, manusia tidak hanya dibentuk menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial.

Dalam dunia pendidikan, kita mengenal istilah kurikulum. Bagi penulis Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi, bahan pelajaran, serta cara pelaksanaannya yang dijadikan sebagai pedoman pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum juga menjadi cerminan bagi guru dalam mengajar dan membantu siswa memahami apa yang dipelajari sesuai dengan metode yang diterapkan.

Adapun kurikulum yang berlaku saat ini adalah Kurikulum Merdeka, yang fokus utamanya memberikan keleluasaan kepada tenaga pendidik dan sekolah untuk merancang pembelajaran sesuai dengan keterampilan dan potensi siswa. Selain itu, masih ada juga Kurikulum 2013 (K-13) yang digunakan sekitar 53% sekolah di Indonesia. Namun, sayang seribu sayang, harapan agar kurikulum diterapkan dengan baik sering kali tidak sesuai dengan realitas di lapangan. Masih banyak guru yang berperan terlalu dominan di dalam kelas tanpa memberikan ruang dialog dengan siswa. Kondisi ini menjadi salah satu masalah serius yang perlu mendapat perhatian, karena akan membuat siswa bosan, sulit memahami pelajaran, dan hasil belajar pun menjadi tidak efektif.

Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan perubahan paradigma dalam proses pembelajaran di sekolah. Guru harus menjadi fasilitator, bukan pusat pengetahuan tunggal. Siswa perlu diberikan ruang berpikir kritis, berdiskusi, dan mengekspresikan gagasannya tanpa takut salah. Pemerintah melalui lembaga pendidikan juga harus memperkuat pelatihan bagi guru agar mampu menerapkan pendekatan dialogis sebagaimana yang ditekankan oleh Paulo Freire. Selain itu, sekolah perlu menciptakan suasana belajar yang demokratis dan menyenangkan agar siswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga pelaku aktif dalam proses belajar.

Dengan demikian, pendidikan tidak lagi menjadi alat pembungkaman, melainkan sarana pembebasan yang sejati yang melahirkan generasi berkarakter, berpikir kritis, dan mampu membawa perubahan bagi dirinya serta masyarakatnya. )*

*Afrid Idham – Mahasiswa Pendidikan IPS Unutara

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Post-Truth dan Matinya Nalar Kritis Publik
Paradoks Program IMS-ADIL Antara Pendidikan Gratis vs Umroh Gratis
Dari Cangkul ke Ekskavator: Krisis Identitas dan Ekologi di Balik Ekspansi Tambang di Maluku Utara
Geothermal dalam Masyarakat Risiko: Kritik Political Ecology atas Ilusi Energi Hijau
“Taba”: Etos Ketabahan Orang Makian
Pendidikan di Era Modern: Menyelaraskan Inovasi Teknologi dengan Nilai Kemanusiaan
Agar Tak Bingung Saat Di Tanya, Mahasiswa Paham Arah Kampusnya
Kampus Tumbuh Dari Dialog, Bukan Dari Ketakutan.
Berita ini 76 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 3 April 2026 - 16:13 WIT

Untuk Menjaga Stabilitas, Rampai Nusantara Malut Dorong Pembentukan Pos Keamanan

Jumat, 3 April 2026 - 11:59 WIT

Terbongkar! 7 Hektare Lahan Diduga Dijual Tanpa Sepengetahuan Pemilik, GMNI dan BARAH Ungkap Fakta Lapangan

Kamis, 2 April 2026 - 07:45 WIT

Warga Halsel Keluhkan Pelayanan Tiket KM Satria 99 Expres, Diduga Tidak Transparan

Kamis, 2 April 2026 - 06:24 WIT

Israel Sahkan UU Hukuman Mati bagi Tahanan Palestina, Ketua Umum PB PII: Indonesia Harus Serukan Penolakan

Senin, 30 Maret 2026 - 01:39 WIT

Tes Kemampuan Akademik di Ponpes Salafi’iyah Al Khairaat Maffa Berjalan Lancar

Rabu, 25 Maret 2026 - 14:45 WIT

Alimusu Polisikan PT TBP (Harita Group) dan Kades Kawasi, Barah–GMNI Turun Gunung Kawal Dugaan Mafia Lahan

Rabu, 25 Maret 2026 - 09:52 WIT

Alimus Tempuh Jalur Hukum, Dugaan Penyerobotan Lahan dan Penipuan Dilaporkan ke Polres Halsel

Selasa, 24 Maret 2026 - 09:47 WIT

BKM Masjid Nur Insani Gelar Sholat Idul Fitri 1447 H, Angkat Tema Kemenangan dan Kebaikan

Berita Terbaru