“Tolak Relokasi Harita Group, Warga Kawasi Berteriak: ‘Tanah Leluhur Adalah Hidup Kami’”

- Penulis Berita

Sabtu, 6 Desember 2025 - 07:38 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KAWASI, Nalarsatu.com – Suara penolakan terhadap relokasi warga Kawasi kembali menguat. Dalam wawancara bersama Nalarsatu.com, Nurhayati Jumadil, salah satu warga yang lahir dan besar di Kawasi, menyampaikan kritik tajam terhadap kebijakan perusahaan tambang yang beroperasi di Pulau Obi, khususnya Harita Group, yang dinilainya mengancam ruang hidup masyarakat adat dan sejarah leluhur mereka.

Bagi Nurhayati, persoalan di Kawasi bukan hanya soal ekonomi atau ganti rugi. Lebih dari itu, ini menyangkut identitas, sejarah panjang, dan hubungan spiritual masyarakat dengan tanah tempat mereka hidup turun-temurun.

“Tanah leluhur sangat berharga bagi torang. Tanah ini punya sejarah panjang. Tempat ini yang membuat leluhur kami memutuskan tinggal dan bertahan hidup. Itu berarti sudah termasuk ketetapan Tuhan,” ungkap Nurhayati Sabtu (6/12).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menegaskan bahwa keberadaan masyarakat di Kawasi bukan kebetulan atau sekadar faktor geografis, melainkan keputusan generasi terdahulu yang melihat kawasan itu sebagai tempat yang layak untuk membangun masa depan keluarga. Tanah bukan hanya ruang fisik, tetapi warisan budaya dan spiritual yang tidak bisa dipindahkan dengan alasan apa pun.

Nurhayati mengkritik keras cara perusahaan menyikapi masyarakat seolah mereka adalah hambatan pembangunan. Menurutnya, pendekatan yang mengabaikan sejarah, adat, dan struktur sosial masyarakat justru memperbesar luka sosial yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

“Jangan karena mau ambil hasil kami lalu seenaknya pindahkan kami. Yang seharusnya perusahaan pindah, bukan kami,” tegasnya.

Pernyataan itu mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap relasi timpang antara masyarakat dan industri tambang, di mana keputusan strategis selalu berpihak pada modal dan bukan kepentingan warga.

Desa Kawasi,Warga Menolak Relokasi

Ketergantungan masyarakat pada ruang hidup mereka kebun, laut, sungai, dan tanah adat membuat relokasi bukan sekadar perpindahan fisik. Bagi masyarakat Kawasi, setiap jengkal tanah memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai sosial.

Nurhayati menjelaskan bahwa hilangnya tanah berarti hilangnya sumber penghidupan yaitu kebun-kebun yang ditanami generasi sebelumnya, akses laut untuk nelayan, mata pencaharian keluarga yang bertahan secara mandiri selama puluhan tahun.

“Kalau tanah hilang, torang mau makan apa? Mau bangun hidup dari mana? Perusahaan bisa pindah karena mereka punya modal dan alat. Tapi kami? Kami punya tanah dan sejarah itu saja,” ujar Nurhayati.

Selain dampak ekonomi, Nurhayati menyoroti ancaman terhadap kebudayaan lokal. Tradisi masyarakat Kawasi erat dengan ruang hidup: ritual adat, pengetahuan leluhur, dan hubungan dengan alam.

“Kalau tanah ini hilang, budaya juga hilang. Anak-anak nanti tinggal tahu cerita, tapi tidak merasakan tempat di mana leluhur pernah hidup,” tambahnya.

Dalam penutup wawancaranya, Nurhayati mendesak pemerintah untuk lebih hadir mengurusi kepentingan rakyat, bukan sekadar mempercepat investasi.

“Pemerintah harus dengar kami. Kami bukan anti pembangunan, tapi pembangunan yang menghapus identitas kami itu salah. Tanah leluhur harus dihargai,” katanya. (red)

 

 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

HUT ke-23 Halmahera Selatan, Asosiasi Dump Truck Obi Siap Dukung Percepatan Pembangunan Daerah
Nuansa Religius Warnai Pernikahan Eka Saputra dan Satrina Sukardi Dom di Gane Barat Utara
Abdul Kadir Uswanas Terpilih Menjadi Ketua Umum BPD HIPMI Maluku Utara 2026–2029, Momentum Persatuan dan Kemajuan Pengusaha Muda
Junaidi Abusama: Persoalan RSUD Labuha Tak Kunjung Tuntas, Fraksi PKB Siap Dorong Pembentukan Pansus DPRD
Satpol PP Halsel Razia Tempat Hiburan Malam, Lima LC Diamankan dan Dibina
PT Wijaya Kencana dan PT Poleko Yubarson Salurkan Pupuk Organik, Dukung Ketahanan Pangan Petani Obi
BARAH dan ASLAD Semprot Harita Group: Janji Pelabuhan Speed Boat Tak Kunjung Terwujud, Massa Siap Turun Besar-Besaran
Kepala ULP PLN Saketa Angkat Bicara Soal Beban Listrik dan Masa Depan Infrastruktur Energi
Berita ini 133 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 7 Juni 2026 - 01:43 WIT

HUT ke-23 Halmahera Selatan, Asosiasi Dump Truck Obi Siap Dukung Percepatan Pembangunan Daerah

Kamis, 4 Juni 2026 - 00:58 WIT

Nuansa Religius Warnai Pernikahan Eka Saputra dan Satrina Sukardi Dom di Gane Barat Utara

Selasa, 2 Juni 2026 - 13:12 WIT

Abdul Kadir Uswanas Terpilih Menjadi Ketua Umum BPD HIPMI Maluku Utara 2026–2029, Momentum Persatuan dan Kemajuan Pengusaha Muda

Selasa, 2 Juni 2026 - 00:24 WIT

Junaidi Abusama: Persoalan RSUD Labuha Tak Kunjung Tuntas, Fraksi PKB Siap Dorong Pembentukan Pansus DPRD

Minggu, 31 Mei 2026 - 14:53 WIT

PT Wijaya Kencana dan PT Poleko Yubarson Salurkan Pupuk Organik, Dukung Ketahanan Pangan Petani Obi

Sabtu, 30 Mei 2026 - 10:40 WIT

BARAH dan ASLAD Semprot Harita Group: Janji Pelabuhan Speed Boat Tak Kunjung Terwujud, Massa Siap Turun Besar-Besaran

Sabtu, 30 Mei 2026 - 07:26 WIT

Kepala ULP PLN Saketa Angkat Bicara Soal Beban Listrik dan Masa Depan Infrastruktur Energi

Sabtu, 30 Mei 2026 - 04:26 WIT

Tebarkan Kepedulian, Ciptakan Kebersamaan, IARMI Maharuyung Jabodetabek Gelar Bakti Sosial di Momentum Iduladha

Berita Terbaru