OBI, Nalarsatu.com – Di tengah tingginya ketergantungan masyarakat Obi Kabupaten Halmahera Selatan pada beras impor, keresahan terhadap masa depan pangan dan lingkungan semakin mengemuka. Harga beras yang terus melonjak dari tahun ke tahun tak hanya menekan ekonomi rumah tangga, tetapi juga memperlihatkan betapa rawannya ketahanan pangan di wilayah kepulauan tersebut.
Kondisi ini menjadi titik balik bagi generasi muda Obi untuk membaca peluang sekaligus mengambil peran. Di saat sebagian besar pembangunan bertumpu pada industri nikel dan pertambangan, seorang pemuda bernama Dabo alias Darwan, tampil dengan gagasan yang berbeda adalah membangun kekuatan ekonomi dari tanah sendiri.
Melalui inisiatifnya, lahirlah Kelompok Tani Muda Milenial Obi sebuah wadah yang mengajak generasi Z untuk tidak hanya mengejar pekerjaan di sektor industri besar, tetapi ikut menggerakkan pertanian, perikanan, dan UMKM sebagai fondasi ekonomi lokal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ketergantungan pada beras luar daerah adalah ancaman bagi masa depan kita. Generasi muda harus berani mengambil langkah untuk mengubah keadaan,” ujar Dabo saat ditemui Nalarsatu.com.

Dabo menegaskan bahwa membangun kemandirian pangan bukan satu-satunya tugas generasi muda. Mereka juga memikul tanggung jawab moral untuk menjaga alam di tengah maraknya izin usaha pertambangan (IUP) yang terus dikeluarkan pemerintah.
“Generasi muda Obi harus menjadi garda terdepan. Kita wajib memastikan pembangunan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan,” tegasnya.

Menurutnya, nilai-nilai kearifan lokal seperti menjaga tanah, air, dan hutan tidak boleh hilang ditelan kemajuan industri. Justru, nilai-nilai itulah yang menjadi identitas dan kekuatan masyarakat Obi sejak dahulu.
Dabo mengingatkan bahwa sejarah panjang industri ekstraktif di berbagai daerah menunjukkan satu pola: kemiskinan struktural, kerusakan lingkungan, dan ketergantungan.
“Tambang dan perusahaan kayu bukan jalan utama untuk menyejahterakan rakyat. Yang benar-benar mengangkat ekonomi adalah pertanian, perikanan, dan usaha lokal yang berbasis potensi alam yang lestari,” ucapnya.
Ia menilai bahwa generasi muda Obi tidak boleh lagi terjebak pada pola pikir bahwa lapangan kerja tambang adalah satu-satunya masa depan. Dengan kreativitas, teknologi, dan semangat kolaborasi, sektor pangan justru menyimpan potensi besar untuk membuka sumber pendapatan baru.
“Jangan pernah malu menjadi petani. Ini pekerjaan paling mulia memberi makan masyarakat sekaligus menjaga keseimbangan alam,” tambah Dabo. (red)











