Nanlessy Halangi Aktivitas Proyek: Tuding Perampasan Lahan dan Pengrusakan Mata Air Kawasi

- Penulis Berita

Rabu, 11 Februari 2026 - 04:15 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nanlessy bersama keluarganya mendatangi lokasi proyek dan berupaya menghentikan aktivitas pekerjaan di atas lahan yang mereka klaim sebagai tanah keluarga, Rabu (11/2). (Foto/Azu)

Nanlessy bersama keluarganya mendatangi lokasi proyek dan berupaya menghentikan aktivitas pekerjaan di atas lahan yang mereka klaim sebagai tanah keluarga, Rabu (11/2). (Foto/Azu)

OBI, Nalarsatu.com – Ketegangan terjadi di Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Halmahera Selatan, setelah Nanlessy bersama keluarganya mendatangi lokasi aktivitas proyek dan berupaya menghentikan pekerjaan yang tengah berlangsung di atas lahan yang mereka klaim sebagai tanah keluarga. Insiden ini terjadi menyusul dugaan perampasan lahan serta pengrusakan area yang berada tepat di atas sumber mata air utama warga Kawasi.

Di lokasi kejadian, Nanlessy dengan tegas menyatakan bahwa lahannya diambil tanpa pernah ada musyawarah atau pembicaraan terlebih dahulu dengan pihak keluarga. Ia menilai tindakan tersebut bukan hanya merugikan keluarganya, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup seluruh warga Kawasi.

“Lahan keluarga kami dirampas tanpa ada pembicaraan sama sekali. Yang lebih parah, pengrusakan dilakukan tepat di atas mata air minum Kawasi. Ini bukan sekadar soal tanah, tetapi soal hidup dan mati masyarakat di sini,” ujar Nanlessy Rabu (11/2).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Nanlessy & Keluarga datangi Lokasi

Menurutnya, mata air tersebut merupakan satu-satunya sumber air bersih yang tersisa bagi warga Kawasi. Karena itu, setiap aktivitas yang berpotensi merusaknya dianggap sebagai ancaman serius terhadap keberlanjutan kehidupan masyarakat setempat.

“Warga tidak pernah setuju mata air ini dirusak. Ini satu-satunya mata air yang masih tersisa di Kawasi. Apa pun alasannya, mata air ini sangat berarti untuk kelanjutan hidup kami,” tegasnya.

Nanlessy menambahkan, pihaknya sebelumnya sudah berulang kali mengingatkan bahwa lahan tersebut tidak pernah diberikan, terlebih lagi karena berada di area sumber mata air yang menjadi kebutuhan vital warga. Namun, peringatan tersebut diabaikan dan aktivitas proyek tetap dilanjutkan.

“Kami sudah mengingatkan sejak awal bahwa lahan ini tidak kami serahkan, apalagi ini adalah lokasi mata air kami. Tapi mereka tetap saja melanjutkan pekerjaan seolah-olah peringatan kami tidak berarti apa-apa,” kata Nanlessy.

Lahan dan Sumber Mata Air

Ia juga mengungkapkan kecurigaannya bahwa pengrusakan di area mata air bukan sekadar insiden, melainkan bagian dari skema yang lebih besar.

“Pengrusakan dilakukan tepat di atas mata air. Ini membuat kami curiga ada upaya pemindahan paksa terhadap masyarakat Kawasi. Seolah-olah kalau mata air rusak, warga tidak punya pilihan selain pergi,” katanya.

Kedatangan Nanlessy dan keluarganya ke lokasi proyek sempat menghentikan sementara aktivitas di lapangan. Mereka berdiri di area pekerjaan sambil menyampaikan penolakan keras terhadap tindakan yang dinilai merampas hak-hak warga dan merusak lingkungan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak perusahaan maupun pemerintah setempat terkait tudingan tersebut. Warga Kawasi berharap ada langkah mediasi dan penyelesaian yang adil, serta perlindungan terhadap mata air yang menjadi sumber kehidupan mereka. (red)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Aktivitas Galian C PT Pentangon Terang Asli di Obi Disorot, Diduga Beroperasi Tanpa Izin
Kades Gambaru Siap Turun Ukur Lahan Warga, Nasrudin M. Kasuba: Jika LA Tak Bersedia, Saya Bertanggung Jawab
Warga Hantam Sikap Kades Gambaru Nasrudin M. Kasuba : Jangan Jadi Budak Korporasi, Anda Harus Belajar dari Kades Fluk Utamakan Warga
Saat Tambang Belum Berproduksi, PT KTS Menyalakan Harapan Lewat Program “KTS Bersinar”
Ko Lok Gelar Tasyakuran dan Aqiqah Cucu, Ratusan Warga Hadir Panjatkan Doa
FAKI Desak KPK Usut Empat Proyek Jembatan Rp15,5 Miliar di Haltim, Minta Eks Kadis PUPR Diperiksa
LPP Tipikor Halteng Desak Polda Malut Selidiki Dugaan Perdagangan Skrap Ilegal
PEROK Ultimatum PT Harita Group: Hentikan Mobilisasi Karyawan atau Hadapi Blokade
Berita ini 144 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:01 WIT

Aktivitas Galian C PT Pentangon Terang Asli di Obi Disorot, Diduga Beroperasi Tanpa Izin

Minggu, 16 Agustus 2026 - 03:26 WIT

Kades Gambaru Siap Turun Ukur Lahan Warga, Nasrudin M. Kasuba: Jika LA Tak Bersedia, Saya Bertanggung Jawab

Minggu, 16 Agustus 2026 - 00:41 WIT

Warga Hantam Sikap Kades Gambaru Nasrudin M. Kasuba : Jangan Jadi Budak Korporasi, Anda Harus Belajar dari Kades Fluk Utamakan Warga

Jumat, 14 Agustus 2026 - 00:32 WIT

Saat Tambang Belum Berproduksi, PT KTS Menyalakan Harapan Lewat Program “KTS Bersinar”

Rabu, 29 Juli 2026 - 01:13 WIT

FAKI Desak KPK Usut Empat Proyek Jembatan Rp15,5 Miliar di Haltim, Minta Eks Kadis PUPR Diperiksa

Minggu, 26 Juli 2026 - 22:47 WIT

LPP Tipikor Halteng Desak Polda Malut Selidiki Dugaan Perdagangan Skrap Ilegal

Jumat, 24 Juli 2026 - 15:44 WIT

PEROK Ultimatum PT Harita Group: Hentikan Mobilisasi Karyawan atau Hadapi Blokade

Kamis, 23 Juli 2026 - 11:50 WIT

Respon Aksi Warga, Fraksi PKB Mendesak Pemda Halsel Segera Ambil Langkah Cepat Selesaikan Masalah Lahan di Pulau Obi

Berita Terbaru