Ternate, Nalarsatu.com – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Front Aliansi Mei Bergerak menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan Kantor Wali Kota Ternate pada Senin, 4 Mei 2026. Aksi yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional tersebut bertujuan untuk mendesak Pemerintah Kota Ternate agar segera menyelesaikan rentetan permasalahan krusial yang tengah melanda kota. Massa aksi memulai pergerakannya dari Kantor Dinas Perdagangan Kota Ternate sebelum akhirnya memusatkan kekuatan dengan mengepung Kantor Wali Kota Ternate hingga sore hari.
Gerakan ini didukung oleh gabungan organisasi besar yang terdiri dari Forum Insan Cendikia Maluku Utara, LMND, FMN, PMII, GMKI, GMNI, IMM, PII, hingga KAMMI Kota Ternate. Dalam orasinya, para demonstran menyoroti kondisi pendidikan yang dianggap belum berpihak pada rakyat kecil, sehingga mereka menuntut diwujudkannya pendidikan gratis yang ilmiah dan demokratis. Aliansi ini juga mendesak pemerintah untuk mengembalikan alokasi dana pendidikan sebesar 20 persen sesuai dengan amanat konstitusi serta memperbaiki fasilitas layanan pendidikan yang saat ini dinilai belum layak bagi para pelajar di Kota Ternate.
Selain sektor pendidikan, masalah kesejahteraan sosial dan penataan pasar menjadi poin utama dalam tuntutan mereka. Massa mendesak agar Pemerintah Kota lebih memprioritaskan akses penjualan bagi para ibu di Pasar Gamalama dan memberikan tempat yang layak bagi pedagang pisang serta pedagang pondak di Pasar Higienis. Ketidakteraturan pasar juga disoroti dengan adanya tuntutan untuk memusatkan satu jenis dagangan di tempat yang sama, pembukaan akses jalan di Pasar Barito, serta desakan untuk menurunkan biaya retribusi yang membebani masyarakat. Di sisi lain, aliansi juga menyuarakan urgensi layanan kesehatan dengan menuntut penambahan ambulans laut di tiga kecamatan terluar serta perlindungan bagi nasib buruh honorer.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Koordinator Lapangan, Asrun M. Jen Dosu, menyampaikan kekecewaan yang mendalam atas sikap apatis Pemerintah Kota Ternate. Menurutnya, ketidakhadiran Wali Kota Ternate untuk menemui massa aksi menunjukkan kurangnya itikad baik dalam merespons aspirasi rakyat. Meskipun aksi berlanjut hingga sore hari dengan pengawalan ketat, pihak pemerintah kota tidak kunjung memberikan kejelasan atau kepastian terkait tuntutan-tuntutan tersebut, sehingga massa mengancam akan terus mengawal isu ini hingga ada solusi nyata bagi masyarakat Ternate. (Red/Bisma)











