RSUD Tidore “Cuci Piring” di Balik Hutang Rp2,6 Miliar; Transparansi Dana atau Sekadar Topeng Ketidakadilan?

- Penulis Berita

Minggu, 5 April 2026 - 05:50 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : M. Ghazali Faraman -Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Maidi – IPMMA

LAPORAN mengenai keberhasilan manajemen baru RSUD Kota Tidore Kepulauan yang melunasi beban hutang sebesar Rp2,6 Miliar dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan memicu diskursus publik yang serius. Di satu sisi, ini adalah pencapaian administratif yang patut dicatat. Namun, di sisi lain, kecepatan pelunasan ini justru membuka kotak pandora mengenai apa yang sebenarnya terjadi di dalam “perut” institusi kesehatan tersebut selama ini.

Audit Investigatif: Melunasi Utang Bukan Berarti Menghapus Dosa Masa Lalu

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertanyaan fundamental yang harus dijawab oleh dr. Zuhrinah Ridwan selaku Direktur adalah: Bagaimana mungkin angka Rp2,6 Miliar bisa tertutupi hanya dalam hitungan hari? Jika dana tersebut diklaim sebagai hasil “optimalisasi pendapatan,” maka secara logika kita harus berasumsi bahwa pada manajemen sebelumnya terjadi kebocoran atau inefisiensi yang sangat masif.

Publik berhak mengetahui apakah hutang miliaran ini adalah “warisan busuk” dari kegagalan kepemimpinan sebelumnya? Jika benar, maka manajemen saat ini tidak boleh sekadar melakukan “cuci piring.” Harus ada transparansi mengenai penyebab utang tersebut agar publik tidak melihat ini sebagai sekadar seremoni tutup lubang, melainkan sebuah pertanggungjawaban hukum dan moral. Jangan sampai pelunasan ini hanya menjadi kedok untuk menutupi malpraktik anggaran yang pernah terjadi.

Saldo Kas Rp2 Miliar vs Perut Cleaning Service

Manajemen dengan bangga memamerkan saldo kas yang mencapai lebih dari Rp2 Miliar per April 2026. Namun, klaim “keuangan sehat” ini terasa sangat hambar bahkan cenderung melukai rasa keadilan jika kita melihat kondisi lapangan. Di tengah tumpukan uang miliaran tersebut, bagaimana dengan nasib para pegawai kontrak dan petugas cleaning service?

Sangat tidak etis apabila rumah sakit sibuk membicarakan pemeliharaan alat kesehatan yang mahal dan perbaikan sarana fisik, sementara di saat yang sama terjadi ketimpangan gaji yang mencolok. Petugas kebersihan adalah garda terdepan yang memastikan sterilitas rumah sakit, namun seringkali mereka menjadi kelompok yang paling terakhir merasakan “kesehatan” finansial sebuah institusi. Apakah manajemen sudah memastikan bahwa upah mereka layak dan dibayarkan tepat waktu tanpa potongan-potongan yang tidak masuk akal?

Jangan Jadikan “PR” Sebagai Alibi Penundaan Kesejahteraan

Rencana manajemen untuk memprioritaskan perbaikan alat kesehatan yang rusak memang penting, namun jangan sampai alasan tersebut dijadikan alibi untuk menomorduakan hak-hak normatif pekerja. Institusi pelayanan publik tidak boleh hanya fokus pada benda mati (alat medis) sambil mengabaikan manusia yang mengoperasikannya (tenaga kesehatan dan staf pendukung).

Saldo kas Rp2 Miliar tidak ada artinya jika semangat kerja di tingkat bawah masih layu akibat ketimpangan pendapatan. Kita tidak butuh RSUD yang hanya tampak mentereng di atas kertas laporan keuangan, sementara di dalamnya terdapat jeritan ketidakadilan upah.

Sebagai representasi dari mahasiswa, kami menuntut manajemen RSUD Kota Tidore Kepulauan untuk tidak hanya memberikan narasi keberhasilan lewat angka, tapi juga lewat kebijakan yang berpihak pada keadilan sosial. Transparansi sumber dana pelunasan utang dan pemerataan kesejahteraan pegawai adalah harga mati yang harus segera dibuktikan. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Kepemimpinan Bahlil Lahadalia dalam Dinamika Investasi dan Politik Nasional
Hilangnya Akses atas Tanah dalam Proyek Strategis Nasional: Analisis Kasus Bapak Alimusu di Obi, Halmahera Selatan
Miliaran Rupiah Menguap, Maidi Hanya Dapat Tumpangan Masalah
Kajian Sosiologi Terhadap Fenomena Belanja Online
Logika Akumulasi dan Ekologi yang Tersingkirkan
DOB Sofifi: Vonis Mati Atas Kegagalan Pemkot Tidore?
Post-Truth dan Matinya Nalar Kritis Publik
Paradoks Program IMS-ADIL Antara Pendidikan Gratis vs Umroh Gratis
Berita ini 165 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 03:49 WIT

Pemdes dan Masyarakat Moloku Gelar Doa Keselamatan HUT ke-23 Halmahera Selatan, Kades Harapkan Pembangunan Makin Meningkat

Minggu, 7 Juni 2026 - 01:43 WIT

HUT ke-23 Halmahera Selatan, Asosiasi Dump Truck Obi Siap Dukung Percepatan Pembangunan Daerah

Kamis, 4 Juni 2026 - 00:58 WIT

Nuansa Religius Warnai Pernikahan Eka Saputra dan Satrina Sukardi Dom di Gane Barat Utara

Selasa, 2 Juni 2026 - 13:12 WIT

Abdul Kadir Uswanas Terpilih Menjadi Ketua Umum BPD HIPMI Maluku Utara 2026–2029, Momentum Persatuan dan Kemajuan Pengusaha Muda

Senin, 1 Juni 2026 - 01:36 WIT

Satpol PP Halsel Razia Tempat Hiburan Malam, Lima LC Diamankan dan Dibina

Minggu, 31 Mei 2026 - 14:53 WIT

PT Wijaya Kencana dan PT Poleko Yubarson Salurkan Pupuk Organik, Dukung Ketahanan Pangan Petani Obi

Sabtu, 30 Mei 2026 - 10:40 WIT

BARAH dan ASLAD Semprot Harita Group: Janji Pelabuhan Speed Boat Tak Kunjung Terwujud, Massa Siap Turun Besar-Besaran

Sabtu, 30 Mei 2026 - 07:26 WIT

Kepala ULP PLN Saketa Angkat Bicara Soal Beban Listrik dan Masa Depan Infrastruktur Energi

Berita Terbaru