DOB Sofifi: Vonis Mati Atas Kegagalan Pemkot Tidore?

- Penulis Berita

Jumat, 10 April 2026 - 12:45 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: M. Ghazali Faraman – Mahasiswa Hukum Unkhair, Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Maidi – IPMMA

PARADOKS Makroekonomi dan Manipulasi Realitas Statistik

Membaca tajuk “Oba Selatan: Tertinggal atau Ditinggalkan” bukan sekadar menyimak keluhan publik, melainkan menyaksikan sebuah “gugatan terbuka” terhadap kegagalan distribusi keadilan di bawah kendali Pemerintah Kota Tidore Kepulauan. Sebagai mahasiswa hukum yang lahir dari rahim perjuangan masyarakat Maidi, saya melihat kondisi ini bukan lagi masalah teknis aspal, melainkan bentuk pengabaian Hak Ekonomi, Sosial, dan Kultural (Ekosob) yang terstruktur dan sistematis. Jika kita membedah dokumen Kota Tidore Kepulauan Dalam Angka, kita akan menemukan sebuah paradoks jomplang: angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang gemilang di angka 74,01 hanyalah rata-rata semu yang dipamerkan Pemkot di atas mimbar. Angka ini menjadi ironi yang menyakitkan saat dihadapkan pada realitas lumpuhnya konektivitas di tujuh desa di Oba Selatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Anomali Kontribusi PDRB dan Praktik Urban Bias

Dalam kacamata ekonomi-politik, Pemerintah Kota Tidore Kepulauan telah menjadikan Oba Selatan sebagai “sapi perahan” produksi. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menyumbang kontribusi terbesar terhadap PDRB, yakni 24,96%, di mana Oba Selatan adalah tulang punggung utamanya. Namun, timbal balik yang diterima masyarakat sangat menghina akal sehat. Di saat lingkar Pulau Tidore menikmati aspal mulus yang diperbarui berkali-kali, masyarakat dari Maidi hingga Lifofa dipaksa bertaruh nyawa melintasi kubangan lumpur selama 25 tahun tanpa kepastian.

Degradasi Hak Konstitusional atas Layanan Dasar

Pengabaian infrastruktur oleh Pemkot Tidore berdampak fatal pada hak dasar warga yang seharusnya dijamin konstitusi. Di sektor pendidikan, akses guru terhambat medan yang berat, mengakibatkan ketimpangan kualitas intelektual generasi muda Oba Selatan. Lebih tragis lagi di sektor kesehatan; puskesmas tanpa fasilitas memadai menjadi saksi bisu betapa murahnya nyawa warga di mata penguasa. Pasien darurat dan ibu hamil seringkali harus meregang nyawa di tengah perjalanan menuju rumah sakit rujukan karena mobil ambulans terjebak di jalanan yang menyerupai sungai lumpur. Ini bukan lagi sekadar kendala teknis, ini adalah kegagalan kemanusiaan yang dipelihara oleh birokrasi.

Alibi Kewenangan dan Wanprestasi Kontrak Sosial

Secara yuridis, kondisi ini adalah potret nyata pelanggaran keadilan distributif. Pemerintah Kota sering kali menggunakan alibi “status jalan provinsi” sebagai tameng birokrasi untuk berlepas tangan dan melempar tanggung jawab. Padahal, secara hukum administrasi negara, Pemerintah Kota memiliki tanggung jawab atributif untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya tanpa sekat otoritas yang kaku. Kegagalan membangun infrastruktur dasar selama dua dekade lebih adalah bentuk “wanprestasi pembangunan” terhadap kontrak sosial yang telah diberikan rakyat melalui pajak dan mandat politik.

Urgensi Kebijakan Afirmasi dan Redistribusi Anggaran

Langkah mendesak yang harus diambil adalah transformasi radikal dalam pengalokasian APBD oleh Pemkot Tidore Kepulauan. Pemerintah tidak boleh lagi menggunakan pendekatan “bagi rata” yang tidak adil. Wilayah dengan kerusakan infrastruktur kronis seperti Oba Selatan harus mendapatkan porsi anggaran ekstra melalui kebijakan afirmasi (affirmative policy) guna mengejar ketertinggalan. Pembangunan harus difokuskan pada peningkatan fasilitas pendidikan dan kesehatan darurat, serta hilirisasi komoditas lokal agar nilai tambah ekonomi tetap tinggal di tangan petani, bukan menguap ke saku penguasa di pusat kota.

Restrukturisasi Geopolitik melalui Otonomi Sofifi

Langkah kedua yang paling rasional dan mendesak adalah mendukung penuh percepatan pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB) Sofifi. Secara geopolitik, posisi Oba Selatan yang terlalu jauh dari Pulau Tidore telah menciptakan inefisiensi birokrasi yang akut. Rentang kendali yang terlalu lebar membuat suara warga Maidi kerap “tuli” sebelum sampai ke meja pengambil kebijakan di pulau. Pembentukan Kota Otonom Sofifi adalah instrumen hukum untuk memperpendek jarak pelayanan publik dan memastikan alokasi APBD terfokus secara spesifik untuk membenahi daratan Oba yang selama ini hanya dijadikan pelengkap penderita.

Konklusi: Revolusi Infrastruktur atau Disintegrasi Administratif

Keadilan bagi warga Maidi dan masyarakat Oba Selatan tidak bisa lagi ditawar dengan pidato manis atau janji politik musiman. Kami tidak butuh angka-angka indah dalam laporan tahunan jika di lapangan kami masih harus berjibaku dengan lumpur dan kematian di jalanan. Pembangunan adalah hak asasi, dan setiap jengkal jalan yang rusak adalah monumen kegagalan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan dalam memenuhi sumpah jabatannya. Pilihannya kini hanya dua: melakukan revolusi infrastruktur secara total sekarang, atau biarkan Oba Selatan menentukan nasibnya sendiri melalui jalur otonomi yang lebih adil dan bermartabat. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Logika Akumulasi dan Ekologi yang Tersingkirkan
RSUD Tidore “Cuci Piring” di Balik Hutang Rp2,6 Miliar; Transparansi Dana atau Sekadar Topeng Ketidakadilan?
Post-Truth dan Matinya Nalar Kritis Publik
Paradoks Program IMS-ADIL Antara Pendidikan Gratis vs Umroh Gratis
Dari Cangkul ke Ekskavator: Krisis Identitas dan Ekologi di Balik Ekspansi Tambang di Maluku Utara
Geothermal dalam Masyarakat Risiko: Kritik Political Ecology atas Ilusi Energi Hijau
“Taba”: Etos Ketabahan Orang Makian
Pendidikan di Era Modern: Menyelaraskan Inovasi Teknologi dengan Nilai Kemanusiaan
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 30 Maret 2026 - 01:39 WIT

Tes Kemampuan Akademik di Ponpes Salafi’iyah Al Khairaat Maffa Berjalan Lancar

Rabu, 18 Maret 2026 - 00:45 WIT

Arus Mudik Mulai Ramai, Ops Ketupat Kie Raha Amankan Kedatangan KM Sumber Raya 05

Minggu, 1 Maret 2026 - 13:40 WIT

Kursi Pimpinan Tertinggi Iran Kosang, Siapa Pengganti Ali Khamenei?

Selasa, 10 Februari 2026 - 09:34 WIT

Atlet Karate INKAI Halsel Raih Dua Medali di GOKASI Open Karate Championship 2026

Selasa, 3 Februari 2026 - 13:47 WIT

AGMAK – Malut Desak Kejati Seret Tersangka Baru Kasus BTT Sula dan Periksa Sekda Sula terkait Kasus Proyek Normalisasi Sungai

Senin, 2 Februari 2026 - 14:18 WIT

Mendidik Anak Melek Ekonomi di Era Konsumerisme

Minggu, 25 Januari 2026 - 23:54 WIT

Panen Raya Kelompok Tani Obi, Simbol Kedaulatan Pangan dan Kolaborasi Berkelanjutan

Senin, 5 Januari 2026 - 17:34 WIT

Satu Napas Perubahan: Refleksi 1 Tahun Forum Insan Cendekia

Berita Terbaru

Opini

Logika Akumulasi dan Ekologi yang Tersingkirkan

Jumat, 10 Apr 2026 - 13:26 WIT

Opini

DOB Sofifi: Vonis Mati Atas Kegagalan Pemkot Tidore?

Jumat, 10 Apr 2026 - 12:45 WIT