Oleh : Irfandi R. Hi. Mustafa
Di bawah langit yang kelabu,
Maba Sangaji, rumah yang kita jaga,
Tanah yang berbisik, sejarah yang terukir,
Namun kini, suara itu teredam, terhimpit.
Di balik gemuruh mesin,
Ada harapan yang terinjak,
Pertambangan datang, merampas hak,
Masyarakat adat, penjaga warisan, terjaga dalam gelap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebelas jiwa, berani berdiri,
Menghadapi ketidakadilan yang merobek,
Dengan tangan kosong, namun hati penuh,
Mereka berjuang, meski terancam, meski terasing.
Maba Sangaji, tanah yang suci,
Setiap jengkalnya adalah darah dan air mata,
Kami takkan mundur, takkan terdiam,
Karena rumah ini adalah jiwa kami, abadi dalam ingatan.
Di antara reruntuhan harapan,
Kami menanam benih keberanian,
Setiap langkah adalah doa,
Setiap teriakan adalah cinta yang takkan pudar.
Kami adalah suara yang takkan padam,
Dalam gelap, kami temukan cahaya,
Maba Sangaji, rumah yang kami cintai,
Kami akan bertahan, hingga akhir waktu.
Di balik jeruji, mereka terkurung,
Namun semangatnya takkan pernah runtuh,
Karena tanah ini adalah hidup,
Dan kami adalah penjaga, takkan pernah surut.
Maba Sangaji, rumah yang terjaga,
Kami akan berjuang, meski harga yang dibayar,
Karena di sinilah akar kami tertanam,
Dalam cinta, dalam harapan, dalam perjuangan.
Ternate, 6 Juni 2025











