Danau Karo Benteng Terakhir Kehidupan Warga Obi

- Penulis Berita

Sabtu, 15 November 2025 - 05:51 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ternate, Nalarsatu.com – Pengurus DPC Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Kota Ternate menegaskan bahwa krisis yang terjadi di Danau Karo, Pulau Obi, bukan sekadar perdebatan izin, tetapi ancaman nyata terhadap keberlangsungan hidup masyarakat Obi. Hal ini disampaikan oleh Juslan Latif, Ketua DPC GPM Kota Ternate, yang menyoroti makin masifnya penggunaan air dan aktivitas industri di sekitar danau tanpa pengawasan yang ketat.

Juslan menegaskan bahwa Danau Karo merupakan “benteng terakhir” sumber air alami warga Obi. Selama puluhan tahun danau tersebut menjadi tumpuan air yang di jaga, untuk ekosistem, hingga aktivitas budaya masyarakat setempat.

“Kalau Danau Karo rusak atau dikuras tanpa aturan, itu bukan sekadar bencana lingkungan itu berarti masyarakat Obi kehilangan masa depan mereka sendiri,” tegas Juslan, Sabtu (15/11).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Juslan, persoalan paling mendasar adalah ketertutupan dokumen izin penggunaan air permukaan (IPAP). Di saat masyarakat mulai kesulitan air bersih, pemerintah dan industri tambang justru tidak membuka volume pengambilan air, jalur distribusi, maupun analisis dampak ke publik.

“Kalau izin air saja tidak transparan, bagaimana mungkin masyarakat percaya bahwa kepentingan mereka dilindungi?” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ketidakjelasan izin telah memicu risiko besar:

1. Debit Danau Karo terus menurun

2. Akses air bersih masyarakat terganggu

3. Ketidakadilan antara masyarakat dan industri melebar

4. Potensi konflik sosial meningkat akibat perebutan sumber air

Dalam kritik yang lebih keras, Juslan menyebut DPRD Halmahera Selatan gagal tampil sebagai lembaga pengawas. Menurutnya, DPRD tidak boleh hanya menerima laporan perusahaan, tetapi wajib memastikan apa yang benar-benar terjadi di lapangan.

“DPRD, Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba, dan Wakil Bupati Helmy Umar Muchsin harus segera turun ke Danau Karo. Jangan hanya duduk di kantor. Mereka harus lihat sendiri apa yang perusahaan lakukan di sana,” tegas Juslan.

Ia menegaskan bahwa pemerintah wajib memastikan bahwa pertama Harita mengambil berapa kubik air per hari kedua PT Wanatiara mengambil berapa kubik air per hari ketiga Bagaimana proses pengambilan dilakukan, keempat, apakah perusahaan membayar PNBP air ke negara atau tidak kelima, kalaupun membayar, apakah sesuai dengan volume yang diambil

“Ini uang negara, ini hak rakyat. Jangan sampai perusahaan ambil air seenaknya, bayar tidak jelas, lalu DPRD hanya jadi sapi perah dan pemkab jadi penonton yang ikut menikmati permainan korporasi,” kata Juslan.

Berdasarkan informasi lapangan, Juslan menyebut ada lebih dari empat perusahaan yang memanfaatkan air Danau Karo. Namun publik tidak pernah diberi tahu apakah perusahaan-perusahaan itu memiliki izin masing-masing atau hanya menumpang izin perusahaan lain.

“Jangan sampai ada perusahaan menumpang izin. Setiap liter air yang mereka ambil, dampaknya langsung dirasakan masyarakat Obi,” ujarnya.

Juslan memperingatkan bahwa jika tidak ada langkah cepat, masalah ini akan berubah menjadi konflik sosial di tingkat masyarakat.

“Ini bukan soal teknis. Ini soal apakah masyarakat Obi masih bisa hidup nyaman di tanah mereka sendiri,” tegasnya.

“Danau Karo Milik Warga Obi, Bukan Milik Industri”

Juslan menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa Danau Karo adalah hak hidup masyarakat Obi, bukan aset yang bisa diolah sesuka hati perusahaan.

“Danau Karo itu milik masyarakat Obi. Kalau dibiarkan direbut tanpa kontrol, yang hilang bukan hanya air tapi hak hidup seluruh warga Obi.” Pungkasnya. (red).

 

 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Polres Halsel Klarifikasi Dugaan Penganiayaan Warga oleh Oknum Polisi, Kasi Humas: Semua Laporan Akan Diproses Secara Objektif
BARAH Desak Polres Halsel Usut Dugaan Praktik Togel di Pulau Bacan
Diduga Dianiaya Oknum Polisi, Ferdi Latumeten Lapor ke Polres Halsel Didampingi Tim Kuasa Hukum
Dugaan Pengeroyokan oleh Tiga Oknum Polisi, Warga Halsel Alami Luka-Luka
Jaringan Internet Obi Kerap Mati-Hidup, Asosiasi Dump Truck Ancam Gelar Mosi Tidak Percaya kepada Pemprov dan Pemda
Pemuda Merah Putih Minta Polisi Terapkan Pasal Berlapis dalam Kasus Dugaan Pelecehan di Kafe Bungalow 2
KJH FC Tancap Gas, Diler FC Kehabisan Bensin di Menit Akhir
DPRD Halsel Konsultasi ke RSUD Chasan Boesoirie, Cari Solusi Tunggakan Jaspel Nakes RSUD Labuha
Berita ini 80 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:40 WIT

Polres Halsel Klarifikasi Dugaan Penganiayaan Warga oleh Oknum Polisi, Kasi Humas: Semua Laporan Akan Diproses Secara Objektif

Selasa, 16 Juni 2026 - 09:55 WIT

BARAH Desak Polres Halsel Usut Dugaan Praktik Togel di Pulau Bacan

Selasa, 16 Juni 2026 - 08:13 WIT

Diduga Dianiaya Oknum Polisi, Ferdi Latumeten Lapor ke Polres Halsel Didampingi Tim Kuasa Hukum

Selasa, 16 Juni 2026 - 05:02 WIT

Dugaan Pengeroyokan oleh Tiga Oknum Polisi, Warga Halsel Alami Luka-Luka

Minggu, 14 Juni 2026 - 22:29 WIT

Jaringan Internet Obi Kerap Mati-Hidup, Asosiasi Dump Truck Ancam Gelar Mosi Tidak Percaya kepada Pemprov dan Pemda

Kamis, 11 Juni 2026 - 11:53 WIT

KJH FC Tancap Gas, Diler FC Kehabisan Bensin di Menit Akhir

Kamis, 11 Juni 2026 - 10:58 WIT

DPRD Halsel Konsultasi ke RSUD Chasan Boesoirie, Cari Solusi Tunggakan Jaspel Nakes RSUD Labuha

Rabu, 10 Juni 2026 - 03:49 WIT

Pemdes dan Masyarakat Moloku Gelar Doa Keselamatan HUT ke-23 Halmahera Selatan, Kades Harapkan Pembangunan Makin Meningkat

Berita Terbaru