OBI, Nalarsatu.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, belum berhasil dipadamkan hingga Minggu (11/10/2026). Luas lahan terdampak diperkirakan mencapai 15 hektare. Selain mengancam permukiman dan perkebunan warga, kebakaran juga dilaporkan menghanguskan ribuan pohon pala, cengkeh, dan tanaman perkebunan lainnya.

Koordinator penanganan karhutla, Danramil Obi Kapten Inf. Amin Tomia, mengungkapkan bahwa keterbatasan sarana pemadaman menjadi salah satu kendala yang dihadapi tim gabungan di lapangan. Pemadaman selama ini masih mengandalkan cara manual, sementara medan di sejumlah titik kebakaran sulit dijangkau karena berada di kawasan ketinggian.
Amin berharap Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dan pihak terkait lainnya dapat memberikan bantuan tambahan berupa satu hingga dua unit mobil pemadam kebakaran, terutama untuk mendukung ketersediaan pasokan air bagi petugas.
“Harapan kami, pemerintah daerah dan pihak-pihak lain bisa membantu satu atau dua unit mobil pemadam kebakaran. Kendaraan itu mungkin tidak bisa sampai langsung ke lokasi kebakaran, tetapi setidaknya ada pasokan air yang bisa kami gunakan untuk memadamkan api,” ungkap Amin saat diwawancarai pada Minggu pagi (11/10).

Ia menjelaskan, penyiraman secara manual yang selama ini dilakukan mulai kewalahan menghadapi kondisi kebakaran yang terus berlangsung. Karena itu, dukungan peralatan tambahan dinilai penting untuk memperkuat upaya pemadaman.
“Sekarang penyiraman secara manual sudah membuat kami kewalahan. Cara yang bisa kami lakukan saat ini adalah menggunakan alat berat untuk membuat sekat pembatas agar api tidak menyebar ke permukiman dan perkebunan warga lainnya,” jelasnya.

Menurut Amin, penggunaan alat berat menjadi salah satu langkah untuk menghambat pergerakan api, khususnya di wilayah yang sulit dijangkau petugas. Namun, upaya tersebut perlu didukung sarana pemadaman yang memadai agar penanganan dapat berjalan lebih efektif.
Sementara itu, Camat Obi, Ali La Jaharia, mengungkapkan bahwa nilai kerugian akibat kebakaran hingga kini belum dapat dipastikan. Meski demikian, dampak terhadap perkebunan masyarakat dilaporkan cukup besar, dengan ribuan pohon pala, cengkeh, dan tanaman lainnya telah terbakar.
“Untuk kerugian, kami belum bisa memastikan berapa jumlahnya. Yang jelas, tanaman pala, cengkeh, dan tanaman lainnya sudah ribuan pohon yang terbakar,” ungkap Ali La Jaharia Minggu (11/10).

Ia berharap adanya bantuan tambahan dari pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait agar proses pemadaman dapat dipercepat dan kebakaran tidak meluas ke wilayah perkebunan lainnya.
“Kami meminta adanya bantuan tambahan supaya api bisa secepatnya dipadamkan. Kebakaran ini sudah berdampak pada tanaman perkebunan masyarakat, sehingga perlu penanganan bersama agar kerugian tidak semakin besar,” tambahnya.
Menurut Ali, percepatan penanganan menjadi penting untuk melindungi sumber penghidupan masyarakat yang bergantung pada hasil perkebunan, khususnya pala dan cengkeh.
Tim Gabungan Hadapi Medan Ekstrem
Kebakaran yang terjadi sejak Kamis (8/10/2026) tersebut terpantau di wilayah Desa Buton dan Desa Baru. Asap kebakaran juga menyelimuti langit Kecamatan Obi hingga Kecamatan Obi Utara, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap dampaknya bagi kesehatan masyarakat.
Berdasarkan pemantauan pada Jumat (9/10/2026), ditemukan tiga titik kebakaran, masing-masing dua titik di Desa Buton dan satu titik di Desa Baru. Titik api di Desa Buton berjarak sekitar lima kilometer dari permukiman, sedangkan titik api di Desa Baru berjarak sekitar empat kilometer.
Pada Sabtu (10/10/2026), pemadaman dipusatkan di dua sektor. Di Desa Buton, sekitar 70 personel dikerahkan untuk melakukan pemadaman secara manual dengan dukungan satu unit ekskavator guna membuat sekat pengendali api.

Sementara itu, di Desa Baru, sebanyak 57 personel melakukan pemadaman secara manual menggunakan air dan peralatan yang tersedia di lapangan.
Kegiatan pemadaman dihentikan sementara pada pukul 17.30 WIT. Meski demikian, sebagian warga yang memiliki kebun tetap berjaga di area perkebunan. Upaya pemadaman dan pembatasan penyebaran api kembali dilanjutkan pada Minggu pukul 07.30 WIT.
Penanganan karhutla melibatkan unsur TNI, Polri, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, perusahaan, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
Koordinasi lintas sektor telah dilakukan sejak Jumat pagi di Kantor Kecamatan Obi untuk membentuk tim siaga bencana karhutla. Pertemuan tersebut melibatkan Dinas Kesehatan serta perwakilan PT Harita Group, PT Poleko Yubarson, dan PT IMS-OPM.
Rapat koordinasi lanjutan juga dilaksanakan pada Jumat malam guna membahas kebutuhan peralatan dan penentuan sektor prioritas pemadaman.
Berdasarkan laporan pengerahan personel pada Minggu, unsur yang terlibat terdiri atas lima personel TNI di bawah pimpinan Kapten Inf. Amin Tomia, tujuh personel Polri, delapan personel PT Harita, dua tenaga kesehatan, serta masyarakat dari sejumlah desa.
Dukungan masyarakat berasal dari Desa Laiwui sekitar 20 orang, Desa Buton 20 orang, Desa Akegula 20 orang, Desa Jikotamo 15 orang, dan Desa Baru 20 orang.
Sejumlah kendaraan dan peralatan juga disiagakan, antara lain satu unit kendaraan Strada, dua unit Hilux, satu unit ekskavator, satu unit ambulans, serta peralatan pendukung pemadaman lainnya.
Hingga Minggu (11/10/2026), api belum sepenuhnya padam dan luas lahan terdampak diperkirakan mencapai 15 hektare. Tim gabungan masih melanjutkan pemadaman dan membuat pembatas untuk menghambat penyebaran api.
(red)

Tinggalkan Balasan