Halsel, Nalarsatu.com – Di desa-desa terpencil Kabupaten Halmahera Selatan, pemandangan warga mengangkut pasien menggunakan tandu atau gerobak masih menjadi kenyataan pahit. Ketika ibu hamil hendak melahirkan atau pasien dalam kondisi kritis membutuhkan pertolongan, keterbatasan akses transportasi sering kali menjadi penghambat utama penanganan medis.
Desa seperti Jikohai dan Obi Latu di Kecamatan Obi Barat, atau Desa Indari yang sempat viral karena seorang ibu melahirkan harus diantar pulang dengan gerobak, menjadi potret nyata keterbatasan sistem rujukan di kawasan kepulauan Halsel. Jalan desa yang sempit dan tak terhubung ke desa lain membuat ambulans konvensional tak bisa diandalkan.
Kondisi itu mendorong tokoh masyarakat, tenaga kesehatan, dan kepala desa mengusulkan pengadaan kendaraan pengangkut pasien yang sederhana dan sesuai medan, seperti bentor becak motor roda tiga. Menanggapi usulan tersebut, Dinas Kesehatan Halsel pun bergerak cepat, meski harus menghadapi kendala klasik: keterbatasan anggaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Alih-alih bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) Dinkes Halsel menggagas pendekatan alternatif. “Kami berinisiatif menggandeng lembaga filantropi. Setelah diskusi internal, kami mengusulkan kerja sama dengan Yakesma (Yayasan Kesejahteraan Madani),” ujar dr. Surahmat, Sekretaris Dinas Kesehatan Halsel Senin, (5/5).
Yakesma Maluku Utara menyambut baik inisiatif tersebut. Dana yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp25 juta: Rp10 juta untuk pengiriman bentor dari Gorontalo dan Rp15 juta untuk kendaraan motor bekas serta biaya modifikasi. Penggalangan dana dimulai pada Mei 2024, dan pada Februari 2025, seluruh dana telah terkumpul. Proses pengadaan kendaraan pun segera dilaksanakan.
Kendaraan yang dinamai Kajosa singkatan dari Kendaraan Antar Jemput Orang Sakit akhirnya rampung dan siap digunakan pada akhir Februari. Dinas Kesehatan memutuskan Desa Indari sebagai penerima pertama, mengingat tingginya kebutuhan serta momen pelaksanaan Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) tingkat kabupaten yang digelar di sana.
Pada 1 Mei 2025, bertepatan dengan penutupan STQH, Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, secara simbolis menyerahkan Kajosa kepada Kepala Puskesmas Indari. Penyerahan itu disaksikan oleh perwakilan Dinas Kesehatan dan Yakesma.
“Ini bukan sekadar kendaraan, tetapi simbol kolaborasi dan kepedulian. Ke depan, kami berencana menggulirkan program serupa ke desa-desa lain seperti Gonone, Mano, Dowora, dan Talimau. Namun tentu, kerja sama filantropi memerlukan waktu untuk menghimpun dana,” kata dr. Surahmat.











