Oleh : Julfian Rusdi (Mahasiwa IPA Unutara & Anggota Forum Insan Cemdikia Sektor Unutara)
Kala surya terbit dari arah timur dan tenggelam ke arah barat, Julfian selalu saja melamun dan menangis sendirian, ia belum mempunya teman cerita, padahal sudah satu bulan Julfian di Pesantren, tetapi masih juga ada kejanggalan dalam hatinya. Ia masih saja merindukan orang tua, keluarga dan kampung halamannya. Padahal masuk ke dunia pesantren adalah keinginannya sendiri, ia ingin membuat orang tuanya bangga dengan menuntut ilmu di pesantren. Namun, entah mengapa dia merasa menyesal karena keinginannya tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bel asrama berbunya, jarum jam menunjukkan pukul 06:00 wib tanda semua santriwan harus meninggalkan kamar untuk ke ruangan kelas. Hari itu mata pelajaran Julfian yang pertama adalah Bahasa Arab, dan yang mengajar adalah ustadz Ali Al baar.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, anak-anak. Bagaimana kabarnya hari ini? Apakah semangat untuk memulai belajar hari ini?” tanya Ustadz Ali Al baar dengan penuh semangat.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, semangat sekali ustadz” jawab santri secara serentak, kecuali Julfian yang terdiam tak bersuara dan hanya melamun, mungkin pandangan Julfian tertuju kepada Ustadz Ali Al baar, namun fikirannya entah pergi kemana, di kelas itu cukup sunyi tetapi isi otaknya sangat berisik
“Sepertinya hanya aku saja yang tak bersemangat untuk belajar di kelas ini” kata Julfian dalam hati. Ustadz Ali Al baar menyadari bahwa dari pertama Julfian masuk pesantren sampai sekarang selalu saja melamun dan tampak lesu saat belajar. Nilai-nilainya pun rendah semua dan dia pun tidak punya teman karena suka menyendiri.
“Anak-anak, ustadz ingin bertanya kepada kalian semua, apa tujuan kalian bersekolah disini? Apakah hanya sekedar ingin mandiri? Atau hanya untuk mencari teman?” tanya ustadz Ali Al baar.
“Saya kemari karena ingin menuntut ilmu ustadz” jawab Julfian dan teman sekelas Julfian.
“Ya, bagus sekali, jadi jika pekerjaanmu hanya menangis dan melamun saja, bagaimana caranya agar ilmu bisa masuk ke otak kalian? Dan bagaimana caranya agar kamu bisa memahami pelajaran?” Ustadz Ali Al baar Kembali memberi pertanyaan.
“Anak-anak, menuntut ilmu itu kewajiban setiap umat Islam, sebagaimana Haditsnya: tholabul ‘ilmi faridhotun ‘ala kulli muslimin. Ingat anak-anak sedikit saja rasa kepuasan terhadap ilmu itu hadir, bersiaplah menjadi orang yang di tinggalkan perkembangan zaman. Banggakan orang tuamu, kalian lihat mereka bekerja mati-matian demi kalian bersekolah, jangan membuat mereka kecewa, jangan membuat perjuangan mereka sia-sia, kejar cita-cita setinggi apapun, jadilah muslim yang punya cita-cita dan impian yang dahsyat, jangan pernah takut menargetkan hal yang hebat, karena pertolongan Allah SWT akan hadir bagi hamba-hambanya yang punya niat baik untuk maju dan sukses di masa depan, saat ini mungkin kalian hidup jauh dari orang tua dan kampung halaman, namun ingatlah bahwa lelahmu, air matamu, usahamu, semuanya pasti akan terbalaskan dengan kesuksesan In sya Allah” jelas ustadz Ali Al baar dengan wajah serius dan mata yang berkaca-kaca.
Seisi kelas menjadi sunyi, hanya suara angin berhembus yang terdengar, tiba tiba setetes air mata jatuh dari Julfian, ucapan dan nasihat ustadz Ali Al baar yang menyentuh hati itu membuat sadar bahwa dia salah karna terus-menerus menangis dan melamun.
Julfian juga sadar bahwa waktunya selama ini dia buang sia-sia hanya untuk menyendiri yang seharusnya ia gunakan untuk menuntut ilmu dan belajar dengan serius, ia juga seharusnya tak menyesal karena keputusannya sekolah di pesantren, seharusnya yang dia pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya membuat kedua orang tua dan keluarga bangga.
Sejak saat itu, Julfian bertekad untuk membahagiakan orang tuanya dan belajar dengan sungguh-sungguh, serta berani memiliki impian dan cita-cita yang tinggi, impian Julfian adalah ingin menjadi juara kelasnya. Namun, masalahnya adalah santriwan-santriwan yang ada di kelasnya cerdas-cerdas, ia pun memulai belajar dengan giat dan terus berdo’a kepada Allah SWT.
Julfian ingin mengetahui bagaimana tahap-tahap dalam memperjuangkan sesuatu, akhirnya ia mendatangi ustadz Al hajz kepala Pengasuh Pesantren.
“Ustadz, apa Langkah awal yang harus saya ambil jika saya ingin berusaha mendapatakan sesuatu? Apa saja tahapan-tahapannya? Tanya Julfian dengan kepala yang ditundukkannya.
“Jika kamu ingin berusaha menggapai impian mu, tahap awal yang harus kamu ambil adalah ikhtiar dan berdo’a. mendapatkan sesuatu tidak bisa tanpa berusaha, usaha yang ekstra akan menghasilkan sesuatu yang ekstra pula. Namun, disamping usaha harus ada do’a juga, ikhtiar tanpa do’a adalah sia-sia begitupun sebaliknya, usaha dengan sungguh-sungguh.
Kedua, tawakkal yaitu berserah diri sesudah kamu berdoa dan berusaha kamu harus menyerahkan semua hasilnya kepada Allah, jangan tawakkal dahulu baru ikhtiar dan berdo’a itu namanya pasrah tidak mau berusaha.
Terakhir qona’ah, yaitu menerima apa adanya atau dalam kata lain ialah bersyukur. Apapun hasilnya, apapun akhirnya, syukurilah karena takdir Allah itu lebih baik. Allah tahu mana yang terbaik bagi kamu dan mana yang tidak, terkadang yang kau benci adalah sesuatu yang Allah suka, dan yang kau suka adalah sesuatu yang Allah benci” jelas Ustadz hajz
“Baik ustadz, terima kasih: Ucap Julfian.
“Nak, ingat ya. Penuntut ilmu tidak boleh bermalas-malasan, penuntut ilmu hanya tidur lima jam dan tidak boleh lebih dari itu” tegas ustadz Hajz.
“Siap Ustadz” kata Julfian
Kini kala azan berkumandang, Julfian langsung mengambil wudhu dan pergi ke masjid, setiap dalam sholatnya ia selalu mendo’akan kedua orang tuanya, menyebut impian dan cita-citanya dan selalu saja ia meneteskan air mata, begitupun Ketika sholat tahajjud di sepertiga malamnya.
“Aku tidak boleh kalah dan menyerah” ucap Julfian dalam hati, selalu ia ucapkan kata itu dalam hati, Ketika dia sedang Lelah. Ia juga selalu mengingat ucapan Ustadz Hajz bahwa penuntut ilmu hanya tidur 5 jam, maka 19 jamnya Julfian terjaga untuk selalu belajar dan lima jamnya untuk beristirahat.
Tak terasa sudah hampir enam bulan ia berada di dunia pesantren, tidak pernah lupa ia selalu rajin belajar dan terus berdoa. Ujian pun sudah selesai, waktunya terima raport dan pulang ke kampung halaman, suasana hati Julfian bercampur aduk, ada rasa senang karena sebentar lagi pulang dan ada rasa takut karena besok terima raport dan dia takut semua yang ada di ekspektasinya ternyata tidak terwujud.
Pagi pun tiba, kini waktunya pengumuman juara kelas, hati Julfian tak tenang, dia hanya bisa berdoa kepada Allah. Ustadzah Puja wali kelas Julfian pun datang membawa tumpukan raport hasil kerja keras semua santriwan santriwan.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh anak-anak, baik hari ini Ustadz datang untuk membagikan laporan hasil belajar kalian selama enam bulan ini, langsung saja, ustadz akan sebutkan nama-nama juara di kelas kita” jelas ustadz Puja.
“Juara tiga, diduduki oleh Muhammad Ikram” ucap Ustadz Puja Lantang.
“Apakah aku akan berhasil? Atau apakah semua usaha ku sia-sia?” batin Julfian
“Juara dua, diduduki oleh Maulana Ismail” kata ustadz.
“Ya Allah, apakah semua usaha ku belum cukup? Ya Allah aku ingin membuat orang tuaku bangga, ya Allah” hati Julfian ingin menangis.
“ Juara satu… diduduki oleh Julfian Rusdi! Selamat untuk Julfian” teriak Ustadz Puja dengan penuh senyuman.
“Masya Allah, Allahu Akbar, Ya Allah, terima kasih ya Allah. Hanya kepada mu lah aku memohon dan hanya kepadamu lah aku meminta pertolongan” tangis Julfian tersedu-sedu.
“Terima kasih atas semua yang engkau berikan, ya Allah. Terima kasih telah mengabulkan do’aku” ucap Julfian, ia tidak menyangka bisa benar-benar menjadi juara di kelasnya, Julfian tidak pernah bosan berjuang dan berdo’a, karena Julfian tahu, mungkin walau sekarang do’anya belum dikabulkan, Allah akan mengabulkan di waktu yang tepat dengan sesuatu yang tepat.
Bagi Julfian, Allah menetapkan nasib manusia berdasarkan harapan dan upaya yang dimilikinya, teruslah kembangkan layar dan nikmati perjalanannya hingga sampai ke tujuan. Belajar dengan sungguh-sungguh, berdo’a dengan sungguh sungguh.











