Belajar di Kelas, Bertumbuh di Lapangan, Refleksi Tentang Makna Kuliah.

- Penulis Berita

Kamis, 8 Januari 2026 - 14:16 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Sumitro S TamaleneMahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara

PERGURUAN tinggi merupakan ruang penting dalam proses pembentukan intelektual mahasiswa. Di dalamnya mahasiswa diperkenalkan dengan teori, konsep, dan kerangka berpikir ilmiah yang menjadi fondasi keilmuan. Ruang kelas dengan segala dinamika diskusi dan penyampaian materi, telah berperan besar dalam membangun cara berpikir kritis dan sistematis. Namun, seiring berkembangnya tantangan jaman, muncul tantangan reflektif. Apakah pembelajaran di kelas saja suda cukup untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi realitas setelah lulus?

Pertanyaan ini bukanlah bentuk penolakan terhadap sistem perkuliahan yang ada, melainkan ajakan untuk memperkaya makna belajar itu sendiri. Sebab pada kenyataannya, ilmu pengetahuan tidak hanya hidup dalam buku dan ruang kelas, tetapi juga tumbuh dan diuji di tenga kehidupan nyata masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mahasiswa pada dasarnya di persiapkan untuk menjadi insan terdidik yang mampu memahami, menganalisis, dan merespon persoalan di sekitarnya. Untuk sampai pada tahap itu, pemahaman teoritis memang sangat penting. Namun teori akan menjadi lebih bermakna ketika bertemu dengan realitas lapangan. Di sanalah mahasiswa belajar bahwa persoalan sosial, lingkungan, dan ekonomi tidak selalu berjalan lurus seperti contoh soal, melainkan di pengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait.

Pengalaman belajar di lapangan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menguji teori yang di pelajari. Ketika mahasiswa terlibat langsung dalam penelitian lapangan, pengabdian masyarakat, praktik kerja, atau kegiatan sosial,mereka tidak hanya mengamati, tetapi juga belajar memahami konteks. Mahasiswa belajar bahwa satu masalah bisa memiliki banyak sudut pandang, dan satu solusi tidak selalu cocok untuk semua keadaan.

Pembelajaran lapangan juga berperan penting dalam membentuk sikap dan karakter mahasiswa. Dari lapangan, mahasiswa belajar rendah hati, belajar mendengar, dan belajar menghargai pengalaman hidup orang lain. Nilai-nilai ini sulit di peroleh hanya melalui ceramah di kelas, tetapi tumbuh secara alami ketika mahasiswa berinteraksi langsung dengan masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Dari sisi lain, dunia paska kampus menuntut lebih dari sekadar kemampuan menghafal konsep. Lulusan perguruan tinggi di harapkan mampu beradaptasi, berkomunikasi dengan baik, serta mengambil keputusan berdasarkan kondisi nyata. Pengalaman lapangan selama masa kuliah menjadi jembatan penting agar mahasiswa tidak mengalami keterkejutan ketika memasuki dunia kerja atau pengabdian sosial.

Perlu di tegaskan bahwa pembelajaran di lapangan bukan untuk menggantikan peran di kelas melainkan melengkapinya. Kelas tetap menjadi ruang utama untuk membangun kerangka berpikir ilmiah, sementara lapangan menjadi ruang pengayaan untuk memperdalam pemahaman dan kepekaan. Ketika keduanya berjalan seimbang, proses pendidikan akan menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara sosial.

Ole karena itu, sinergi antara dosen, mahasiswa, dan institusi menjadi kunci.
Dosen sebagai pendidik memiliki peran strategis dalam mengarahkan mahasiswa agar mampu mengkaitkan teori dengan praktik. Mahasiswa pun di tuntut untuk aktif, terbuka, dan reflektif dalam setiap proses belajar, baik di kelas maupun di lapangan. Sementara itu, kampus perlu terus mendorong kebijakan pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Pada ahirnya, kuliah bukan semata tentang menyelesaikan SKS atau merai gelar akademik. Kuliah adalah proses pembentukan pemahaman dan kedewasaan berpikir. Dengan mengintegrasikan pembelajaran di kelas dan pengalaman lapangan, mahasiswa diharapkan mampu menyelesaikan studi tidak hanya dengan ijazah di tangan, tetapi juga dengan bekal pemahaman yang utuh tentang ilmu dan kehidupan. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Kepemimpinan Bahlil Lahadalia dalam Dinamika Investasi dan Politik Nasional
Hilangnya Akses atas Tanah dalam Proyek Strategis Nasional: Analisis Kasus Bapak Alimusu di Obi, Halmahera Selatan
Miliaran Rupiah Menguap, Maidi Hanya Dapat Tumpangan Masalah
Kajian Sosiologi Terhadap Fenomena Belanja Online
Logika Akumulasi dan Ekologi yang Tersingkirkan
DOB Sofifi: Vonis Mati Atas Kegagalan Pemkot Tidore?
RSUD Tidore “Cuci Piring” di Balik Hutang Rp2,6 Miliar; Transparansi Dana atau Sekadar Topeng Ketidakadilan?
Post-Truth dan Matinya Nalar Kritis Publik
Berita ini 155 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 03:26 WIT

Kades Gambaru Siap Turun Ukur Lahan Warga, Nasrudin M. Kasuba: Jika LA Tak Bersedia, Saya Bertanggung Jawab

Minggu, 16 Agustus 2026 - 00:41 WIT

Warga Hantam Sikap Kades Gambaru Nasrudin M. Kasuba : Jangan Jadi Budak Korporasi, Anda Harus Belajar dari Kades Fluk Utamakan Warga

Jumat, 14 Agustus 2026 - 00:32 WIT

Saat Tambang Belum Berproduksi, PT KTS Menyalakan Harapan Lewat Program “KTS Bersinar”

Minggu, 2 Agustus 2026 - 15:00 WIT

Ko Lok Gelar Tasyakuran dan Aqiqah Cucu, Ratusan Warga Hadir Panjatkan Doa

Minggu, 26 Juli 2026 - 22:47 WIT

LPP Tipikor Halteng Desak Polda Malut Selidiki Dugaan Perdagangan Skrap Ilegal

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:21 WIT

BARAH Desak Pemda Halsel Percepat Penetapan WPR, Ratusan Penambang Masih Bergantung pada Aktivitas PETI

Jumat, 24 Juli 2026 - 15:44 WIT

PEROK Ultimatum PT Harita Group: Hentikan Mobilisasi Karyawan atau Hadapi Blokade

Kamis, 23 Juli 2026 - 11:50 WIT

Respon Aksi Warga, Fraksi PKB Mendesak Pemda Halsel Segera Ambil Langkah Cepat Selesaikan Masalah Lahan di Pulau Obi

Berita Terbaru