OBI, Nalarsatu.com – Memasuki hari kelima penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, warga mengeluhkan keterbatasan sarana pemadaman, terutama pasokan air yang dibutuhkan untuk mengendalikan kobaran api.

Kondisi tersebut mendorong warga mendesak Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Basam Kasuba, bersama DPRD setempat agar segera mengambil langkah konkret untuk memperkuat penanganan karhutla yang mengancam permukiman dan lahan perkebunan masyarakat.

Narjin Kamhois, warga Desa Baru yang juga menjabat Wakil Koordinator Karhutla Kecamatan Obi, mengaku kecewa karena upaya pemadaman yang dilakukan tim gabungan bersama masyarakat masih menghadapi kendala keterbatasan sarana pendukung.

“Kami meminta Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Basam Kasuba, turun langsung melihat kondisi yang terjadi di lapangan. Kebakaran masih terus meluas, sementara kami kesulitan memadamkan api karena tidak tersedia air di sejumlah titik kebakaran,” ujar Narjin Selasa (13/10).

Menurutnya, bantuan dari sejumlah perusahaan memang telah tersedia. Namun, bantuan tersebut dinilai belum mencukupi kebutuhan di lapangan, terutama untuk mendukung pemadaman langsung di lokasi yang sulit dijangkau.

Narjin mengatakan, kebakaran tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga sumber penghidupan masyarakat. Ribuan pohon cengkeh dan pala dilaporkan terbakar, sehingga warga khawatir kehilangan hasil perkebunan yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarga.

“Kami sangat kekurangan. Ini menyangkut tanaman dan sumber penghidupan masyarakat. Kalau kondisi ini dibiarkan, bagaimana warga bisa bertahan hidup jika kebun mereka terus terbakar? Kami berharap Bupati dan 30 anggota DPRD Halmahera Selatan benar-benar merespons kondisi ini,” tegasnya.

Desakan terhadap DPRD menjadi penting karena lembaga tersebut memiliki fungsi pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. Di tengah kondisi darurat yang dihadapi masyarakat Obi, DPRD diharapkan tidak hanya menerima laporan, tetapi juga mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait memastikan kebutuhan penanganan karhutla mendapat perhatian serius.

DPRD juga diharapkan mengawasi langkah-langkah penanganan yang telah dilakukan pemerintah daerah, termasuk ketersediaan air, dukungan peralatan pemadaman, serta koordinasi lintas instansi agar upaya pengendalian api berjalan lebih efektif.

Keluhan serupa disampaikan Abdul, salah seorang warga yang kebunnya terdampak kebakaran. Ia mengaku khawatir karena pembuatan sekat pembatas dinilai belum cukup untuk mengatasi kebakaran tanpa dukungan air dan sarana pemadaman yang memadai.

“Kami sudah pasrah dengan keadaan. Kalau hanya mengandalkan sekat pembatas, kami khawatir api tetap sulit dikendalikan. Yang kami butuhkan sekarang adalah ketersediaan air untuk memadamkan api. Pak Bupati dan anggota DPRD, tolong bantu kami,” kata Abdul.

Sementara itu, Koordinator Karhutla Kecamatan Obi Danramil Amin Tomia menyampaikan bahwa penanganan kebakaran kini didukung dua unit alat berat, yakni satu ekskavator dan satu buldoser. Peralatan tersebut digunakan untuk mempercepat pembuatan sekat pembatas atau jalur pengendalian api agar kobaran tidak menjalar ke permukiman dan perkebunan warga lainnya.

Meski demikian, kebutuhan mobil pemadam kebakaran atau kendaraan pengangkut air masih mendesak. Tim di lapangan menghadapi kesulitan memadamkan api secara langsung di sejumlah titik karena terbatasnya pasokan air dan sulitnya akses menuju lokasi kebakaran.

“Yang kami maksudkan adalah bantuan mobil pemadam kebakaran atau kendaraan pengangkut air. Kami mengantisipasi munculnya titik api baru, terutama yang berpotensi mengarah ke permukiman dan perkebunan warga lainnya,” jelasnya Selasa (12/10)

Ia menambahkan, pada sejumlah titik yang telah terbakar, tim kewalahan melanjutkan pemadaman langsung karena tidak tersedianya air. Karena itu, pembuatan sekat pembatas menjadi salah satu langkah untuk menahan penyebaran api sembari menunggu dukungan sarana pemadaman tambahan.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, DPRD, serta instansi terkait segera merespons kondisi tersebut melalui langkah nyata. Ketersediaan air dan peralatan pemadaman dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk mengendalikan kebakaran serta mencegah kerugian masyarakat semakin bertambah.

(red)