Oleh : Burhanuddin Djamal – Hamba Tuhan yang Suka Menulis
SAYA selalu merasa bahwa setiap proyek besar—bagaimana pun mulianya slogan yang menyertainya—menyimpan kisah yang lebih sunyi daripada deru mesin dan rencana anggaran. Kesunyian itu menjadi semacam gema yang tidak terdengar dalam pidato peresmian, tetapi nyata dalam kehidupan orang-orang yang berada di dekat proyek. Ia menyelinap di antara denting alat berat, tumpukan dokumen, dan rencana yang terus direvisi seolah dunia hanya bergerak ketika pembangunan dideklarasikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketika membaca Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari, kesunyian itu kembali mengalir, menjadi bayangan panjang yang menghubungkan dunia fiksi dengan dunia sehari-hari. Novel tersebut memperlihatkan sebuah dunia yang serba sibuk, dunia yang dipenuhi target, ambisi, dan rutinitas pekerjaan, tetapi justru di dalam kesibukan itulah manusia sering menjadi yang paling sepi. Kesepian yang lahir bukan dari ketidakadaan aktivitas, melainkan dari jarak antara manusia dengan keputusan-keputusan besar yang memengaruhi hidupnya.
Novel Tohari memperlihatkan bahwa pembangunan bukan hanya persoalan teknis, melainkan peristiwa sosial yang menautkan nasib banyak orang dalam hubungan yang tidak selalu setara. Ada pekerja lapangan yang dipaksa berurusan dengan kenyataan yang terlalu keras, ada pejabat yang memandang proyek sebagai batu loncatan, dan ada warga desa yang harus menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa pernah benar-benar dilibatkan.
Proyek dapat tercatat sebagai keberhasilan di atas kertas, namun kehidupan manusia yang berada di dalamnya selalu lebih rumit daripada angka-angka yang dicatat dalam laporan. Ada yang menaruh harapan sambil menggenggam cemas, ada yang memendam keraguan yang tak tersampaikan, dan ada yang hanya bertahan dalam arus tanpa tahu ke mana proyek akan membawa mereka. Dari sinilah ruang samar itu muncul, ruang antara janji dan kenyataan, antara retorika dan hidup sehari-hari.
Ketika gambaran dari novel itu diletakkan di samping cerita yang berkembang seputar Jalan Trans Kie Raha di Maluku Utara, gema yang sama mulai terdengar. Jalan panjang yang direncanakan untuk menghubungkan wilayah-wilayah terpencar membawa imaji besar tentang kemajuan, namun imaji itu sering berlari lebih cepat daripada kenyataan di lapangan.
Seperti halnya proyek dalam Orang-Orang Proyek, pembangunan selalu memiliki cerita pelan yang berjalan di sampingnya. Ada kampung-kampung yang menunggu sambil memeriksa kembali kemungkinan manfaat dan kemungkinan kehilangan. Ada warga yang bertanya apakah jalan ini benar-benar akan mengubah hidup mereka, atau hanya menjadi garis panjang yang lewat begitu saja, meninggalkan debu dan tanda tanya yang tak cepat hilang.
Trans Kie Raha juga memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang akrab dengan dunia fiksi Tohari, pertanyaan yang mungkin tidak terlihat dalam laporan tapi hidup dalam percakapan harian. Apakah akses baru ini akan benar-benar mendekatkan pelayanan kesehatan bagi warga yang tinggal jauh dari pusat? Apakah hasil tani akan lebih cepat bergerak keluar, atau justru membuat para petani bergantung pada pasar yang mereka tidak kuasai?
Atau sebaliknya, apakah jalan itu hanya akan memadatkan aspal tanpa memadatkan rasa aman dan sejahtera bagi mereka yang tinggal di sepanjang rute? Dalam novel Tohari, bendungan akhirnya berdiri, tetapi perjalanan batin para tokoh tetap berjalan, mencari jawaban atas perubahan yang tidak seluruhnya mereka pilih. Begitulah proyek di dunia nyata: fisiknya dapat rampung, tapi makna sosialnya butuh waktu lebih panjang untuk mengendap.
Kisah dalam novel dan pembangunan di Maluku Utara saling menyapa karena keduanya mengingatkan kita pada hal yang sering terlupakan, yaitu bahwa pembangunan selalu menyentuh manusia lebih dalam daripada sekadar menembus jarak di peta. Jalan Trans Kie Raha akan menemukan arti sejatinya bukan hanya pada panjang aspalnya, tetapi pada sejauh mana jalan itu membuka ruang bagi masyarakat untuk merasakan manfaat yang nyata dan setara.
Tohari mengajarkan bahwa proyek bukan hanya soal struktur fisik, tetapi juga struktur perasaan dan harapan. Ketika manusia di sepanjang jalur pembangunan merasakan bahwa hidup mereka tidak sekadar dilewati proyek, tetapi diangkat olehnya, barulah pembangunan menemukan bentuknya yang paling manusiawi.
Pada akhirnya, baik dalam dunia yang ditulis Tohari maupun dalam perjalanan pembangunan di Maluku Utara, tampak bahwa proyek-proyek besar selalu menguji sejauh mana manusia dilibatkan, didengarkan, dan diperhitungkan. Novel itu menunjukkan bahwa martabat manusia adalah bahan yang tak tertulis namun amat penting dalam setiap pembangunan.
Dan dalam kenyataannya, pembangunan tidak akan pernah tuntas hanya dengan menyelesaikan fisiknya. Ia baru tuntas ketika masyarakat yang hidup di sepanjang jalur itu merasakan bahwa mereka bukan sekadar bagian dari peta, tetapi bagian dari masa depan yang sedang disusun. Jalan Trans Kie Raha, seperti kisah dalam novel Tohari, pada akhirnya menjadi pengingat bahwa pembangunan adalah peristiwa kemanusiaan di mana harapan, kekhawatiran, dan martabat bergerak bersama di sepanjang garis yang sedang dibangun. (*)











