Oleh : Tiklas Pileser Babua
Transisi Energi dan Narasi Keselamatan Moral
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam diskursus global tentang krisis iklim, geothermal ditempatkan pada posisi moral yang hampir tak tersentuh. Ia dipresentasikan sebagai energi bersih, rendah karbon, stabil, dan mampu menopang beban dasar listrik tanpa intermitensi seperti surya dan angin. Negara-negara berkembang dengan cadangan panas bumi besar, termasuk Indonesia, menjadikannya simbol komitmen terhadap dekarbonisasi.
Namun dalam setiap euforia teknologi, ada kecenderungan untuk mereduksi kompleksitas menjadi slogan. “Energi hijau” menjadi mantra yang menenangkan kegelisahan publik tentang perubahan iklim. Di Indonesia, perusahaan seperti PT Ormat Geothermal Indonesia—bagian dari jaringan global Ormat Technologies—diposisikan sebagai mitra strategis negara dalam mengembangkan potensi panas bumi Indonesia. Ormat tampil sebagai aktor strategis dalam proyek transisi energi nasional. Kapasitas terpasang, target megawatt, dan komitmen net zero emission menjadi indikator keberhasilan.
Tetapi di balik angka-angka tersebut, terdapat pertanyaan yang jarang dibahas secara mendalam: apakah geothermal benar-benar bebas risiko? Atau justru kita sedang menyaksikan bentuk baru produksi risiko modern yang dibungkus legitimasi ekologis?
Untuk menjawabnya, kita perlu melampaui analisis teknis dan masuk ke ranah teori sosial—khususnya konsep risk society dari Ulrich Beck dan pendekatan political ecology yang menelaah relasi kuasa dalam pengelolaan sumber daya alam.
Ulrich Beck dan Produksi Risiko Modern
Dalam karya monumentalnya Risk Society, Ulrich Beck berargumen bahwa masyarakat modern telah bergeser dari distribusi kekayaan menuju distribusi risiko. Jika masyarakat industri awal berfokus pada produksi dan distribusi kemakmuran, maka masyarakat modern lanjut memproduksi risiko sebagai konsekuensi dari kemajuan itu sendiri.
Risiko dalam pengertian Beck bukanlah bencana alam tradisional, melainkan manufactured risks risiko yang dihasilkan oleh keputusan manusia, teknologi, dan sistem industri. Nuklir, polusi kimia, rekayasa genetika, hingga perubahan iklim adalah contoh klasik.
Geothermal, dalam konteks ini, tidak bisa dipahami semata sebagai “energi alam”. Ia adalah sistem teknologi kompleks yang melibatkan eksplorasi geologi dalam, pengeboran ribuan meter, injeksi dan produksi fluida bertekanan tinggi, serta intervensi terhadap sistem hidrotermal bawah tanah. Risiko yang muncul gempa terinduksi (induced seismicity), perubahan tekanan pori, gangguan akuifer bukanlah peristiwa alam murni, melainkan hasil interaksi antara sistem geologi dan intervensi teknologis.
Kasus gempa yang dikaitkan dengan proyek geothermal di Pohang pada 2017 menjadi ilustrasi penting. Proyek Enhanced Geothermal System (EGS) di wilayah tersebut diteliti secara intensif setelah gempa magnitudo 5,5 merusak ribuan bangunan dan melukai warga. Sejumlah laporan ilmiah kemudian mengaitkan aktivitas injeksi fluida dengan pelepasan energi pada sesar aktif. Terlepas dari perdebatan detail teknis, peristiwa itu menunjukkan bahwa intervensi terhadap sistem geologi dapat menghasilkan konsekuensi yang melampaui kalkulasi awal.
Dalam kerangka Beck, inilah paradoks modernitas: teknologi yang dirancang untuk menyelesaikan masalah (krisis energi dan iklim) justru menciptakan spektrum risiko baru yang harus dikelola secara sosial dan politik.
Epistemologi Ketidakpastian: Ilusi Kontrol Teknis
Pendukung geothermal sering menekankan bahwa risiko dapat diminimalkan melalui teknologi canggih, pemodelan geologi, dan sistem pemantauan seismik. Argumen ini tidak sepenuhnya salah. Namun ia menyimpan asumsi epistemologis: bahwa sistem geologi cukup dapat diprediksi untuk dikelola secara presisi.
Masalahnya, sistem bawah tanah adalah sistem kompleks non-linear. Ia melibatkan interaksi tekanan fluida, struktur sesar, komposisi batuan, dan dinamika termal yang tidak sepenuhnya dapat diamati secara langsung. Data yang kita miliki selalu parsial. Model yang kita bangun selalu mengandung ketidakpastian.
Dalam risk society, sains bukan lagi sekadar penyedia solusi, melainkan juga produsen ketidakpastian. Ketika para ahli berbeda pendapat tentang tingkat risiko, masyarakat awam berada dalam situasi ambigu: siapa yang harus dipercaya?
Di sinilah retorika “aman selama sesuai standar” menjadi problematik. Standar dibangun berdasarkan pengetahuan yang tersedia yang bisa saja tidak lengkap. Ketika risiko terwujud, ia sering diperlakukan sebagai “anomali”, bukan sebagai bagian inheren dari sistem intervensi itu sendsendir
Political Ecology: Distribusi Risiko dan Relasi Kuasa
Jika teori Beck membantu kita memahami produksi risiko, pendekatan political ecology membantu kita memahami distribusinya.
Political ecology menolak pandangan bahwa isu lingkungan adalah persoalan teknis netral. Ia menekankan bahwa setiap keputusan tentang sumber daya selalu terkait dengan relasi kuasa antara negara, korporasi, komunitas lokal, dan aktor global.
Dalam proyek geothermal, manfaatnya sering berskala nasional: tambahan kapasitas listrik, pengurangan impor energi, peningkatan reputasi hijau di forum internasional. Namun risikonya berskala lokal: masyarakat sekitar lokasi proyek menghadapi potensi gempa mikro, kebisingan pengeboran, perubahan kualitas udara, dan ketidakpastian jangka panjang terhadap stabilitas tanah.
Distribusi yang asimetris ini mencerminkan apa yang disebut sebagai ketidakadilan ekologis. Komunitas lokal menjadi “zona risiko”, sementara pusat menikmati manfaat agregat.
Lebih jauh lagi, proses perizinan dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sering berlangsung dalam kerangka partisipasi formal, bukan deliberasi substantif. Bahasa teknokratis magnitudo, tekanan pori, probabilitas statistik seringkali mengerdilkan pengalaman lived experience warga.
Political ecology mengingatkan kita bahwa angka dan grafik bukanlah entitas netral. Mereka adalah instrumen kekuasaan yang dapat melegitimasi keputusan tertentu dan membungkam kekhawatiran lain.
Transisi Energi atau Ekstraktivisme Baru?
Geothermal sering diposisikan sebagai antitesis energi fosil. Namun jika dilihat dari perspektif political ecology, ada kontinuitas tertentu dengan logika ekstraktivisme: eksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan ekonomi makro, dengan dampak lokal yang harus “dikelola”.
Pertanyaannya bukan apakah geothermal setara dengan batu bara dalam hal emisi jelas tidak. Pertanyaannya adalah apakah model pengelolaannya mereproduksi pola relasi kuasa yang sama: pusat menentukan, pinggiran menanggung.
Dalam masyarakat risiko, legitimasi moral “demi iklim” dapat berfungsi sebagai tameng kritik. Setiap penolakan lokal mudah dicap anti-pembangunan atau anti-lingkungan, padahal yang dipersoalkan sering kali adalah keadilan distribusi risiko.
Menuju Modernitas Refleksif
Namun kritik ini tidak bertujuan menolak geothermal secara total. Mengikuti gagasan reflexive modernity dari Ulrich Beck, yang diperlukan adalah kemampuan masyarakat untuk mengkritisi dan mereformasi praktik modernitasnya sendiri.
Refleksivitas berarti:
1. Transparansi radikal atas data seismik dan hidrologi.
2. Partisipasi deliberatif masyarakat dalam pengambilan keputusan.
3. Audit independen yang benar-benar otonom dari kepentingan proyek.
4. Distribusi manfaat langsung kepada komunitas terdampak.
5. Pengakuan eksplisit atas ketidakpastian ilmiah, bukan penyembunyian dalam jargon teknis.
Transisi energi yang demokratis bukan hanya soal mengganti sumber energi, tetapi mengubah cara keputusan dibuat dan risiko didistribusikan.
Epilog: Melampaui Romantisisme Hijau
Geothermal bukanlah iblis ekologis, tetapi juga bukan malaikat transisi energi. Ia adalah teknologi modern yang memproduksi manfaat sekaligus risiko.
Dalam masyarakat risiko, pertanyaan kuncinya bukan lagi “apakah geothermal rendah karbon?”, melainkan “bagaimana risiko yang ia hasilkan diproduksi, didistribusikan, dan dilegitimasi?”
Jika kita gagal mengajukan pertanyaan ini, kita berisiko mengganti satu bentuk krisis dengan bentuk lain yang lebih halus krisis legitimasi sosial dan keadilan ekologis.
Transisi energi yang sejati bukan hanya transisi teknologis, melainkan transisi politik dan etis. Tanpa itu, geothermal hanya akan menjadi simbol baru dari keyakinan lama: bahwa modernitas selalu tahu apa yang terbaik, bahkan ketika bumi di bawah kaki kita bergetar. (*)











