Oleh : Aldi Haris – Ketua Fmn Cabang Ternate
BELAKANGAN ini, ada sesuatu yang diam-diam berubah dalam cara publik memaknai realitas. Kita tidak lagi hidup dalam kekurangan informasi, justru sebaliknya: kita tenggelam di dalamnya. Setiap hari, layar gawai menjadi ruang utama di mana peristiwa diproduksi, disebarkan, lalu dihakimi dalam hitungan detik. Sebuah kejadian belum sempat dijelaskan secara utuh, tetapi kesimpulan sudah lebih dulu diambil. Kita menyaksikan bagaimana opini lahir bukan dari proses berpikir yang matang, melainkan dari reaksi spontan yang dipicu oleh potongan-potongan informasi yang berserakan.
Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai isu publik. Ketika sebuah kasus mencuat, publik berbondong-bondong mengambil posisi: mendukung, menolak, mencaci, atau membela, sering kali tanpa memahami konteks secara menyeluruh. Yang bekerja bukan lagi nalar kritis, tetapi dorongan emosional dan afiliasi identitas. Siapa yang berbicara menjadi lebih penting daripada apa yang dibicarakan. Jika ia berasal dari “kelompok kita”, maka ia benar; jika dari “kelompok mereka”, maka ia salah. Di titik ini, kebenaran tidak lagi berdiri sebagai sesuatu yang objektif, melainkan sebagai sesuatu yang dinegosiasikan oleh kepentingan dan perasaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kita hidup dalam situasi di mana persepsi lebih berkuasa daripada fakta. Dan di sinilah apa yang disebut sebagai post-truth menemukan momentumnya: sebuah kondisi ketika fakta objektif kehilangan daya pengaruhnya dalam membentuk opini publik, digantikan oleh emosi, keyakinan pribadi, dan narasi yang terus diulang hingga terasa benar. Kebenaran tidak lagi diuji, melainkan dipilih sesuai dengan apa yang ingin kita percayai.
Dalam kondisi seperti ini, media memainkan peran yang tidak bisa dianggap netral. Ia bukan lagi sekadar jendela yang memperlihatkan realitas, tetapi telah menjadi aktor yang ikut membentuk realitas itu sendiri. Dalam logika industri informasi hari ini, perhatian adalah komoditas utama. Apa yang paling memancing emosi, kemarahan, ketakutan, atau sensasi itulah yang paling cepat menyebar. Judul dibuat provokatif, narasi disederhanakan, dan kompleksitas realitas direduksi menjadi hitam-putih yang mudah dicerna. Media tidak selalu berbohong, tetapi sering kali memilih bagian mana dari kebenaran yang layak ditampilkan, dan mana yang diabaikan.
Lebih problematis lagi, media sosial dengan algoritmanya menciptakan ruang gema yang membuat kita terus mendengar suara yang sama, pandangan yang sama, bahkan kemarahan yang sama. Kita merasa sedang melihat dunia, padahal yang kita lihat hanyalah pantulan dari keyakinan kita sendiri. Di dalam ruang seperti ini, perbedaan tidak lagi menjadi bahan dialog, melainkan ancaman yang harus disingkirkan. Kritik dianggap serangan, dan klarifikasi sering terlambat karena opini publik sudah terlanjur mengeras.
Akibatnya, daya kritis publik perlahan mengalami erosi. Bukan karena masyarakat tidak mampu berpikir, tetapi karena lingkungan informasi yang tidak memberi ruang bagi proses berpikir itu sendiri. Kita dibiasakan untuk bereaksi, bukan merefleksikan. Kita didorong untuk membagikan, bukan memverifikasi. Dalam kondisi seperti ini, kebohongan yang diulang berkali-kali bisa terasa seperti kebenaran, sementara kebenaran yang kompleks justru ditinggalkan karena dianggap tidak menarik.
Ada semacam ironi yang mengemuka, di era ketika akses terhadap pengetahuan begitu terbuka, justru terjadi kemunduran dalam cara kita memahami pengetahuan itu sendiri. Otoritas keilmuan kerap dipertanyakan, sementara opini personal yang tidak berbasis data bisa dengan mudah mendapatkan legitimasi hanya karena viral. Semua orang bisa menjadi “ahli” dalam sekejap, dan semua pendapat seolah memiliki bobot yang sama, terlepas dari dasar argumentasinya.
Namun, menyalahkan media semata juga tidak cukup. Publik bukan hanya korban, tetapi juga bagian dari ekosistem ini. Setiap klik, setiap share, setiap komentar yang kita tinggalkan adalah kontribusi terhadap arus informasi yang kita konsumsi. Kita sering kali menikmati sensasi itu dan merasa paling benar, paling tahu, paling cepat menyimpulkan tanpa menyadari bahwa kita sedang terjebak dalam ilusi pengetahuan.
Karena itu, persoalan post-truth pada akhirnya bukan hanya persoalan informasi, tetapi persoalan kesadaran. Ia berbicara tentang bagaimana kita memilih untuk percaya, bagaimana kita memproses realitas, dan sejauh mana kita bersedia meragukan diri sendiri sebelum menghakimi orang lain. Di tengah kebisingan informasi, menjadi kritis bukan lagi sekadar kemampuan intelektual, tetapi sikap etis.
Mungkin, yang paling mendesak hari ini bukanlah bagaimana menghentikan arus informasi, karena itu hampir mustahil. Tapi bagaimana memulihkan cara kita berhadapan dengan informasi itu sendiri. Mengembalikan kebiasaan untuk membaca secara utuh, memeriksa sumber, memahami konteks, dan yang paling penting adalah menunda penilaian. Sebab dalam dunia yang dipenuhi dengan kebenaran semu, kemampuan untuk berkata “saya belum tahu” justru menjadi bentuk kecerdasan yang paling langka.
Dan di situlah harapan itu masih mungkin ada, ketika publik tidak lagi sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi menjadi subjek yang sadar, yang tidak mudah ditarik oleh arus emosi, dan yang berani menempatkan kebenaran, bukan kenyamanan sebagai pijakan utama dalam melihat dunia. (*)











