Oleh : Bachtiar S. Malawat (Editor Semua Akan Kembali : Tak Sekedar Aktivis dan Jurnalis)
Tidak semua yang menulis, benar-benar memahami arti dari menulis. Ada yang menulis untuk dikenal, ada yang menulis karena ingin diingat. Tapi bagi Alfajri A. Rahman, menulis adalah bentuk pulang. Pulang pada kebenaran, kejujuran, dan nurani yang tak bisa dibeli oleh uang.
Buku “Semua Akan Kembali: Tak Sekadar Aktivis dan Jurnalis” lahir bukan dari ruang Olanisasi atau perencanaan yang moco balakaci, Ia lahir dari sebuah pertemuan sederhana namun berkesan, pertemuan antara jiwa-jiwa aktivis yang suka bicara ide dan gagasan. Waktu itu, di Caffe Bubula, sebuah tempat tenang di Kelurahan Jambullah, Ternate Selatan, saya dan beberapa kawan dari Forum Insan Cendikia (FIC) diajak bertemu oleh Abang Alfajri. Kami duduk berhadapan dengan secangkir kopi di meja, dan percakapan pun mengalir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Awalnya, pertemuan itu hanya untuk silaturahmi bersama kawan-kawan FIC. Namun di tengah diskusi, Abang Alfajri tiba-tiba mengalihkan topik ke sesuatu yang lebih mendasar, tulisan. Ia bercerita tentang kumpulan artikelnya yang telah dipublikasikan di berbagai media, tentang kegelisahan yang ia tuangkan dalam bentuk kata, dan tentang pentingnya menjaga ingatan perjuangan agar tidak hilang begitu saja.
Dari percakapan itu, muncul sebuah gagasan yang awalnya terdengar sederhana, mengumpulkan naskah-naskah itu, menyusunnya kembali, dan membentuknya menjadi sebuah buku. Tapi seperti kata pepatah, api besar lahir dari percikan kecil. Gagasan itu berkembang menjadi karya yang kuat dan berjiwa, hingga akhirnya terbitlah buku “Semua Akan Kembali: Tak Sekadar Aktivis dan Jurnalis.” di penerbit Omera Pustaka pada bulan Oktober 2025.
Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan biasa, apalagi omong kosong yang dibungkus kata-kata indah. Ia adalah jejak perjalanan hidup, refleksi perjuangan, dan renungan seorang anak muda yang memilih jalan idealisme.
Alfajri tidak menulis dari ruang nyaman. Ia menulis dari pengalaman di lapangan, dari perjalanan panjang sebagai aktivis, jurnalis, dan pemimpin gerakan mahasiswa. Sebagai mantan Ketua Umum PC IMM Cabang Ternate dan Ketua Umum DPD IMM Maluku Utara, Alfajri telah melewati berbagai dinamika organisasi dan sosial-politik yang membentuk kedewasaan berpikir dan kedalaman empatinya terhadap masyarakat.
Bagi Alfajri, pria kelahiran Malifut itu, aktivisme bukan hanya soal turun ke jalan dan berteriak di depan publik, melainkan tentang bagaimana mempertahankan idealisme di tengah kepungan pragmatisme. Ia belajar bahwa menjadi jurnalis juga bukan sekadar menyebarkan berita, tapi menjaga kebenaran dari kebohongan yang sering disembunyikan di balik kepentingan.
“Menulis bukan karena ingin dikenal, tapi karena takut kebenaran tenggelam dalam diam,” tulisnya dalam salah satu bagian buku. Kalimat itu menjadi semacam nafas utama dari seluruh isi buku perlawanan terhadap sunyi, perlawanan terhadap lupa. Aleii Api.
Di mata kawan-kawan FIC, Alfajri adalah sosok yang konsisten. Ia mengingatkan kami bahwa gagasan tanpa keberanian hanyalah retorika. Dan keberanian tanpa tulisan hanya akan jadi cerita yang cepat dilupakan. Karena itu, ia memilih menulis agar gagasan tetap hidup, agar perjuangan punya jejak, agar suara tetap terdengar sekalipun orang menolak mendengarkan.
Kini, setelah buku itu terbit “Semua Akan Kembali” bukan sekadar judul, melainkan pesan moral, bahwa setiap perjuangan, sekecil apa pun, akan kembali kepada niat awalnya. Bahwa setiap aktivis dan jurnalis sejati harus pulang pulang kepada kebenaran, kejujuran, dan cita-cita kemanusiaan.
Alfajri A. Rahman bukan hanya menulis buku, ia menulis perjalanan. Ia menulis hidupnya, menulis masalah sosial, menulis semangat yang tak ingin padam. Dan lewat tulisan itu, ia membuktikan bahwa menjadi aktivis sejati bukan tentang posisi yang tinggi, melainkan tentang seberapa dalam kau memahami arti perjuangan dan seberapa jujur kau hidup di dalamnya. Akhir kata, selamat atas terbit karyanya Abang Aji, ditunggu karya-karya selanjutnya. Apiii ) *











