Oleh : Dr. Iswadi M. Ahmad – Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara
EKONOMI seringkali dipersepsikan sebagai ilmu yang rumit, penuh angka, grafik, dan istilah teknis yang hanya layak dipelajari di bangku sekolah menengah atau perguruan tinggi. Padahal, tanpa disadari, aktivitas ekonomi justru paling awal dan paling sering dijalani manusia sejak usia kanak-kanak. Saat seorang anak memilih jajanan di sekolah, menabung menggunakan celengan, atau meminta orang tuanya membelikan, pada saat itulah ia sedang berhadapan dengan permasalahan ekonomi paling mendasar yakni keterbatasan sumber daya dan keharusan membuat pilihan.
Meskipun aktivitas ekonomi sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari anak, namun pengenalan konsep ekonomi secara sadar dan terarah seringkali terabaikan dalam pendidikan dasar. Banyak anak-anak menjalani melakukan aktivitas ekonomi hanya sebagai rutinitas, tanpa pemahaman tentang makna, nilai, dan konsekuensi dari setiap kegiatan ekonomi yang mereka buat. Di tengah arus konsumerisme, pemasaran digital, dan kemudahan transaksi berbasis teknologi, kondisi ini harus menjadi menjadi perhatian serius orang tua dan guru. Pendidikan ekonomi untuk anak tidak lagi bisa ditunda, apalagi dianggap sebagai pengetahuan pelengkap. Anak harus dikenalkan sejak dini, khususnya pada jenjang sekolah dasar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekolah dasar merupakan fase penting dalam pembentukan pola pikir, sikap, dan perilaku ekonomi anak. Pada usia ini, anak berada pada tahap perkembangan kognitif yang memungkinkan mereka memahami konsep konkret yang dekat dengan pengalaman hidupnya. Dengan demikian, mengenalkan konsep ekonomi pada anak SD bukanlah upaya mengajarkan teori ekonomi yang abstrak, melainkan menanamkan cara berpikir rasional, bijak, dan bertanggung jawab dalam menghadapi pilihan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan ekonomi untuk anak SD bukan tentang bagaimana menghafal istilah seperti produksi, distribusi, dan konsumsi, tetapi tentang membangun literasi ekonomi. Literasi ini mencakup kemampuan memahami keterbatasan sumber daya, menyusun skala prioritas, mengelola uang secara sederhana, serta menyadari bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi. Anak yang memiliki literasi ekonomi sejak dini akan lebih siap menghadapi tantangan kehidupan di masa depan, baik sebagai individu, anggota keluarga, maupun warga negara.
Pendidikan Ekonomi Sejak Dini
Masih ada anggapan bahwa anak SD belum mampu memahami konsep ekonomi sehingga pendidikan ekonomi dianggap belum perlu diajarkan sejak dini. Pandangan ini sesungguhnya kurang tepat. Anak memiliki kapasitas kognitif untuk memahami konsep ekonomi, asalkan disajikan secara kontekstual dan dekat dengan pengalaman hidup mereka. Mengajarkan ekonomi kepada anak SD tidak berarti memperkenalkan teori ekonomi mikro atau makro. Anak cukup dikenalkan pada konsep sederhana seperti kebutuhan dan keinginan, mengenal dan menggunakan uang, menabung dengan celengan, berbagi, serta belajar memilih ketika sumber daya terbatas. Konsep-konsep inilah yang menjadi fondasi berpikir ekonomi.
Anak SD mampu memahami konsep ekonomi melalui aktivitas di rumah, seperti memasak, berkebun, memancing, kegiatan jual beli sederhana, mengenal berbagai jenis uang, hingga menabung. Bahkan, anak dapat menjelaskan mengapa menabung itu penting dan mengapa tidak semua keinginan bisa dipenuhi sekaligus. Tantangannya terletak pada bagaimana orang tua dan guru mendampingi serta mengarahkan mereka.
Para ahli pendidikan ekonomi telah lama menekankan pentingnya pengenalan ekonomi sejak usia dini. James Tobin, peraih Nobel Ekonomi, menyatakan bahwa pengetahuan ekonomi adalah bekal penting bagi semua warga negara, terlepas dari latar belakang pendidikan formalnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa ekonomi bukan hanya milik para ekonom atau pengambil kebijakan, tetapi milik setiap orang. Lebih jauh, Robert Duvall, Presiden National Council on Economic Education (NCEE), menyatakan bahwa literasi ekonomi merupakan keterampilan penting yang setara dengan kemampuan membaca dan menulis. Tanpa pemahaman ekonomi yang memadai, seseorang mudah terjebak dalam keputusan konsumtif, utang berlebihan, terjebak investasi bodong dan perilaku ekonomi yang merugikan diri sendiri (Ahmad, 2023).
Dalam konteks anak SD, pendidikan ekonomi memiliki manfaat jangka panjang yang sangat penting. Anak-anak pada dasarnya sudah bisa membuat pilihan. Namun, pilihan tersebut seringkali bersifat emosional. Melalui pendidikan ekonomi, anak diajak memahami alasan di balik sebuah pilihan. Mengapa tidak semua keinginan harus dipenuhi? Mengapa menabung itu penting? Mengapa harus berbagi? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini menjadi pintu masuk untuk membentuk karakter ekonomi anak yang rasional, hemat, dan bertanggung jawab.
Tidak Sulit Mengajarkan Ekonomi
Pendidikan ekonomi untuk anak sekolah dasar dibutuhkan pendekatan pembelajaran inovatif. Anak usia 7–12 tahun memiliki kebiasaan belajar yang khas. Anak biasanya cepat bosan, menyukai aktivitas konkret, dan belajar paling efektif melalui pengalaman langsung. Oleh karena itu, pembelajaran ekonomi yang disampaikan secara teoritis dan satu arah hampir pasti gagal menarik minat anak.
Setidaknya ada empat cara sederhana yang bisa dilakukan orang tua dan guru di Maluku Utara untuk mengenalkan konsep ekonomi kepada anak. Pertama, melalui buku cerita yang dekat dengan realitas anak Maluku Utara. Cerita tentang anak yang rajin menabung uang jajannya untuk membeli perlengkapan sekolah, membantu orang tua berjualan di kios kecil, atau ikut ayahnya melaut, akan lebih mudah dipahami karena sesuai dengan kehidupan mereka. Dari cerita-cerita seperti ini, anak belajar nilai ekonomi sekaligus nilai kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab tanpa merasa digurui.
Kedua, belajar ekonomi lewat pengalaman langsung di lingkungan sekitar. Di banyak wilayah Maluku Utara, anak-anak tumbuh dekat dengan kebun, laut, dan dapur rumah tangga. Kegiatan berkebun pala, cengkeh, atau sayuran di halaman sekolah mengajarkan anak bahwa hasil tidak datang seketika, tetapi melalui proses dan perawatan. Di daerah pesisir, memancing atau ikut orang tua ke pantai menjadi pelajaran tentang usaha, kesabaran, dan menghargai hasil laut. Sementara itu, membantu ibu memasak di rumah mengajarkan anak bahwa bahan makanan terbatas dan harus digunakan dengan bijak. Dari kegiatan sederhana ini, anak belajar mengelola kebutuhan tanpa sadar sedang belajar ekonomi.
Ketiga, pembelajaran melalui wirausaha kecil-kecilan yang sesuai dengan potensi lokal. Anak dapat diajak membuat jajanan sederhana, olahan hasil kebun, atau kerajinan khas daerah untuk dijual di lingkungan sekolah atau sekitar rumah. Ketika anak belajar menghitung modal, menentukan harga, dan membagi hasil, mereka mulai memahami konsep biaya, keuntungan, dan tanggung jawab. Pengalaman ini penting untuk menumbuhkan jiwa mandiri dan kewirausahaan sejak dini, terutama di daerah kepulauan yang kaya potensi alam.
Keempat, memanfaatkan media video dan multimedia interaktif secara bijak. Anak-anak Maluku Utara kini juga akrab dengan gawai dan media digital. Video animasi tentang menabung, mengatur uang jajan, atau memilih kebutuhan dapat membantu anak memahami konsep ekonomi secara visual. Jika dikemas dengan cerita yang dekat dengan kehidupan pesisir dan keluarga nelayan, pesan tentang hidup hemat dan perencanaan keuangan akan lebih mudah diterima. Media digital, jika dimanfaatkan dengan tepat, justru bisa menjadi alat untuk membentengi anak dari budaya konsumtif yang semakin kuat.
Peran Keluarga dan Sekolah
Pendidikan ekonomi untuk anak tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab guru di sekolah. Keluarga justru menjadi menjadi tempat yang pertama dan utama pendidikan ekonomi untuk anak. Orang tua merupakan pendidik pertama bagi anak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Perilaku ekonomi orang tua dalam menjalankan aktivitas ekonomi seperti mengelolah uang, mengelolah usaha, membelajarkan pendapatan akan ditiru oleh anak. Nasehat ekonomi tanpa contoh perilaku ekonomi yang baik seringkali tidak efektif. Anak belajar ekonomi lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibanding apa yang mereka dengarkan.
Di sekolah, guru dapat mengajarkan konsep ekonomi ke dalam pembelajaran tematik. Ilmu ekonomi tidak harus berdiri sebagai mata pelajaran tersendiri, akan tetapi dapat diintegrasikan dalam pelajaran bahasa, ilmu pengetahuan alam, matematika, atau pendidikan pancasila. Sayangnya, hingga saat ini pendidikan ekonomi di tingkat SD masih belum memperoleh perhatian serius. Literasi ekonomi sering dianggap tidak penting dari capaian akademik lainya. Padahal, literasi ekonomi justru menjadi kebutuhan mendasar di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang begitu cepat.
Investasi Jangka Panjang Bangsa
Pendidikan ekonomi anak merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya tidak dapat terlihat. Investasi ini tidak dapat diukur melalui ujian sekolah atau ujian nasional. Namu dalam jangka panjang, pendidikan ekonomi akan turut menentukan kualitas dan kesejahteraan warga negara.
Anak yang belajar ekonomi sejak diri akan tumbuh menjadi individu yang rasional dalam mengambil keputusan ekonomi. Mereka akan menjadi pelaku ekonomi yang rasional, jujur, kerja keras, dan bertanggung jawab dalam melakukan aktivitas ekonomi. Mereka akan lebih siap menghadapi tantangan ekonomi, tidak muda terjebak dalam perilaku konsumtif, terjebak pada investasi bodong, lebih produktif, dan peduli terhadap kesejahteraan bersama.
Di tengah budaya konsumsi yang semakin masif, pendidikan ekonomi anak sejak SD bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan utama. Jika bangsa ini ingin membangun landasan ekonomi yang kuat menuju kemandirian ekonomi, maka pendidikan ekonomi harus dimulai sejak dini. Ekonomi tidak bermula dari kebijakan ekonomi dan pasar modal. Ia bermula dari pembelajaran ekonomi menggunakan celengan kecil di kamar anak. Dari sana masa depan ekonomi bangsa dibangun (*)











