TIDOR(E)

- Penulis Berita

Sabtu, 22 November 2025 - 17:30 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Burhanuddin Djamal

SORE itu, saya meluncur perlahan di Jalan Oba. Aspal retak-retak, lubang menampung sisa hujan, papan proyek yang pudar berdiri sendiri di tepi jalan. Getaran motor sampai ke tulang, tapi saya biarkan. Jalan ini tidak sekadar jalur; ia seperti urat nadi kota, berdenyut diam tapi terasa. Pasar, sekolah, rumah, pelabuhan semua terhubung di sini. Tanpa jalan ini lancar, ritme sehari-hari tersendat. Kesabaran menipis perlahan, seperti pasir yang terkikis ombak.

Lubang-lubang menampung air, retakan memanjang seperti garis nadi, debu menempel di sepatu saya setiap menepi. Jalan ini bercerita, jauh lebih banyak daripada papan proyek yang diam di pinggir. Tentang janji yang tertunda, perhatian yang tak sampai. Pinggiran yang diabaikan. Jalan Oba menjadi saksi teori neglected periphery wilayah vital tapi selalu tak terlihat. Setiap retakan adalah catatan diam tentang ketidakseimbangan, pusat yang bersinar, pinggiran yang menunggu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saya teringat teori pembangunan infrastruktur sebagai modal ekonomi. Jalan bukan sekadar aspal. Setiap kerusakan adalah hambatan aliran ekonomi, pendidikan, interaksi sosial. Setiap hentakan roda motor terasa seperti mengukur perlambatan produktivitas. Jalan bergelombang, lubang menganga, genangan air menahan langkah semua mengingatkan bahwa pembangunan yang tertunda adalah konsekuensi manajemen yang lupa menatap jauh ke depan.

Sambil menepi, sebuah lagu lama terngiang di kepala: “di pinggir jalan, kita menunggu yang tak kunjung datang”. Lagu itu bukan hanya nostalgia, ia menjadi suara pinggiran, menegaskan bahwa selalu ada yang menunggu, selalu ada yang tertunda. Jalan Oba bukan sekadar jalan ia cermin siapa yang diperhatikan, siapa yang dibiarkan. Genangan dan lubang adalah protes diam, kritik lembut yang menunggu didengar. Pemerintah Tidore, seolah tertidur di balik rutinitas, membiarkan pinggiran menua tanpa tindakan, padahal Jalan Oba menahan detak kota.

Langit sore itu tipis biru. Aroma daun basah dihembus angin. Cahaya matahari memantul di genangan. Indah, tapi menyakitkan. Keindahan alam tidak menutupi buruknya manajemen. Anak-anak menempuh sekolah, pedagang mengangkut dagangan, keluarga menyeberang dari rumah ke pasar semua ritme itu menunggu perhatian yang tertunda. Pinggiran bukan tamu, tapi tulang punggung.

Saya melaju perlahan, merasakan setiap getaran motor, menyadari Jalan Oba lebih dari aspal. Ia urat nadi mobilitas, ekonomi, keselamatan kota. Pemerintah harus bangun dari tidurnya birokrasi, memperbaiki jalan, drainase, memastikan proyek berjalan. Jalan Oba mengajarkan bahwa pembangunan yang tertunda bukan sekadar fisik yang retak, tetapi cerminan ketidakpedulian terhadap pinggiran.

TIDOR(E) bukan sekadar permainan kata. Ia kota bernama Tidore sekaligus alarm bagi pemerintah yang masih tertidur. Jalan Oba mengingatkan ketidakadilan terhadap pinggiran bukan hanya soal fisik yang retak, tetapi keputusan yang tertunda, tender yang molor, prioritas yang timpang. Setiap genangan air, setiap papan proyek yang diam, adalah bukti pinggiran dianak-tirikan. Padahal Meerow, mengingatkan, kota yang tangguh bukan hanya pusatnya yang bersinar, tapi pinggirannya yang didengar, yang disentuh, yang dilakukan dengan adil. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Keadilan Restoratif: Jalan Pemulihan untuk Semua, Bukan Karpet Merah Kelompok Privilege
Masa Kepengurusan BPC Dibekukan, Bakal Calon Ketum BPD HIPMI Malut Dipersoalkan
Memalukan! Wartawan Diduga Diintimidasi Saat Liput Balap Motor di Labuha
Direktur PDAM Halsel Soleman Bobote Raih Indonesia Visionary Leader Award 2026, Dinilai Jadi Figur Penggerak Perubahan
PERMASALAHAN PERENCANAAN DALAM EGO POLITIK
IPMMA Desak APH Usut Dugaan Skandal Proyek Talud Maidi Senilai Rp8,8 Miliar
Peran Sosiologi dalam Memahami Masyarakat Modern dan Analisis Fenomena Sosial
SISTEM SOSIAL DAN SISTEM BUDAYA DALAM MEMAHAMI MASYARAKAT MODEREN
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 03:49 WIT

Pemdes dan Masyarakat Moloku Gelar Doa Keselamatan HUT ke-23 Halmahera Selatan, Kades Harapkan Pembangunan Makin Meningkat

Minggu, 7 Juni 2026 - 01:43 WIT

HUT ke-23 Halmahera Selatan, Asosiasi Dump Truck Obi Siap Dukung Percepatan Pembangunan Daerah

Kamis, 4 Juni 2026 - 00:58 WIT

Nuansa Religius Warnai Pernikahan Eka Saputra dan Satrina Sukardi Dom di Gane Barat Utara

Selasa, 2 Juni 2026 - 13:12 WIT

Abdul Kadir Uswanas Terpilih Menjadi Ketua Umum BPD HIPMI Maluku Utara 2026–2029, Momentum Persatuan dan Kemajuan Pengusaha Muda

Senin, 1 Juni 2026 - 01:36 WIT

Satpol PP Halsel Razia Tempat Hiburan Malam, Lima LC Diamankan dan Dibina

Minggu, 31 Mei 2026 - 14:53 WIT

PT Wijaya Kencana dan PT Poleko Yubarson Salurkan Pupuk Organik, Dukung Ketahanan Pangan Petani Obi

Sabtu, 30 Mei 2026 - 10:40 WIT

BARAH dan ASLAD Semprot Harita Group: Janji Pelabuhan Speed Boat Tak Kunjung Terwujud, Massa Siap Turun Besar-Besaran

Sabtu, 30 Mei 2026 - 07:26 WIT

Kepala ULP PLN Saketa Angkat Bicara Soal Beban Listrik dan Masa Depan Infrastruktur Energi

Berita Terbaru