Oleh : Burhanuddin Djamal
SORE itu, saya meluncur perlahan di Jalan Oba. Aspal retak-retak, lubang menampung sisa hujan, papan proyek yang pudar berdiri sendiri di tepi jalan. Getaran motor sampai ke tulang, tapi saya biarkan. Jalan ini tidak sekadar jalur; ia seperti urat nadi kota, berdenyut diam tapi terasa. Pasar, sekolah, rumah, pelabuhan semua terhubung di sini. Tanpa jalan ini lancar, ritme sehari-hari tersendat. Kesabaran menipis perlahan, seperti pasir yang terkikis ombak.
Lubang-lubang menampung air, retakan memanjang seperti garis nadi, debu menempel di sepatu saya setiap menepi. Jalan ini bercerita, jauh lebih banyak daripada papan proyek yang diam di pinggir. Tentang janji yang tertunda, perhatian yang tak sampai. Pinggiran yang diabaikan. Jalan Oba menjadi saksi teori neglected periphery wilayah vital tapi selalu tak terlihat. Setiap retakan adalah catatan diam tentang ketidakseimbangan, pusat yang bersinar, pinggiran yang menunggu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Saya teringat teori pembangunan infrastruktur sebagai modal ekonomi. Jalan bukan sekadar aspal. Setiap kerusakan adalah hambatan aliran ekonomi, pendidikan, interaksi sosial. Setiap hentakan roda motor terasa seperti mengukur perlambatan produktivitas. Jalan bergelombang, lubang menganga, genangan air menahan langkah semua mengingatkan bahwa pembangunan yang tertunda adalah konsekuensi manajemen yang lupa menatap jauh ke depan.
Sambil menepi, sebuah lagu lama terngiang di kepala: “di pinggir jalan, kita menunggu yang tak kunjung datang”. Lagu itu bukan hanya nostalgia, ia menjadi suara pinggiran, menegaskan bahwa selalu ada yang menunggu, selalu ada yang tertunda. Jalan Oba bukan sekadar jalan ia cermin siapa yang diperhatikan, siapa yang dibiarkan. Genangan dan lubang adalah protes diam, kritik lembut yang menunggu didengar. Pemerintah Tidore, seolah tertidur di balik rutinitas, membiarkan pinggiran menua tanpa tindakan, padahal Jalan Oba menahan detak kota.
Langit sore itu tipis biru. Aroma daun basah dihembus angin. Cahaya matahari memantul di genangan. Indah, tapi menyakitkan. Keindahan alam tidak menutupi buruknya manajemen. Anak-anak menempuh sekolah, pedagang mengangkut dagangan, keluarga menyeberang dari rumah ke pasar semua ritme itu menunggu perhatian yang tertunda. Pinggiran bukan tamu, tapi tulang punggung.
Saya melaju perlahan, merasakan setiap getaran motor, menyadari Jalan Oba lebih dari aspal. Ia urat nadi mobilitas, ekonomi, keselamatan kota. Pemerintah harus bangun dari tidurnya birokrasi, memperbaiki jalan, drainase, memastikan proyek berjalan. Jalan Oba mengajarkan bahwa pembangunan yang tertunda bukan sekadar fisik yang retak, tetapi cerminan ketidakpedulian terhadap pinggiran.
TIDOR(E) bukan sekadar permainan kata. Ia kota bernama Tidore sekaligus alarm bagi pemerintah yang masih tertidur. Jalan Oba mengingatkan ketidakadilan terhadap pinggiran bukan hanya soal fisik yang retak, tetapi keputusan yang tertunda, tender yang molor, prioritas yang timpang. Setiap genangan air, setiap papan proyek yang diam, adalah bukti pinggiran dianak-tirikan. Padahal Meerow, mengingatkan, kota yang tangguh bukan hanya pusatnya yang bersinar, tapi pinggirannya yang didengar, yang disentuh, yang dilakukan dengan adil. (*)











